Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 101. Dosen Tampan


__ADS_3

Affan bangun pagi-pagi dan membawa Aira untuk berjalan-jalan di taman samping. Mereka sekalian memeriksa lokasi yang akan digunakan untuk acara bakar-bakar nanti siang.


Dia juga meminta pekerja pria dan wanita di rumahnya untuk ambil bagian pada acara bakar-bakar. Affan ingin menikmati kebersamaan sebagai ungkapan rasa syukur atas segala nikmat yang mereka terima. Meskipun memiliki status yang berbeda tetapi mereka sudah dianggap seperti keluarga olehnya.


Sebelum acara di mulai, Affan dan Aira pergi ke ruang kerja untuk melanjutkan desain yang belum selesai. Mereka sudah selesai sarapan dan tinggal menunggu asisten rumah tangga mereka berbelanja. Bi Sumi khusus menyiapkan peralatan yang akan digunakan.


"Tidak perlu buru-buru, Sayang. Desainnya tidak harus selesai hari ini. Nanti juga bisa kita lanjutkan setelah bakar-bakar," ucap Affan saat melihat Aira sangat fokus dengan desainnya.


Tidak ada yang bisa dilakukannya selain melihat tangan mungil Aira menggerakkan pensil dan menyatukan garis-garis.


"Nanggung, Mas. Ini sedikit lagi selesai. Aku tinggal menambahkan detail di sini dan menggeser bagian ini saja. Habis itu sudah, selesai," jelas Aira.


"Sangat simple tapi menarik. Aku akan menunjukkan ini pada klienku, semoga dia menyukainya." Affan menyangga wajahnya dengan kedua tangannya sambil melihat Aira bekerja.


Pemandangan yang sangat langka di mana Affan mendapati wajah Aira yang sangat serius. Momen yang sangat langka ini diabadikannya dengan kamera laptopnya tanpa sepengetahuan Aira. Jika dia melihat Affan mengambil gambarnya, Aira akan kehilangan konsentrasinya.


Semakin hari, perasaan cinta Affan pada Aira semakin besar. Hatinya semakin yakin dan percaya jika Aira adalah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya. Selama ini Affan selalu bersabar dan menjalani ujian kehidupannya dengan ikhlas.


"Cantik," gumam Affan.


Matanya terus tertuju pada Aira bukan pada hasil desain yang diperbaikinya.


Aira menduga jika Affan memuji hasil pekerjaannya. Dia tidak tahu jika saat ini Affan sedang memandanginya dengan penuh kekaguman. Tidak butuh waktu lama, Aira telah menyelesaikan perbaikan yang dilakukannya.


Affan masih memandang Aira sambil terbengong. Dia baru tersadar saat Aira melambaikan tangannya di depan wajahnya.


"Ah, kamu sudah selesai, Sayang?" tanya Affan dengan ucapannya yang sedikit gugup karena ketahuan sedang melamun.


"Mas Affan ngantuk, ya? Dari tadi bengong aja," ucap Aira.


Affan segera melambaikan tangannya sebelum berbicara.


"Tidak, tidak! Aku terbengong karena terpesona olehmu," jujur Affan.


"Sejak kapan Mas Affan bisa menggombal?"


Niat hati ingin menggoda Aira, Affan malah yang dibuat tersipu. Dia tidak ingin lagi melanjutkan rayuannya. Baginya sangat sulit untuk menjadi seorang pria romantis.


Aira pun memutuskan untuk pergi ke dekat kolam renang. Di sana sudah ramai. Seluruh penghuni rumah sudah hadir di sana.


Faya dan Sarah terlihat sedang berenang sedangkan yang lainnya berada di taman samping. Affan sengaja mengaturnya demikian agar orang-orang yang berada di taman samping tidak bisa langsung melihat ke kolam renang. Setelah selesai berenang, Faya dan Sarah akan menyusul ke taman samping.


Setelah melihat-lihat ke taman samping, Aira membawa segelas jus lalu pergi ke pinggir kolam renang untuk menyusul Faya dan Sarah. Keduanya masih asyik berenang dan tidak melihatnya datang. Mereka baru melihat Aira saat keduanya menepi.


