
"Apakah masih ada kopian dari desain ini?" tanya Aira.
Affan mengangguk.
"Masih ada. Jika kamu tidak berhasil merubahnya aku bisa memberikan desain yang sama." Affan menyerahkan dompet berisi alat tulis kepada Aira.
Setelah memiliki alat tulis yang dibutuhkan, Aira kemudian mengubah beberapa bagian yang sudah ditandai sebelumnya. Sebenarnya dia tidak merasa yakin apakah desain yang sudah diubahnya sesuai dengan yang diinginkan klien atau tidak. Namun, Aira berusaha untuk melakukan pekerjaannya dengan baik.
Saat satu bagian diubah, perbedaannya belum terlalu kentara. Tapi setelah beberapa bagian dihapus dan ditambahkan detail dari desain yang diperbaiki oleh Aira mulai terlihat. Hasilnya sangat memukau dan jauh berbeda dari desain awalnya.
"Aku bisa merubahnya lagi jika ini kurang bagus," ucap Aira sambil memberikan kertas desain yang telah selesai diperbaikinya.
Affan melihatnya penuh dengan kekaguman. Menurutnya ini sudah sempurna. Ada beberapa desain yang harus diubahnya tetapi mereka masih memiliki cukup waktu karena besok adalah hari Minggu.
"Ini sudah sangat bagus. Jika kamu tidak keberatan, aku ingin kamu memeriksa semuanya."
Aira mengangguk dengan cepat. Dengan membantu Affan secara tidak langsung dia bisa menyalurkan hobinya. Jika Affan tidak mencegahnya, Aira bahkan ingin menyelesaikan desain itu sekaligus saat ini juga.
Tidak ingin istrinya terlalu serius, Affan mengganggunya saat Aira sedang fokus mengamati kertas-kertas di hadapannya.
"Rasanya aku ingin menjadi kertas saja. Sepertinya istriku lebih tertarik untuk menatap kertas ketimbang suaminya ini." Affan merajuk.
Ucapan Affan membuat Aira menatapnya tak percaya. Baru kali ini dia menemukan sisi manja dari Affan setelah sekian lama. Setelah hal buruk bertubi-tubi menghampiri mereka, akhirnya Affan bisa mendapatkan ketenangannya kembali.
"Mas Affan ada-ada saja. Ya, beda lah. Aku menatap kertas-kertas ini untuk alasan pekerjaan, kalau Mas Affan untuk ...." Aira memikirkan kata-kata yang pas untuk melanjutkan kalimatnya.
"Untuk apa, hayo?" goda Affan.
Dia sangat senang saat mendapati wajah Aira memerah karena malu.
"Untuk memastikan ada jerawat tidak di sana," canda Aira.
"Pasti bukan itu yang mau kamu omongin sebelumnya, iya, kan? Hayo ngaku!" Affan masih terus menggoda Aira sambil memeluknya erat.
"Tidak ... Memang itu yang mau aku katakan," elak Aira sambil memanyunkan bibirnya.
Setelah beberapa hari tidak bermesraan, Affan merasa sangat rindu pada istrinya. Jiwa kelelakiannya bangkit saat dia sedang bersama Aira. Dia hanya bisa menciumi Aira saja tanpa berani melakukan hal lebih.
"Bahuku sudah sembuh, Mas. Tidak masalah jika Mas Affan ingin meminta hak padaku." Aira tahu jika Affan tidak akan tega meminta haknya.
"Tidak, Sayang. Aku bisa menahannya hingga kamu benar-benar sembuh." Affan berbicara dengan ritme nafas yang berbeda.
'Mas Affan masih menyangkal saja, padahal dia sangat tersiksa untuk menahan dirinya.' Aira tersenyum licik.
"Jika Mas Affan tidak menginginkannya berarti aku yang menginginkannya. Apakah Mas Affan akan menolakku?" tanya Aira.
Jari telunjuknya bergerak menyusuri seluruh wajah Affan dan berhenti di bibirnya. Mendengar kalimat mengundang Aira, Affan tidak sanggup lagi mengendalikan dirinya. Benteng pertahanannya perlahan runtuh oleh godaan dari Aira.
"Apa kamu serius, Sayang?" Affan belum merasa yakin dan takut membuat Aira merasa lelah.
Aira mengangguk dengan cepat.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Affan pun segera membawa Aira pergi ke kamarnya. Mereka menikmati momen manis sebagai pasangan setelah beberapa waktu berpuasa. Sebisa mungkin, Affan berusaha untuk tidak membuat Aira kelelahan.
