Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 39. Pergi ke Kantor


__ADS_3

Setelah hari itu, hubungan Aira dan Affan semakin dekat. Mereka tidak sungkan-sungkan lagi saling melemparkan pujian dan melakukan hal romantis ketika sedang berduaan.


Affan tidak segan lagi memberi atau meminta Aira sebuah ciuman. Namun, hingga saat ini mereka belum melakukan hubungan suami istri. Sebisa mungkin Affan menahannya agar acara syukuran itu terlaksana terlebih dahulu.


Hari ini Affan meminta sopirnya untuk menjemput Aira untuk mengantarkan makan siang untuknya.


Untuk memperlihatkan kesan dewasa, Aira memoles make up tipis di wajahnya. Meskipun tidak menor tetapi kesan dewasa itu terlihat dengan riasan natural dan lipstik warna nude di bibirnya.


Kedatangan Aira mengundang perhatian para karyawan perusahaan itu. Mereka bertanya-tanya siapa dirinya yang begitu berani memasuki kantor itu tanpa menunggu dipersilakan.


Sebenarnya Aira adalah orang yang ramah. Dia masih menyapa karyawan yang ditemuinya dengan menundukkan kepala dan tersenyum. Namun, para karyawan masih menggunjingnya dan menganggapnya tidak sopan.


Seharusnya Affan yang harus dipersalahkan untuk ini karena dia terus menelepon Aira meskipun dia tahu saat ini istrinya itu telah berada di kantornya.


"Mas Affan, aku sudah berada di lantai paling atas," ucap Aira memberitahukan posisinya.


"Ya, aku melihatmu," jawab Affan yang melihat Aira dari kamera CCTV.


"Kamu maju saja terus, sekitar tiga ruangan dari tempat kamu berada ada sebuah lorong. Kamu beloklah ke kanan dan lihat papan nama di atas pintu, Direktur Utama," jelas Affan.


"Baik, Mas."


Aira berjalan mengikuti arahan dari Affan dan tidak sampai lima menit dia sudah sampai di ruangan yang dimaksud.

__ADS_1


Baru saja Aira akan mengetuk pintu tetapi Affan sudah membukanya terlebih dahulu. Mereka sama-sama tersenyum saat saling berpandangan.


"Masuklah!" Affan mempersilakan Aira masuk dan mengikutinya di belakang.


Aira mengamati detail ruangan itu dan memberi penilaian. Rapi, sederhana, dan elegan. Tiga nilai yang dia sebutkan ini sebenarnya tidak cukup untuk menggambarkan seluruh keadaan yang ada di ruangan itu.


"Kantor ini begitu keren," puji Aira.


Setelah meletakkan makan siang Affan di atas meja, dia memegangi kursi kebesaran milik Affan.


"Kalau kamu mau, kamu bisa mencobanya. Kelihatannya kamu akan terlihat berbeda jika duduk di kursi itu," canda Affan.


"Mas Affan bisa aja." Aira terlihat salah tingkah.


"Jangan seperti ini, Mas. Ini di kantor. Malu jika sampai ada yang melihatnya," bisik Aira.


"Insyaallah, tidak ada Aira. Hanya Bimo yang sering masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu, tapi jangan khawatir dia sedang meeting di lokasi yang cukup jauh. Mungkin dia baru kembali setidaknya satu jam lagi." Affan membetulkan posisi duduknya.


Dengan berbagai alasan, Affan ingin Aira menyuapinya. Aira menurut dan melakukan perintahnya dengan baik. Meskipun gerakannya tidak begitu bebas, Aira tidak protes karena Affan terus memeluknya.


"Apa Mas Affan mau nambah lagi makanannya?" tanya Aira setelah selesai menyuapi Affan.


"Tidak, aku hanya ingin hidangan penutup saja."

__ADS_1


Aira terlihat bingung. Wajahnya begitu menyesal karena tidak membawa apa yang diinginkan oleh Affan.


"Kenapa? Kamu tidak rela memberiku sebuah ciuman kecil?" tanya Affan.


"T-tapi ...." Aira tidak bisa meneruskan kata-katanya karena Affan telah mengambil alih bibirnya.


Di luar prediksi Affan, Bimo datang lebih awal. Seperti biasanya dia langsung masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu dan melihat Boss-nya sedang berciuman.


Affan dan Aira terkejut ketika mendengar pintu terbuka lalu tertutup dengan cepat. Mereka melihat Bimo berdiri bersandar di pintu dengan tumpukan map dalam pelukannya.


"Maaf, Boss. Aku tidak melihat apa-apa," ucapan sambil meringis dan merasa salah tingkah.


***


Di perusahaan Roland,


Roland terus saja mengganggu proyeknya yang sedang dikerjakan oleh asosiasi pengusaha muda. Hingga saat ini dia belum tahu sedang melawan siapa.


Diam-diam pengawas khusus dari asosiasi pengusaha muda selalu merekam aksi sabotase yang dilakukan oleh orang suruhan Roland. Mereka tidak bisa menuduh tanpa bukti dan harus mencari tahu dalang dibalik gangguan-gangguan tersebut.


"Aku yakin kamu akan mengalami kerugian besar dan menjadi bangkrut Affan." Roland tersenyum jahat sambil menatap potretnya bersama Amanda.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2