
Aira mendongak ke arah Affan. Melihat tatapannya yang tajam membuatnya tidak berani untuk menentangnya. Percuma saja merahasiakan sesuatu dari Affan karena dia pasti terus mengejarnya dengan pertanyaan yang sama.
"Bukan masalah besar. Aku hanya merasa ...." Aira menoleh melihat ke sekelilingnya, takut ada yang mendengar obrolan mereka.
Affan ikut-ikutan melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat oleh Aira.
"Aku hanya merasa jika Sarah tidak menyukaiku. Bagaimana kalau dia berpikir jika akulah yang menjadi penyebab kematian ibunya." Aira berbicara dengan nada yang terdengar sangat sedih.
Affan meraih tangannya dan menggenggamnya erat untuk menguatkan hatinya.
"Tidak usah berpikir macam-macam. Kita bisa menjelaskan padanya jika sampai itu terjadi. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Aku yakin, Sarah hanya malu saja karena belum terlalu akrab dengan kita. Jika sudah kenal dan kesedihannya berkurang, dia pasti akan memperlakukan kita sama seperti memperlakukan Faya," hibur Affan.
Aira mengangguk. Seiring berjalannya waktu, dia akan tahu dengan sendirinya seperti apa cerita yang sebenarnya. Pelan-pelan, Aira akan mendekatinya dan menunjukkan jika dia sangat menyayanginya.
"Iya, Mas. Aku tidak akan memikirkannya lagi. Mungkin Sarah butuh waktu untuk bisa akrab dengan kita." Aira tidak ingin memikirkan sesuatu hal yang belum pasti.
***
Di tempat lain,
Bimo baru sampai di rumahnya. Setelah jam pulang kerja dia pergi ke kafe di depan kantor untuk bertemu dengan pemimpin bodyguard yang bekerja untuk Affan. Dia memberikan bukti tentang sindikat narkoba yang terhubung langsung dengan Sintya kepada mereka.
Aparat hukum yang berada di belakang para bodyguard itu adalah orang-orang bersih yang tidak pernah menjual jabatan untuk meraup keuntungan pribadi mereka. Namun, Bimo tetap meminta pada mereka untuk merahasiakan Affan dan dirinya sebagai sumber informasi-informasi itu. Perasaan Bimo terasa sedikit ringan setelah bukti-bukti itu berada di tangan yang berwenang.
"Assalamualaikum," sapa Bimo pada istrinya ketika dia telah sampai di kamar.
Putra kecilnya sedang terlelap ketika dia tiba. Bimo tidak buru-buru untuk mendekatinya sebelum dia mandi. Bayi sangat rentan terkena kuman yang mungkin saja terbawa olehnya.
"Wa'alaikum salam," jawan istri Bimo.
Bimo celingukan melihat ke sekeliling ruangan. Dia mencari-cari di mana sosok mertuanya berada. Biasanya mereka selalu berada di kamar Anissa.
"Ibu sama bapak kemana, Nis?" tanya Bimo.
"Oh, mereka tadi pamit ke luar untuk membeli bakso, Mas. Pasti sebentar lagi mereka kembali," jelas Anissa.
Bimo mengangguk.
"Ya, sudah. Aku mandi dulu, ya? Gerah banget rasanya." Bimo pergi meninggalkan Anissa yang masih berbaring di tempat tidur.
"Iya, Mas. Makannya nunggu bapak sama ibu datang saja. Sebentar lagi mereka pasti pulang."
"Aku tadi sudah makan. Sebelum pulang aku bertemu sama rekan kerja. Kamu aja yang makan sama mereka biar aku yang gantian jaga Fattah." Bimo menyempatkan menjawab ucapan Anissa sebelum pergi ke kamar mandi.
Anissa mengangguk. Dia tidak ingin berbicara lagi karena Bimo akan semakin lama mandinya jika terus mengobrol.
"Bapak sama ibu kog lama, ya. Sudah hampir satu jam mereka keluar. Apa warung di depan tutup, ya?" bisik Anissa bertanya pada dirinya sendiri.
Tidak lama setelahnya terdengar suara langkah kaki berjalan menuju ke arah kamar mereka. Anissa sangat yakin jika itu adalah kedua orang tuanya. Tidak biasanya mereka datang tanpa suara, mungkin mereka takut mengganggu Fattah yang sedang tertidur lelap.
