
Affan memberi isyarat pada Bimo untuk diam. Mereka sepakat untuk menunda pembicaraan mereka agar tidak didengar oleh orang lain. Bimo kembali duduk dan berpura-pura sedang menunggu perintah Affan.
"Masuklah!" seru Affan ketika suara ketukan pintu kembali terdengar.
Pintu terbuka perlahan dan Hana muncul dengan setumpuk berkas di tangannya. Dia tampak kesulitan untuk membawanya karena sambil menggendong Safira.
Melihat sahabatnya terlihat kerepotan, Bimo segera datang untuk membantu.
"Kenapa tidak kamu taruh saja di ruanganku? Aku kan sudah bilang, berkas-berkas ini harus kusortir dulu sebelum aku serahkan sama Pak Affan." Bimo mengomel pada Hana.
Hana terlihat sedang memikirkan jawaban yang tepat karena sebenarnya dia sengaja datang ke ruangan Affan untuk mencari kesempatan agar bisa melihatnya.
"Maaf, ruanganmu kosong tadi. Aku takut berkas-berkas penting ini akan hilang. Bukankah aku yang harus bertanggung jawab jika semua itu terjadi?" Hana beralasan.
"Haish!" Bimo menggeleng. Dia tidak ingin berdebat dan memilih untuk memberi isyarat pada Hana untuk segera pergi dari hadapannya.
Tugas Hana hanyalah mengkopi file yang diberikan oleh pegawai yang mengerjakan. Secara otomatis yang diberikan kepada Hana hanyalah salinannya. Seharusnya Hana tahu akan hal itu dan hanya beralasan saja.
"Baiklah, saya akan kembali bekerja. Permisi!" Hana pamit undur diri dengan wajah yang sedikit kecewa. Dia tidak bisa masuk ke ruangan Affan.
"Hmm." Bimo mengangguk sambil berpura-pura fokus membolak-balikkan berkas di tangannya.
Setelah Hana pergi, dia kemudian berjalan kembali menghampiri Bimo. Ekspresi di wajahnya berubah. Dia terlihat seperti orang yang sedang bimbang.
Sebagai orang terdekat yang sangat mengenal Bimo, Affan bisa menangkap kegelisahan di wajah Bimo saat ini. Reaksi yang jauh berbeda dengan waktu sebelum Hana datang.
"Kamu kenapa, Bim? Aku mencium aroma asam dari wajahmu. Sepertinya kamu memiliki perasaan tidak biasa pada Hana. Ingat, istrimu sedang hamil besar, jangan kecewakan dia." Affan berbicara sambil menyatukan kedua tangannya di atas meja.
Ucapan Affan membuat Bimo menoleh kepadanya. Dia lalu meletakkan berkas di atas meja dan menggunakan tangannya untuk menopang wajahnya.
"Kayak peramal aja, Boss. Bukan itu yang aku pikirkan. Aku sangat merasa bersalah padamu. Tidak seharusnya aku membawa Hana masuk dan bekerja di sini," sesal Bimo.
Affan belum mengerti apa yang dikatakan oleh Bimo. Dirinya merasa jika tidak ada yang aneh dengan Hana meskipun Sintya mengatakan jika dia adalah simpanannya. Selama dia bisa menjaga diri tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Aku tidak mengerti maksud kamu," ucap Affan dengan kedua alis bertaut.
Bimo menggeser berkas di hadapannya sedikit ke samping. Kini kedua tangannya berada di atas meja, sama seperti yang dilakukan oleh Affan.
"Aku merasa jika Hana memiliki perasaan tidak biasa padamu, Boss. Tapi jangan salah paham dulu, aku mengatakan ini bukan karena aku cemburu atau apa. Kuakui di masa lalu aku memang menaruh hati padanya tetapi itu dulu ... Dulu sekali sebelum kami sama-sama berumah tangga."
Affan tertegun mendengar penjelasan Bimo. Sebagai seorang pria yang amat sangat tidak peka terhadap wanita, Affan tidak bisa merasa jika Hana memiliki perhatian khusus padanya. Menurutnya sikap Hana masih biasa saja dan tidak tampak mencari perhatian darinya.
Di tengah obrolan mereka Aira telah terbangun. Tadinya dia ingin keluar dan bergabung bersama mereka tetapi dia sangat ingin mendengar apa yang sedang mereka bahas. Aira mengurungkan niatnya dan berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka.