"Ayah mana, Ma?" tanya Faya sambil melepas kacamata renangnya.


Tangannya meraih bathrobe lalu berjalan keluar dari kolam renang. Sarah mengikutinya di belakang. Cukup lama mereka berenang dan akan mengulanginya kembali lain kali.


"Dia bergabung sama yang lain di taman samping." Aira tahu Affan pasti tidak ingin pergi ke kolam renang karena ada Sarah yang bukan mahramnya.


Tergoda dengan jus buah di tangan Aira, Faya menundukkan kepalanya dan ikut menyeruputnya. Tidak ada perasaan sungkan darinya. Sejak sebelum Aira menikah dengan ayahnya pun Faya sering berbagi minuman dengan Aira.


"Baiklah! Aku dan Sarah ganti dulu. Mama kalau kutinggal tidak apa-apa, kan?" tanya Faya takut jika Aira masih ingin ditemani di sana.


"Tidak apa-apa. Pergilah!" Aira tidak masalah ditinggal di sana sendirian. Dia masih ingin menikmati pemandangan di kolam itu.


Affan tidak menyusulnya karena berpikir Faya masih berada di sana bersamanya. Saat Faya dan Sarah datang ke taman samping dia baru menyadari jika Aira tidak bersamanya. Entah sudah berapa lama Aira tidak bersama Faya.


"Sayang, di mana mamamu?" tanya Affan merasa heran. Rasa takut kehilangan kembali menghinggapi hatinya.


"Aku pikir sudah kembali lagi ke sini. Tadi mama di kolam renang sama aku," jelas Faya.


Tanpa banyak bertanya lagi, Affan segera pergi meninggalkan taman samping. Dia menyusul Aira ke kolam renang. Wajahnya tampak semakin panik saat tidak mendapati Aira di sana.


Affan terus berputar-putar mencari keberadaan Aira tetapi dia melakukannya tanpa suara. Dia tidak ingin seisi rumah menjadi panik dan acara berkumpul mereka kacau. Seluruh sudut di luar rumah telah dia cari tetapi Affan tidak juga menemukannya.


'Apa mungkin Aira masuk ke dalam rumah, ya? Tenang Affan, tenang. Kamu tidak boleh panik. Aira tidak kemana-mana.' Affan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


Tidak ingin kehilangan jejak Aira semakin jauh, Affan berjalan cepat masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang. Dia berkeliling dari ruang tamu, ruang tengah, ruang kerja dan dapur. Tidak ada Aira di sana.


Tempat satu-satunya yang belum diperiksa oleh Affan adalah kamar mereka sendiri. Tangan Affan meraih gagang pintu dengan ragu lalu membukanya perlahan. Affan tidak segera melihat keadaan di dalam kamarnya takut kenyataan yang didapatkannya tidak sesuai harapannya.


Ternyata memang tidak ada Aira di sana. Affan berjalan gontai menuju ke tempat tidurnya. Kakinya terasa lemas seperti tidak bertulang. Lalu, Affan pun menjatuhkan tubuhnya di samping tempat tidur sambil mengacak-acak rambutnya karena merasa bingung dan frustasi.


Saat dia benar-benar putus asa, Affan mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ekspresi wajahnya berubah dengan cepat dan muncul kembali harapan jika suara gemericik itu adalah Aira yang sedang mandi. Affan berjalan mondar-mandir di depan kamar mandi, dia tidak sabar untuk melihat penggunanya keluar.


"Mas, kamu di sini?" tanya Aira merasa heran saat melihat Affan ada dikamar.


"Alhamdulillah!" seru Affan dengan kencang dan raut wajah yang bahagia.


Aira masih terlihat bingung tetapi dia berusaha untuk bersikap biasa.


"Kenapa, Mas? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Aira ingin tahu.


"Tidak, Sayang. Aku hanya takut kamu pergi meninggalkan aku. Tadi aku mencarimu di seluruh penjuru rumah tapi tidak menemukanmu." Affan mengatakan alasan kecemasannya.

__ADS_1


"Mana mungkin. Aku hanya pergi ke kamar mandi lalu bersiap untuk menyusul kalian ke taman samping," jelas Aira.


