Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 80. Merajuk


__ADS_3

Di sepanjang jalan menuju ke ruang tengah Aira dan Faya terus berceloteh. Jika mereka sudah bertemu maka dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk berbicara jika tidak di minta. Ada saja yang dibahas oleh kedua wanita sebaya yang menyandang status berbeda itu.


Aira tidak menceritakan hal buruk yang menimpanya kepada Faya. Dia hanya bercerita seputar kafe dan hal-hal menyenangkan lainnya. Dirinya dan Affan akan tetap menemani Faya untuk makan meskipun mereka sudah makan di kafe.


"Non, makannya sudah siap!" panggil Bi Sumi pada Faya.


"Baik, Bi," jawab Faya.


Melihat Bi Sumi dan kedua asisten rumah tangganya belum tidur, Faya memanggil mereka dan mengajaknya ikut makan. Dia juga meminta dua sopir yang menginap di rumah itu untuk makan juga. Menu yang dibawa oleh Affan dan Aira begitu banyak. Faya takut jika makan-makanan itu akan mubazir nantinya.


Mereka merasa sangat senang. Rasa kantuk yang sebelumnya mereka rasakan menguap begitu saja. Selain makanan dari kafe, Aira juga meminta Bi Sumi untuk memberikan makanan yang dimasak hari ini untuk mereka.


Suasana di ruang makan menjadi ramai, meskipun hanya keluarga dan para pekerja yang tinggal di rumah itu. Seperti sedang ada sebuah pesta di rumah itu. Sesekali mereka bercanda sehingga membuat suasana menjadi akrab.


Faya, Affan dan Aira selesai lebih dulu. Mereka meminta para pekerja untuk tetap di meja makan dan menghabiskan makanan yang masih ada. Affan juga mengatakan jika mereka bebas untuk membuat minuman yang mereka sukai.


"Sayang, biarkan mamamu pergi mandi dan istirahat dulu. Kalian bisa mengobrol lagi besok." Affan mengingatkan Faya yang terus saja mengobrol bersama Aira.


"Iya, Ayah. Ini sudah malam juga, ya, ternyata. Besok aku ada kuliah pagi. Aku juga mau pamit dulu. Assalamualaikum, Ma, Ayah," Faya baru tersadar saat melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam," jawab Affan dan Aira hampir bersamaan.


Mereka bertiga pun kembali ke kamar masing-masing. Sebelum tidur Aira membersihan dirinya terlebih dahulu. Affan mandi di kamar tamu karena tidak ingin menunggu Aira selesai.


"Apa kamu lelah, Sayang?" tanya Affan saat menyusul Aira yang tengah berbaring sambil melihat ponselnya.


"Tidak, Mas. Bolehkah aku ikut lagi ke kantor besok?" Aira balik bertanya.


Affan menggeleng. Selama tidak ada Bimo, dia akan memegang seluruh pekerjaan. Dia takut Aira keberatan jika ditinggalkan untuk melakukan pekerjaannya.


Jawaban Affan membuat Aira kecewa. Tanpa banyak bicara lagi dia meletakkan ponselnya lalu tidur dengan posisi memunggungi Affan. Ini adalah wujud protesnya pada suaminya.


"Bimo, kan, tidak masuk. Aku pegang semua pekerjaan. Nah, aku takut tidak bisa memperhatikanmu nantinya karena terlalu sibuk." Affan mengatakan alasannya tidak mengijinkan Aira ikut ke kantor.


"Aku akan lebih bosan tinggal di rumah, Mas. Kalau di kantor, kan, aku bisa bantu-bantu untuk membereskan berkas dan lain-lain. Kalau Mas Affan istirahat aku bisa nemenin."


Gaya bicara Aira yang manja membuat Affan merasa gemas. Bagaimana bisa dia menolak keinginan istrinya lagi. Terlebih lagi dirinya sedang hamil.


"Baiklah, Sayang. Kamu boleh ikut ke kantor asal kamu tidak capek." Affan berbicara dengan lembut.

__ADS_1


Aira tersenyum penuh kemenangan. Dia memang tidak akan menyerah sampai Affan mengijinkannya. Seandainya tidak diijinkan maka dia akan tetap menyusulnya besok.


"Terimakasih, Mas. Aku ingin tidur sekarang." Aira memegang tanga Affan yang memeluknya.


"Aku juga."


Mereka terlelap malam itu.


Bimo mengambil cuti untuk satu hari saja. Dia tidak khawatir meninggalkan istrinya karena ibu dan juga mertuanya ada di rumah untuk menemaninya.


'Aku berencana untuk mengunjungi Bimo dan istrinya di rumah sakit sebelum pergi ke kantor. Tadi aku lupa mengatakannya pada Aira. Besok sajalah. Sebaiknya aku juga tidur sekarang.' Affan kembali memejamkan matanya.


Di rumah sakit, Bimo mendapatkan laporan perkembangan Sintya dari para detektif yang telah dia kirim. Dia merasa puas saat mengetahui jika polisi sudah mengetahui sepak terjang Sintya tanpa adanya laporan darinya.


Setelah ini jalannya akan semakin mudah untuk membuat Sintya tersingkir. Semua bukti-bukti yang dia miliki akan membuat posisi Sintya semakin sulit. Ancaman hukuman yang diterimanya tentu akan lebih berat dari yang diperkirakan.


'Aku tidak sabar untuk menyampaikan berita ini pada Boss Affan. Tidak mungkin aku mengganggunya malam-malam. Jika Nyonya mendengarnya semuanya bisa gawat.' Bimo tidak tahu jika Affan sempat bertemu dengan Sintya malam ini dan Affan juga tidak tahu jika saat menghentikan mobilnya Sintya sedang dikejar-kejar oleh polisi.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2