Ibu dan ayah Anissa berjalan tergopoh dengan wajah yang terlihat sangat tegang. Mereka seperti orang yang sangat ketakutan. Dada keduanya terlihat naik turun seperti habis berlari.
"Ada apa, Pak, Buk? Kenapa kalian seperti habis dikejar-kejar anjing galak?" tanya Anissa dengan setengah bercanda.
Bapak dan ibu Anissa menggeleng. Mereka tidak menanggapi candaan Anissa seperti biasanya. Setelah merasa sedikit tenang, ibu Anissa mengambil air putih untuknya dan untuk suaminya.
"Sebenarnya kalian kenapa, sih?" tanya Anissa yang mulai curiga jika kedua orang tuanya benar-benar dalam masalah.
Belum juga ibu dan bapak Anissa menjawab, Bimo keluar dari kamar mandi. Dia belum menyadari ada yang aneh dengan mertuanya dan bersikap biasa. Tangannya masih menggosok-gosokkan handuk di kepalanya sambil berjalan menghampiri keduanya.
"Selamat malam, Pak, Buk," sapa Bimo sopan.
"I-iya, Nak Bimo." Suara gemetar ibu Anissa membuat Bimo mulai merasa ada yang aneh dengan sikap mereka.
__ADS_1
Lalu, Bimo menatap Anissa seolah ingin menanyakan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
Anissa mengangkat bahunya sebagai isyarat jika dia tidak tahu menahu tentang masalah ini.
"Bapak dan ibu baru datang. Mereka terlihat seperti orang ketakutan. Aku bingung kenapa mereka bisa begitu," jelas Anissa pada Bimo.
Bimo kini beralih menatap mertuanya.
Bapak Anissa berjalan menghampiri Bimo dan Anissa. Dia memberikan sebuah amplop kepada Bimo.
"Seseorang meminta kami untuk memberikan surat ini padamu. Mereka sangat menakutkan. Kelihatannya mereka bukan orang baik-baik," jelas bapak Anissa.
Bimo segera membuka surat itu karena merasa sangat penasaran. Tidak ada nama pengirim di sampulnya. Hanya ada secarik kertas didalamnya.
Tidak banyak tulisan yang tertera di kertas surat. Hanya ada satu kalimat saja yang berisi ancaman. Kelihatannya, sindikat yang berada di belakang Sintya juga berniat mengancam keluarganya.
Ibu dan bapak Anissa menceritakan tentang apa yang baru saja mereka alami. Mereka dihadang oleh dua orang berperawakan sangar yang bertanya tentang Bimo. Kedua pria itu mengancam akan menghabisi keluarganya jika mencampuri urusan mereka.
Di dalam surat kaleng yang diterima oleh Bimo dituliskan bahwa Bimo harus menyerahkan bukti tentang penyelidikan yang dilakukan oleh agen rahasia yang disewanya beberapa waktu lalu jika ingin keluarganya selamat.
Bimo segera mengambil ponselnya dan melaporkan apa yang terjadi pada Pak Kamil. Sebagai pemimpin bodyguard dan penanggung jawab atas kasus Sintya, tentu dia memiliki solusi untuk masalah ini. Bimo tidak ingin para penjahat menyentuh dan mengganggu keluarganya.
Pak Kamil berjanji akan mengirimkan bodyguard untuk Bimo dan keluarganya. Sebelum kasus Sintya benar-benar tuntas maka mereka harus tetap waspada. Dia juga berjanji akan menjamin keamanan keluarganya dengan bekerjasama dengan polisi.
"Bapak dan ibu tenang saja. Kejadian malam ini tidak akan terulang lagi. Aku sudah meminta anggota keamanan yang juga mengawal Pak Affan untuk berjaga di sekitar rumah. Sekarang kalian makan saja bersama Anissa biar aku yang menjaga Fattah." Bimo menenangkan keluarganya.
Mereka mengangguk. Meskipun sisa-sisa ketakutan itu masih ada di hatinya. Setelah mendengar penjelasan Bimo, mereka tidak perlu khawatir lagi dan mencoba untuk tenang.