Kini wajah Affan terlihat malu-malu. Kekhawatirannya yang berlebihan membuatnya terlihat seperti orang yang bodoh. Tidak henti-hentinya dia bersyukur saat ini.


Sudah cukup lama mereka meninggalkan yang lainnya. Semua orang pasti kebingungan mencari mereka jika tidak segera kembali. Keduanya pun segera bergegas menuju taman samping untuk bergabung dengan yang lainnya.


Terlihat semua orang menoleh pada Affan dan Aira. Affan tidak ingat berapa lama pergi meninggalkan mereka, yang jelas lumayan lama. Sekarang semua makanan yang dipersiapkan sudah hampir selesai dibakar.


"Ayah, kapan kita mulai makannya?" tanya Faya dari kejauhan dengan suara setengah berteriak.


"Sekarang. Semuanya saja, silakan memulai untuk makan! Kita nikmati makan bersama ini. Bismillah," ucap Affan meminta semua orang mengambil makanannya.


Suasana terdengar gaduh. Mereka mengambil makanan sambil bercanda satu sama lain. Keakraban yang tidak dibuat-buat membuat mereka terlihat sangat rukun.


Affan dan Aira menunggu antrian agak senggang sambil membetulkan ikan dan daging yang hampir selesai. Setelah ini tidak ada lagi yang perlu untuk dibakar lagi.


Aroma wangi bumbu-bumbu yang terpanggang oleh bara membuat Aira tidak tahan untuk segera memakannya. Terlihat jelas dia menelan ludahnya ketika menahan diri untuk menunggu Affan selesai. Mengetahui hal itu Affan memintanya untuk pergi makan terlebih dahulu.


"Sayang, kamu pergilah makan. Ini biar aku yang mengipasi. Sedikit lagi juga matang." Affan mengulang ucapannya.


"Baiklah! Aku akan segera kembali ke sini." Aira berjalan menuju ke meja panjang di mana ikan dan daging yang sudah selesai dipanggang di sajikan dan ditata.


Dia mengambil ikan yang lumayan besar beserta lalapan dan sambal. Di bagian samping piringnya, Aira meletakkan nasi putih. Tidak lupa dia membawa segelas jus untuk mengatasi rasa haus di tengah makannya.


"Mas, aku suapi sekalian, ya?" tanya Aira sambil menyodorkan suapan pertamanya ke mulut Affan.


"Nanti kamu tidak kenyang," ucap Affan terlihat ragu-ragu menerima suapan Aira.


"Kan, nanti bisa nambah." Aira kembali meyakinkannya.


Affan pun akhirnya menerima suapan Aira. Makanan terasa lebih nikmat saat dinikmati bersama-sama. Setelah mendapatkan suapan dari Aira, dia menjadi malas untuk mengambil makanannya sendiri.


Faya yang telah selesai dengan makanannya dan juga telah mencuci tangan, datang menghampiri Affan.


"Dasar bayi gede. Ayah pasti tidak mau tangannya kotor. Udah, Ma, biar makan sendiri aja." Faya meledek ayahnya.


"Mamamu aja mau kenapa kamu yang sewot, Sayang?" Affan tidak mau mengalah pada Faya.


"Tidak baik terlalu manja sama istri. Nanti bisa-bisa rebutan sama anaknya. Kan, kasihan adikku nanti jadi kurang perhatian." Faya merendahkan kepalanya, mengusap dan melihat perut Aira dari dekat.


Aira tersenyum mendengar perdebatan konyol antara ayah dan anak yang terus berlanjut. Mereka terus saja berseloroh dan mengungkapkan apa yang ingin dikatakan tanpa malu-malu. Sisi romantis Affan dan Aira membuat para asistennya merasa kagum dengan pasangan beda usia di depannya.


Aira benar-benar menyuapi Affan hingga keduanya sama-sama kenyang. Seperti yang diucapkan Faya, Affan senang karena tangannya tidak kotor. Perutnya tiba-tiba menjadi kenyang saja.


Masih banyak sisa ikan dan daging yang telah matang. Affan meminta mereka untuk menambah. Jika sudah benar-benar kenyang, dia meminta untuk memberikan makanan itu pada pihak luar.