Sebelum waktu ashar, Affan dan Aira telah selesai dengan ritualnya. Mereka mandi besar lalu sholat berjamaah. Sisa-sisa kekacauan yang mereka lakukan belum sempat mereka bereskan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Affan segera bangkit dan mengakhiri doanya. Dia tidak ingin ada orang yang masuk dan melihat tempat tidurnya yang berantakan.
"Maaf, Tuan. Maaf jika mengganggu istirahat, Tuan. Di luar ada tamu. Katanya dia teman Tuan namanya Firman," jelas Bi Sumi.
Affan langsung teringat dengan Firman dan Bella. Mungkin mereka ingin menanggapi tentang tawarannya tempo hari. Mereka juga pasti ingin melihat keadaan Sarah dan Safira.
"Oh, suruh dia masuk, Bi. Aku ganti baju sebentar," jawab Affan sambil melongokkan kepalanya ke luar pintu.
"Baik, Tuan." Bi Sumi merasa aneh dengan sikap Affan tetapi dia tidak ingin banyak berpikir.
'Aroma sabun mandi di tubuh Tuan sangat kuat. Masa, iya, dia sudah mandi lagi. Padahal tadi pulang kerja sudah mandi.' Tiba-tiba Bi Sumi tersenyum saat mengingat tentang dirinya waktu muda. Dia bisa memaklumi pasangan muda itu.
"Siapa, Mas?" tanya Aira sambil membereskan tempat tidur mereka.
"Bi Sumi, dia memberitahukan jika Firman datang kemari. Aku bilang suruh tunggu sebentar," ucap Affan sambil mengambil baju ganti untuknya.
"Apakah aku juga harus ke depan juga?" tanya Aira.
Affan menatap mata sayunya yang menandakan jika Aira sangat lelah.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja, Sayang. Kamu pasti lelah." Affan mengganti bajunya di depan Aira.
Aira memalingkan wajahnya karena merasa malu.
'Apakah semua pria juga seperti Mas Affan, ya? Tidak pernah malu-malu membuka baju di depan istrinya.' gumam Aira dalam hati.
"Kamu sudah biasa melihat lebih dari ini, Sayang. Kenapa kamu masih malu?" Affan memutar tubuh Aira agar menghadapnya.
Secara spontan Aira menutup matanya dan hanya memicingkannya saja. Dia tidak tahu jika Affan sudah berpakaian rapi. Tak ayal apa yang dilakukannya itu membuat Affan tertawaan.
Tidak ingin Aira cemberut, Affan segera mengecup keningnya lalu pergi.
'Hmm .... Mas Affan bisa jahil juga.' Aira menggeleng jengah.
Tubuhnya merasa sangat pegal dan sedikit lelah. Tidak baik tidur menjelang magrib. Aira memilih untuk mengambil pensil dan kertas lalu membawanya ke tempat tidur.
Dengan beralaskan buku agenda milik Affan, Aira bisa menggambar sambil duduk setengah berbaring. Dia hanya membuat sketsa saja. Namun, meskipun tanpa penggaris, gambarannya terlihat sangat rapi.
'Aku tidak berharap lebih dari kemampuanku ini tapi aku senang jika nantinya akan berguna. Dengan menggambarkan beberapa sketsa, aku tidak akan lupa dengan ide yang kupunya.' Aira bermonolog dalam hati sambil terus membuat sketsa desain.
Di ruang tamu,
Firman datang bersama dengan Bella. Mereka ingin bersilaturahmi sekaligus mengunjungi Sarah dan Safira. Bagaimana juga, anak-anak itu sudah seperti keluarganya sendiri.
"Kenapa kalian datang berdua saja? Dimana anak kalian?" tanya Affan setelah berbasa-basi sebentar.
"Dia tidak ikut karena ada jadwal les hari ini. Maklumlah, sudah kelas enam SD. Sebentar lagi persiapan ujian akhir," jelas Firman.
Affan mengangguk tanda mengerti.
"Maaf, Pak Affan. Bolehkah saya menemui Sarah dan Safira," ucap Bella meminta ijin.
Dia tidak ingin terlibat dengan obrolan para pria. Selagi Firman mengobrol bersama Affan, Bella ingin memanfaatkan waktu untuk bertemu Sarah dan Safira. Mereka bisa selesai dengan tujuan masing-masing lalu pulang dengan cepat.