Ibu Anissa berjalan pelan mengikuti langkah putrinya yang masih belum pulih sehabis melahirkan. Ruang makan tidak terlalu jauh dari kamar tetapi terasa lama untuk ditempuh karena Anissa yang tidak bisa berjalan cepat. Asisten rumah tangga Anissa telah menyiapkan makan malam untuk mereka dan menuang baso yang dibeli oleh orang tuanya ke dalam mangkuk besar.
Suasana masih terasa berbeda. Orang tua Anissa yang biasanya ceria mendadak jadi pendiam. Mereka memikirkan tentang keselamatan Bimo dan anak mereka ke depannya.
"Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh Bimo sehingga mereka mengancamnya seperti itu?" tanya ibu Anissa setelah mereka selesai makan malam.
Anissa tersenyum.
"Iya, Nak. Kita selalu mendoakan kebahagiaan, kesehatan dan keselamatan kalian. Semoga saja Fattah juga menjadi anak yang soleh dan sukses suatu hari nanti." Bapak Anissa mewakili ibunya mendoakan keluarga putrinya.
"Terimakasih, Pak. Bapak ibu juga harus selalu sehat dan bahagia agar bisa awet momong cucu." Anissa tersenyum kepada kedua orangtuanya.
Setelah selesai makan malam, keduanya kembali ke kamar mereka masing-masing.
Saat semuanya sudah terlelap, Bimo mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk menelepon Affan. Dia tidak ingin membuat istri dan mertuanya merasa khawatir. Keadaan semakin genting dan para musuh tak terlihat mulai mengancam keselamatan mereka.
Sesampainya di ruang kerjanya, Bimo segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
'Ternyata sudah jam sebelas malam. Kira-kira Boss Affan terkejut tidak jika aku meneleponnya? Hmm, belum lagi jika dia merahasiakan kejadian yang menimpanya tadi siang pada istrinya.' Bimo terlihat menimbang-nimbang.
Bimo akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja pada Affan untuk menceritakan hal yang baru saja dialaminya. Dia juga berpesan agar Affan tidak membiarkan Faya keluar tanpa pengamanan. Lengah sedikit saja maka musuh akan mengambil kesempatan itu dan menjadikannya senjata untuk melawan mereka.
Hampir sepuluh menit Bimo menunggu balasan dari Affan tetapi tidak juga ada balasan. Mungkin Affan telah tertidur pulas dan meletakkan ponselnya jauh dari tempatnya tidur. Akhirnya, Bimo pun kembali ke kamarnya dan menunggu balasan Affan sampai tertidur.
***
Pagi hari,
Affan baru memeriksa ponselnya sesaat sebelum pergi ke ruang makan untuk sarapan. Dia sedikit terkejut dengan pesan yang dikirimkan oleh Bimo tentang ancaman yang diterimanya. Mengenai Faya, sebelum Bimo memintanya dia sudah meminta Faya untuk berhati-hati saat berada di luar rumah.
Meskipun hari ini adalah akhir pekan tetapi Faya tidak berniat untuk pergi jalan-jalan selama libur dua hari. Dia baru akan datang ke kampus senin mendatang. Tugas-tugas telah selesai dikirim olehnya dengan melalui surat elektronik.
Affan lalu membalas pesan Bimo dan mengatakan jika dia turut prihatin akan apa yang menimpa keluarganya. Untuk menjaga mereka, Affan meminta Bimo untuk mengambil beberapa bodyguard dari Pak Kamil. Mengenai biayanya, Affan yang akan menanggungnya.
"Mas!" panggil Aira.
__ADS_1
Sebelumnya dis telah pergi ke ruang makan, melihat Affan tidak kunjung menyusul, Aira memilih untuk kembali menghampirinya ke kamar.
"I-iya, Sayang. Maaf tadi aku membalas pesan penting dari Bimo," ucap Affan.
"Apalagi ada masalah di kantor?" tanya Aira.
"Sedikit, tapi kamu tidak perlu khawatir. Kami bisa mengatasinya." Affan tidak mengatakan tentang ancaman yang mereka terima agar Aira tidak khawatir.
Faya sudah tahu masalah ini tetapi Affan memintanya untuk tetap merahasiakannya dari Aira.