Pegawai prianya pun mematuhi perintahnya dan membagikan ikan dan daging yang masih utuh pada mereka. Sebelum dibagikan, Affan meminta Bi Sumi dan yang lainnya untuk mengemasnya dengan baik. Mereka menyimpannya di dalam box plastik lalu melengkapinya dengan sambal dan lalapan.


Dengan begini, para pegawai pria bisa mudah membagikannya. Ada beberapa satpam kompleks dan pemulung yang lewat. Sisanya mereka memberikan pada siapa saja yang menginginkannya.


"Alhamdulillah, semuanya sudah kenyang. Untuk membereskan alat-alatnya nanti sore saja." Affan tidak ingin membuat asistennya merasa kelelahan.


Mereka semua lalu masuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat. Aira pergi ke kamarnya sedangkan Affan ke ruang kerja untuk membereskan berkas-berkasnya yang masih berantakan. Besok dia harus sudah mulai bekerja.


Tidak butuh waktu lama, Affan pun selesai dan segera pergi untuk menyusul Aira. Saat sampai di kamar, Aira sudah tertidur lelap dengan pensil dan kertas di tangannya. Affan mengambilnya lalu meletakkannya di atas meja.


Affan pun merasa sangat mengantuk. Dia lalu ikut berbaring di samping Aira. Tangannya memeluk Aira dengan perlahan agar Aira tidak terbangun karena ulahnya.


***


Hari-hari keluarga Affan berjalan dengan tenang tanpa adanya gangguan lagi dari sekutu Sintya.


Setiap pagi mereka melakukan rutinitas baru yaitu berjalan-jalan di sekeliling kompleks perumahan. Meskipun tidak terlalu lama tetapi cukup untuk membuat keduanya berkeringat. Terlebih lagi Aira, perutnya yang semakin membesar membuatnya cepat lelah.


"Besok tidak usah jauh-jauh lagi, Mas," ucap Aira setelah mereka sampai di rumah.


"Maaf, tadi terlalu jauh, ya?" Affan mengambil sebotol air mineral yang selalu ada di meja ruang tengah lalu memberikannya pada Aira terlebih dahulu.


Aira mengangguk lalu meminum air yang diberikan oleh Affan.


"Atau kita berjalan-jalan di taman saja. Aku takut kamu nanti akan merasa lelah saat aku tidak ada di rumah. Kata dokter di usia kandungan mu yang sekarang sangat rawan kontraksi dini. Semoga saja anak kita nanti lahir normal pada waktunya." Affan terlihat sangat khawatir.


"Iya, Mas. Waktu perkiraan kelahiran masih dua bulan lagi. Aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat anak kita." Aira tersenyum sambil mengusap perut buncitnya.


Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Affan. Di antara rasa cemas, dia sangat menantikan kehadiran putranya. Setiap saat dia berdoa untuk keselamatan Aira dan putranya.


"Ya, sudah. Kamu istirahat dulu di sini. Aku akan pergi mandi dan bersiap," ucap Affan sambil melirik jam dinding.


"Ikut!" seru Aira manja.


Merasa gemas dengan istrinya itu, Affan segera menggendong dan membawanya ke kamar. Meskipun hamil besar, tubuh Aira tidak terlalu membengkak. Hanya perutnya saja yang buncit.


Sesampainya di kamar, Affan menurunkannya di atas sofa. Namun, Aira membuat ulah dan tidak ingin melepaskan tangannya. Alhasil Affan pun kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas sofa sebelahnya.


"Nak, mamamu nakal," adu Affan pada perut buncit Aira sambil menciumnya.

__ADS_1


"Habisnya ayah buru-buru mau mandi. Kalau mandi kan jadi ganteng terus mama masih berantakan. Jadi, mama merasa iri." Aira berbicara menirukan ucapan seorang anak kecil.


Affan merasa sangat senang ketika merasakan gerakan di dalam perut Aira ketika dia menempelkan kepalanya di sana.


Mereka tertawa bersama dan saling menggoda satu sama lain hingga beberapa menit. Rasa enggan mulai merayapi hati Affan, ingin rasanya dia terus bersama Aira. Namun, tanggung jawabnya begitu besar sehingga dia harus tetap bekerja untuk menjalankan perusahaannya.