"Oh, boleh-boleh. Aku panggil Bi Sumi biar mengantar kalian menemui Sarah dan Safira." Affan melambaikan tangan pada Bi Sumi yang kebetulan sedang lewat.
"Mas Firman tetap di sini, kog. Cuma aku saja yang mau menjenguk anak-anak," imbuh Bella.
Affan mengijinkannya. Bella diantar oleh Bi Sumi ke kamar Sarah dan Safira sedangkan Firman tinggal di ruang tamu bersamanya. Terkadang keinginan antara seorang pria dan wanita berbeda satu sama lain.
"Alhamdulillah, sudah lebih sehat. Tadi kami sholat berjamaah tapi aku melarangnya keluar karena dia masih butuh banyak istirahat.
Firman menganggukkan kepalanya. Wajahnya terlihat seperti sedang menahan rasa canggung. Sejak masih muda, Firman selalu sungkan untuk mengatakan maksudnya.
Melihat sikap diam Firman, Affan merasakan ada hal yang aneh. Sahabatnya itu memiliki kebiasaan yang unik. Dia tidak akan mudah mengatakan keinginannya meskipun sangat ingin mengatakannya.
"Bagaimana dengan tawaranku kemarin?" tanya Affan mengeluarkan pertanyaan yang mungkin saja mengarah pada tujuan Firman datang ke rumahnya.
Benar saja. Ekspresi wajah Firman berubah. Dia terlihat sangat senang seperti menemukan sesuatu yang sedang dicarinya.
"Aku sudah memikirkannya dan membicarakannya dengan Bella," jawab Firman. Dia tidak berbicara dengan kalimat yang panjang seperti yang diharapkan oleh Affan.
"Lalu?" tanya Affan lagi.
"Kami mau menerima tawaran dari kamu," ucap Firman malu-malu.
"Alhamdulillah. Kapan kalian bisa mulai bekerja? Aku akan datang ke kafe dan mengenalkan kalian kepada para karyawan di hari pertama kalian mulai bekerja." Affan terlihat sangat senang. Akhirnya dia bisa membantu sahabatnya yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Netti membawakan makanan dan minuman untuk mereka. Meskipun Affan tidak memintanya, asisten rumah tangga dirumahnya sudah paham. Mereka mengambil inisiatif untuk melakukan kebiasaan yang dilakukan oleh majikannya.
"Terimakasih, Mbak." Firman menyapa Mbak Netti.
"Sama-sama, Tuan. Silakan diminum." Setelah mengatakan itu, Netti segera kembali ke belakang.
"Silakan diminum, Fir. Nanti Bella biar menyusul." Affan mengambil gelas sirup miliknya. Kebetulan dia juga merasa kehausan.
"Iya, terimakasih." Firman pun mengambil gelasnya.
" Kira-kira hari Rabu aku akan mulai bekerja. Untuk kepastiannya, aku akan menghubungimu nanti." Firman menjawab pertanyaan Affan yang sempat terjeda oleh kehadiran Netti.
"Baiklah. Aku akan menunggu kabarmu. Jangan mendadak karena aku sering berangkat ke kantor pagi-pagi."
Firman mengangguk.
Mereka terus mengobrol hingga menjelang magrib. Affan mengundang mereka untuk sekalian makan malam di sana. Awalnya Firman menolak tetapi karena terus dipaksa akhirnya mereka mau.
__ADS_1
Setelah sholat magrib, Bi Sumi menyiapkan makan malam. Selain menu yang dimasak hari itu, Affan juga memesan beberapa masakan dari luar. Menurutnya, tamu yang datang harus disambut dan dijamu dengan baik.
Si kecil Safira terus mengikuti ke mana Bella pergi. Sesekali dia menanyakan keberadaan Hana kepadanya. Bella tidak tahu harus menjawab apa. Anak sekecil Safira tidak akan mengerti meskipun dia menjelaskan semua secara detail.
Affan terkenang akan masa kecil Faya yang juga sering bertanya padanya tentang keberadaan ibunya. Perbedaannya adalah Faya belum pernah bertemu dengan ibunya sedangkan Safira sebelumnya selalu bersama ibunya. Ruang makan mendadak dipenuhi oleh keharuan.
Faya berjalan mendekati Safira. Merasa senasib dengannya, dia ingin membuat Safira mengerti dan tumbuh dengan bahagia. Sebuah kebohongan tidak akan membesarkan hatinya, justru akan menjadi boomerang di masa mendatang.