'Sepertinya tidak apa-apa kalau aku menguping. Aku ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Kalau aku muncul sekarang, mereka pasti akan berhenti bicara.' Aira tersenyum konyol merasa lucu dengan apa yang dilakukannya saat ini.
"Itu karena kamu terlalu cuek, Boss. Bagaimana bisa tau kalau kamu tidak pernah terpancing dengan hal-hal kecil yang seringkali dilakukan oleh wanita untuk menarik perhatian pria," jelas Bimo.
__ADS_1
"Begitu, ya. Selama dia tidak mengusikku aku tidak akan mempermasalahkannya. Semoga saja dia tidak seperti yang kamu khawatirkan. Kita berpikir positif saja dan tetap menjaga hati kita untuk orang yang kita sayangi." Affan mencoba bersikap dewasa menanggapi masalah ini.
Bimo mengangguk. Mungkin dirinya saja yang terlalu khawatir dengan hal yang belum tentu terjadi. Dia merasa terbebani mengingat bahwa dirinyalah yang membawa Hana ke perusahaan dan berpikir dia jugalah yang harus bertanggung jawab jika sesuatu hal yang buruk menimpa Affan.
Aira tersenyum mendengar jawaban Affan tetapi dia tidak bisa tinggal diam sekarang. Perasaan yang cinta yang kian bersemi membuatnya takut kehilangan. Setelah ini, dia akan menghalau siapapun yang berusaha untuk mendekati suaminya.
Bimo bersiap untuk melanjutkan ceritanya yang tertunda karena kedatangan Hana. Namun, baru saja dia membuka mulutnya, Aira muncul dari ruang istirahat dan berjalan menghampiri mereka.
Melihat sikap bengong Bimo, Affan yang berada di posisi memunggungi Aira menoleh ke belakang. Dia tersenyum menyambut Aira yang terlihat cantik dengan wajah polosnya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Affan.
"Sudah, Mas," jawab Aira sambil tersenyum.
Merasa dirinya hanya akan menjadi obat nyamuk di sana, Bimo memilih untuk pergi ke ruangannya sendiri untuk memilah berkas di hadapannya.
"Boss, aku selesaikan ini dulu, ya. Kalau ada perlu nanti telepon saja." Bimo merapikan tumpukan berkas dan membawanya di dada.
"Ok! Kalau tidak ada pekerjaan yang mendesak, kamu simpan saja dulu file-filenya." Affan beralih menatap ke arah Bimo.
"Siap, Boss. Nyonya, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum." Tidak lupa Bimo juga berpamitan pada Aira.
"Wa'alaikum salam." Affan dan Aira menjawab bersamaan.
Aira duduk di sofa dan menaikkan kakinya sambil mengelus perutnya. Setiap kali terbangun dia merasa lapar. Rasanya ada yang kurang jika dia tidak memakan sesuatu setelah bangun tidur.
Affan beranjak dari kursinya lalu pergi menyusul Aira. Dia mengusap kepalanya yang tertutup jilbab lalu duduk di sampingnya.
"Iya, Sayang. Apakah kamu menginginkan sesuatu?" Affan melingkarkan tangannya di bahu Aira.
Aira mengangguk lalu menatap Affan dengan bibir yang sedikit manyun. Wajahnya yang terlihat imut membuat Affan merasa gemas. Semakin hari pipinya terlihat semakin berisi.
"Kamu mau minta apa? Aku akan meminta Bimo untuk membawakannya untukmu," lanjut Affan.
Sepertinya bukan itu jawaban yang diinginkan oleh Aira. Aira menurunkan kakinya lalu menegakkan tubuhnya dan duduk dengan benar.
"Apakah kamu sibuk? Bagaimana kalau kita pergi berdua saja? Aku ingin tahu apa saja yang dijual di kantin ini." Aira terlihat sangat bersemangat.
"Boleh. Kita pergi sekarang." Affan mengabulkan keinginan Aira.
Aira mengalungkan tas kecil yang sebelumnya diletakkan di atas meja. Ada sejumlah uang tunai di dalamnya. Affan seringkali lupa memeriksa apakah ada uang tunai di dompetnya atau tidak.