Affan segera mandi setelah Aira melepaskan dan memintanya untuk mandi. Dia memang sengaja membuat aira merasa puas untuk bersamanya. Tidak masalah jika dia datang ke kantor sedikit siang, membahagiakan istri yang sedang hamil adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.


Seperti biasanya, Aira menyiapkan pakaian dan beberapa kebutuhan Affan untuk pergi ke kantor. Dia selalu memperhatikan penampilan suaminya agar terlihat berwibawa. Aira juga sudah hafal warna-warna kesukaan dari Affan serta kebiasaan-kebiasaan kecil yang jarang orang ketahui.


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit pagi ketika Affan selesai bersiap dan pergi ke ruang makan. Di sana sudah ada Faya dan Sarah yang hampir selesai sarapan. Mereka harus datang ke sekolah pagi-pagi sehingga tidak mendukung Affan yang bisa berangkat sesuka hati.


"Selamat pagi, Ayah, Mama!" sapa Faya ketika melihat kedatangan Affan dan Aira.


"Selamat pagi, Sayang," jawabnya.


Sarah terlihat ragu-ragu untuk menyapa mereka dia masih merasa canggung.


"Lanjutkan sarapan kalian. Nanti kalian bisa terlambat ke sekolah," ucap Affan.


"Wah, iya, sudah hampir jam tujuh." Faya meletakkan sendoknya dengan keras sehingga menimbulkan suara nyaring.


Dia lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Affan dan Aira untuk berpamitan. Sarah mengikuti apa yang dilakukan oleh Faya. Namun, dia hanya menyalami Aira saja karena tahu Affan pasti akan menolaknya bersalaman.


"Hati-hati, besok-besok kalian harus bangun lebih pagi agar bisa sarapan dengan tenang," ucap Affan.


"Iya, Ayah. Assalamu'alaikum," lanjut Faya.


"Wa'alaikum salam." Affan dan Aira menjawab hampir bersamaan.


Tempat kuliah Faya melewati sekolah Sarah sehingga mereka berangkat bersama-sama. Meskipun sudah memiliki mobil sendiri, Faya jarang menyetir. Dia memilih untuk diantar jemput oleh sopirnya. Seperti juga hari ini.


Sedikit orang yang tahu jika dia adalah anak orang berada. Penampilannya sangat sederhana, bahkan jarang sekali mengenakan barang-barang mewah ke sekolah. Dia lebih memilih membeli produk-produk lokal yang tidak kalah dengan kualitas internasional.


Di kampus Faya tidak memiliki banyak teman karena dia jarang bergaul bersama mereka. Selain kegiatan yang diwajibkan oleh kampus, dia tidak pernah berada di luar rumah. Dia lebih senang tinggal di rumah ketimbang nongkrong atau melakukan hal-hal yang tidak jelas.


Faya mengambil jurusan bisnis dan management. Setelah lulus dari universitas dia diminta untuk membantu ayahnya mengelola perusahaan.


Setelah mengantar Sarah ke sekolahnya, mobil Faya melalui jalan ramai yang sangat macet. Sudah dipastikan dia akan terlambat datang ke kampus. Namun, Faya terlihat santai karena yang mengajar adalah seorang dosen pengganti.


Dosen yang biasa mengajar di jam ini sedang cuti untuk melahirkan. Penggantinya adalah seorang dosen muda yang kira-kira berusia tiga atau empat tahun lebih muda darinya. Para mahasiswi sering kali menggodanya karena dia memiliki wajah yang tampan.


Faya berlari menuju ke ruang kelasnya karena dia sudah terlambat sekitar sepuluh menit. Sepertinya nasib baik sedikit berpihak padanya. Dosen tampan itu juga baru datang dan berjalan di depan pintu saat dia tiba.


"Selamat pagi, Pak! Maaf, saya datang terlambat." Faya tidak menunggu jawaban dosennya dan segera pergi ke mejanya.


Sayang sekali, meja Faya sudah ditempati oleh orang lain. Mungkin mereka berpikir jika Faya tidak masuk kuliah hari ini. Satu-satunya meja yang tersisa adalah meja paling depan.