Aira tidak banyak bertanya lagi dan membawa Affan ke meja makan. Sarah dan Faya sudah menunggunya dan belum memulai sarapannya sebelum Affan tiba di meja makan. Faya mengajarkan Sarah tentang sopan santun di meja makan.
Sikap Sarah sedikit berubah kepada Affan dan Aira. Dia tersenyum untuk menyambut kedatangan mereka.
Hati Aira menghangat saat melihat senyum Sarah. Kekhawatirannya semalam sungguh tidak beralasan. Nyatanya Sarah memang tidak membencinya dan memberinya senyuman.
Ekspresi wajah Aira membuat Affan merasa tenang. Istrinya itu kini sudah tidak bersedih lagi. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan saat dia dan Faya berada jauh darinya.
"Maaf, kalian pasti sudah menunggu lama. Ayo sekarang kita mulai sarapannya!" Affan mengambil piringnya dan memulai sarapannya.
"Ayah pulang jam berapa hari ini?" tanya Faya.
"Agak siangan. Hari ini, kan hari Sabtu." Affan menangkap kekhawatiran di wajah Faya.
Affan memberi isyarat pada Faya agar tidak memperlihatkan kekhawatirannya di hadapan Aira.
"Oh, aku lupa. Sudah lama kita tidak main badminton. Bagaimana jika nanti sore kita main badminton di halaman belakang?" Faya beralasan untuk menutupi kecemasannya.
"Siapa takut. Aku pastikan nanti kamu pasti kalah sama ayah." Affan tersenyum hingga memperlihatkan gigi-giginya yang putih.
Aira menggeleng saat melihat ayah dan anak itu tidak segera memakan sarapannya.
"Sudah, mengobrolnya nanti lagi. Kasihan Sarah jadi ikutan bengong melihat kalian mengobrol," omel Aira.
Affan dan Faya pun tersenyum. Mereka segera mengambil makanannya dan melahapnya dengan tenang. Sebisa mungkin mereka harus bersikap biasa agar Aira tidak curiga.
Aira makan dengan lahap dan mengabaikan tatapan aneh Faya kepada ayahnya. Hingga sarapan berakhir, dia tidak menyadari tentang perbedaan sikap Faya dan Affan. Sarah yang tidak tahu apa-apa mulai terbiasa dengan kehadiran Affan dan Aira di dekatnya.
"Sayang, ingat pesanku, kamu jangan banyak beraktivitas. Sebaiknya kamu beristirahat di kamar. Aku akan meminta Faya melaporkan apa yang kamu kerjakan di rumah jika kamu melanggar," ucap Affan dengan wajah yang serius.
"Iya, Mas, iya. Aku akan kelakukan apa yang Mas perintahkan," sungut Aira dengan wajah kesalnya.
Bibirnya yang maju ke depan membuat Affan merasa gemas. Untung saja di sana ada Faya dan Sarah sehingga Affan tidak berani menciumnya.
"Itu baru istri yang baik. Aku pamit dulu, jaga diri kalian baik-baik di rumah." Affan mengulurkan tangannya ke hadapan Aira lalu Faya.
Sarah menatap ke arah Affan tetapi dia tidak berani untuk memintanya memberikan tangannya untuknya.
"Maaf, Sarah. Meskipun kamu masih kecil kita bukan mahram. Om, pamit dulu, ya. Baik-baik di rumah sama tante Aira dan Faya." Affan menjelaskan hal mendasar tentang keyakinan yang dipegangnya.
Sarah mengangguk dan menghargai prinsip Affan.
"Baik, Om." Sarah masih irit bicara.
"Assalamualaikum," ucap Affan sebelum pergi.
"Wa'alaikum salam." Semua orang menjawab hampir bersamaan.
Affan menolak ketika Aira akan mengantarnya ke depan pintu. Meskipun sudah baik-baik saja Affan tetap meminta Aira untuk tidak banyak berjalan. Alasan yang klise tetapi Aira merasa wajib mematuhinya.
"Ayah semakin posesif aja sama kamu, Ma. Aku tahu mama pasti bosan jika harus tidur terus. Tenang saja, setelah ini mari kita memutar drama seri dari laptop. Aku akan membawanya ke ruang keluarga." Faya sangat rindu nonton drama berdua bareng Aira.
"Lalu Sarah?" tanya Aira pada Faya.
__ADS_1
****
Bersambung ....