"Safira, Sayang. Mamaku juga pergi jauuuh sekali sejak kakak masih bayi. Sama seperti mama Safira, mama kak Faya sudah berada di surga," ucap Faya dengan suara berat karena terharu.
Safira lalu menunjuk ke arah Aira. Mungkin dia ingin mengatakan jika, bukankah dia mama dari Faya.
Faya mengikuti jari mungil yang menunjuk Aira lalu tersenyum pada Safira.
"Dia juga mamaku tapi bukan yang melahirkanku. Kamu mengerti?" tanya Faya dengan suara lembutnya.
Safira mengangguk.
"Kalau begitu, bolehkah aku memanggilnya mama?" tanya Safira begitu polos.
Aira juga tertarik untuk mendekati Safira.
"Boleh. Kamu boleh memanggilku mama." Aira mencium pipi Safira.
Safira terlihat sangat senang. Dia lalu berlari menghampiri Mbak Sifa. Agar tidak mengganggu makan malam keluarga, Sifa membawanya pergi dari sana dan mengajaknya bermain di kamarnya.
Affan lalu mempersilakan Firman dan Bella untuk menikmati makan malam yang disajikan di atas meja. Jarak antara rumah Affan dan tempat tinggal mereka cukup jauh, Affan takut jika mereka kemalaman.
Sore itu mereka datang ke rumah Affan dengan naik taksi online. Mendengar hal itu, Aira meminta Affan untuk menyuruh sopirnya mengantarkan mereka pulang.
Percuma bagi Firman dan Bella untuk menolak karena sudah pasti Affan akan memaksa.
Sekitar pukul setengah delapan malam Firman dan Bella pulang dari rumah Affan. Sarah, Aira dan Faya juga turut mengantarkannya hingga ke depan pintu. Terlihat kesedihan di wajah Sarah karena harus berpisah dengan sahabat mamanya lagi.
"Sarah, kalau kamu merasa jenuh, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?" ucap Aira.
Faya menatap ayahnya dengan tatapan khawatir. Sebelumnya Affan memintanya untuk tetap di rumah dan mengurangi aktivitas luar. Dia tidak tahu jika penjahat yang mengancam keselamatan mereka telah tertangkap.
"Bagaimana kalau kita berenang saja? Kemarin katanya Sarah ingin belajar berenang. Mau kakak ajarin?" Faya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk juga pada Sarah.
"Mau, Kak," sahut Sarah dengan cepat.
"Wah, ide bagus ini. Kira-kira enaknya sambil bikin apa, ya?" Aira terlihat berpikir.
"Bagaimana kalau kita bakar ikan juga di dekat kolam renang," ujar Affan.
"Setuju!" seru Faya dan Aira hampir bersamaan.
Malam sudah semakin larut, mereka kembali masuk ke rumahnya. Sarah yang belum mengantuk ikut bergabung bersama keluarga Affan di ruang keluarga. Mereka melihat televisi dan bercerita bersama.
Faya mengambil permainan ular tangga dan memainkannya bersama dengan Sarah di kasur lantai sambil duduk lesehan. Sementara Affan dan Aira duduk dilantai dengan bersandar pada kaki sofa. Sesekali mereka ikut tersenyum ketika Faya dan Sarah bersorak atas kemenangan mereka.
Bosan bermain ular tangga, Faya mengambil papan catur. Mereka bermain hingga pukul sembilan malam. Affan meminta Faya membiasakan Sarah untuk tidak tidur terlalu larut.
Affan juga ingin cepat-cepat beristirahat. Rasanya dia sudah sangat mengantuk.
Di meja kamar dia melihat sketsa desain yang digambar oleh Aira tanpa penggaris. Meskipun belum memiliki ukuran yang pas tetapi cukup simetris. Dengan sedikit pembenahan maka akan menjadi desain yang menakjubkan.
"Wah, kamu tadi menggambar ini semua, Sayang?" tanya Affan.
Aira mengangguk.
"Tapi itu hanya sketsa saja, Mas. Aku tidak ingin kehilangan ide dan melupakannya jadi aku wujudkan dalam sketsa," ucap Aira.
"Menarik. Aku membutuhkan bantuanmu besok. Bolehkah, Sayang?" pinta Affan.
"Sekarang pun boleh," tantang Aira.
Affan mendengus sambil menggelengkan kepalanya. "Sekarang waktunya kita tidur. Aku sangat lelah, Sayang."
Aira tersenyum. Dia tahu maksud dibalik kata lelah yang diucapkan oleh Affan.
****
Bersambung ....
__ADS_1