Affan menggenggam tangan Aira saat berjalan. Pegawai perusahaan menunduk hormat setiap kali berpapasan dengan keduanya.
Ini adalah kali pertama bagi Aira pergi ke kantin perusahaan. Affan menyediakan lantai khusus untuk kantin dan para pedagang yang berjualan di area perusahaan. Dengan begitu segala kebutuhan karyawan tersedia di lingkungan perusahaan tanpa mengganggu aktifitas para pekerja.
"Waow! Keren sekali, Mas. Aku merasa seperti sedang berada di pusat perbelanjaan." Aira merasa takjub melihat kantin dan beberapa kios tertata rapi.
__ADS_1
Para penjaga toko terlihat sangat sopan menyapa keduanya dengan hormat. Meskipun Affan jarang datang ke tempat itu tetapi mereka sangat mengenalnya.
"Kamu bisa memilih apa yang ingin kamu beli, Sayang. Kita ke mana?" tanya Affan sambil terus berjalan.
Aira tergoda untuk membeli sop buah dan salad yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kita ke sana, Mas!" tunjuk Aira.
Hampir saja dia berlari dan melupakan jika saat ini dirinya sedang hamil. Terkadang Aira bersikap di luar kebiasaannya. Sesekali dia juga menjadi sangat cengeng dan manja, tidak seperti dulu yang selalu dewasa.
Bagi Affan ini sedikit aneh tetapi dia memakluminya. Seorang wanita hamil memang seringkali mengalami perubahan mood, kebiasaan dan selera dengan ketika sebelum dia hamil.
Depot es buah segar itu tampak sepi tetapi mengingat jam istirahat yang telah habis. Pelayan di sana terlihat sedang beres-beres dan merapikan dagangannya.
"Selamat siang," sapa pelayan itu pada Aira dan Affan yang telah duduk di sebuah meja.
"Selamat siang, boleh saya tahu menu yang dijual di sini?" tanya Aira.
Pelayan itu menyodorkan selembar kertas menu yang telah dilapisi plastik pada Aira. Ada beberapa varian beserta harganya tertera di dalamnya dengan gambar yang sangat menggoda.
Aira melihat kertas menu itu bersama Affan dan melihat detail isi dari sajian yang akan mereka pilih. Affan tidak menyukai semua jenis buah. Ada beberapa yang tidak dia sukai.
"Mbak aku sop buah tanpa nangka dan kiwi, ya," ucap Affan mengatakan pesanannya.
"Baik, Tuan." Pelayan mencatat pesanan Affan.
"Kalau aku salad buah lengkap saja, Mbak. Jangan terlalu asam." Aira memesan variasi yang berbeda.
"Baik, Nona." Pelayan itu kembali mencatat pesanan Aira.
"Saya permisi dulu, pesanan Anda akan segera kami antar." Pelayan itu undur diri.
Aira mengangguk sedangkan Affan menunduk. Pakaian pelayan itu terlalu seksi dan membuatnya merasa risih. Ada atau tanpa Aira dia tetap menjaga pandangannya.
"Aku akan meminta Bimo untuk mendisiplinkan para penjual di sini," ucap Affan.
Aira terlihat bingung. Dia tidak melihat ada yang salah dengan para pedagang itu dan tidak mengerti dengan keinginan Affan.
"Sepertinya mereka berjualan dengan disiplin di sini. Tidak ada keributan dan ... semuanya terlihat bersih dan rapi." Aira mengatakan sesuai apa yang dilihatnya.
"Bukan itu, Sayang. Aku tidak suka dengan cara berpakaian mereka. Seharusnya mereka berpakaian sopan demi martabat mereka bukan malah mempertontonkan tubuh mereka secara gratis." Affan sengaja berbicara dengan suara yang tegas agar pelayan yang berada di dekatnya mendengarnya.
"Jangan terlalu keras, Mas. Nanti mereka tersinggung," bisik Aira.
Depot buah ini terbilang baru. Para pelayan itu belum tahu jika Affan adalah pemilik perusahaan. Mereka saling melirik satu sama lain dan menatap Affan tidak suka.
"Kita tidak butuh pelanggan sok suci seperti dia," bisik salah satu pelayan kepada pelayan yang lain, tak terima dengan ucapan Affan.
__ADS_1
****
Bersambung ....