Terpaksa Faya duduk di sana dan berada dalam jarak yang dekat dengan Pak Rendi. Di belakangnya teman-temannya berceloteh meledeknya karena datang bersamaan dengan Pak Rendi. Mereka tidak tahu jika Faya datang sendiri-sendiri.


"Apaan, sih, kalian. Aku tidak barengan, ya," sanggah Faya.


"Syukurlah. Aku pikir kamu jadian sama Pak Rendi. Bisa banyak yang patah hati dan iri sama kamu, Fay," ucap Rara, teman yang duduk di samping Faya tanpa malu-malu padahal Pak Rendi bisa saja mendengar ucapannya.


"Ngaco, aja. Mana boleh aku pacaran sama ayah." Faya menegaskan jika dia tidak ada hubungan dengan Pak Rendi.


Ucapan Faya membuat Pak Rendi menatapnya dengan tatapan yang sulit dipahami. Sebelumnya tempat duduk Faya yang berada agak belakang membuatnya tidak bisa melihat jelas wajahnya. Pak Rendi baru menyadari ada seorang murid wanita yang terlihat kalem dan berjilbab.


'Kog, aku baru sadar kalau ada dia di kelas ini. Sangat jarang aku melihat mahasiswi yang terlihat anggun dan tidak menggunakan riasan berlebihan. Ah, bicara apa aku ini.' Pak Rendi segera berpaling dan fokus pada buku-buku di hadapannya.


Ini adalah pertemuan ke-empatnya dia mengajar di kelas itu. Pak Rendi kemudian melanjutkan materi yang sudah diajarkan sebelumnya. Biasanya setelah penjelasan, dia akan memberikan kuis.


"Pada pertemuan sebelumnya, hanya sekitar empat puluh persen murid yang menguasai materi yang saja jelaskan. Aku berharap hari ini akan lebih meningkat. Kalian haru benar-benar memahami apa yang saya jelaskan untuk menjawab kuis di akhir pelajaran. Jawaban kalian menentukan seberapa besar kalian menguasai materi," jelas Pak Rendi.


"Siap, Pak," jawab siswa di kelas itu serempak.


Setelah mengatakan itu Pak Rendi segera memulai kuliahnya dan menuliskan pokok-pokok materi di papan tulis. Dari pokok-pokok materi tersebut, Pak Rendi menjelaskan kepada mahasiswanya dengan mendetail. Sebagian mencatat penjelasannya dan sebagian lain terpesona dengan dirinya yang terlihat sangat tampan.


Kebanyakan para mahasiswi kehilangan konsentrasinya dan lebih fokus pada wajah tampannya. Gaya bicaranya yang lugas dan jelas membuat materi yang disampaikan mudah dipahami. Sayangnya, sebagian orang terlalu santai dan tidak menganggap penjelasannya dengan serius.


Faya mencatat penjelasan Pak Rendi dengan cepat. Dia memilih untuk lebih fokus mencatat ketimbang melihat wajah dosen muda itu. Tidak dipungkiri, dia pun diam-diam mengagumi ketampanan wajahnya.


Pada pertemuan sebelumnya, Faya bisa menjawab sekitar tujuh puluh persen dari kuis yang diberikan oleh Pak Rendi. Hari ini dia berharap bisa menjawab lebih dari itu. Untuk itu, Faya berusaha keras untuk mengingat sambil mencatat materi yang dijelaskan.


"Kali ini saya akan memberikan kuis yang lebih banyak dari sebelumnya tetapi jawabannya bisa lebih singkat. Ada dua puluh lima pertanyaan yang harus kalian jawab. Tolong kamu maju ke depan dan membantu saya membagikan soal!" ucap Pak Rendi pada Faya.


Faya berpikir jika bukan dia yang dimaksud oleh Pak Rendi. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri tetapi teman-temannya malah menatapnya aneh. Akhirnya Faya memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Rendi.


"Saya, Pak?" tanyanya sambil menunjuk tangannya ke arahnya sendiri.


"Iya, kamu. Memang aku menunjuk kamu," ucap Pak Rendi dengan wajah yang sedikit kesal.


"Baik, Pak." Faya segera beranjak dari duduknya dan berjalan ke meja dosen untuk mengambil soal-soal.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2