
Hanya sedikit saja perbedaan antara Kayra dan Sintya. Postur tubuh Sintya lebih tinggi ketimbang Kayra. Selain itu hampir tidak ada perbedaan di antara mereka berdua.
'Bisa-bisa Boss Affan tergoda jika wanita ini ada di negeri ini. Semoga saja dia segera pergi dan berhenti mengejar Boss Affan. Kasihan nyonya Aira. Apalagi dia sedang mengandung.' Bimo mengawasi wajah Sintya yang terlihat tidak menyukai keberadaannya.
"Ada apa kamu datang kemari? Ini kantor bukan tempat bermain." Affan bicara tanpa menatap Sintya.
"Kamu pikir aku murid taman kanak-kanak? Tentu aku tahu ini kantor. Em, aku datang kemari untuk mencari pekerjaan. Aku tidak tahu bagaimana memenuhi kebutuhanku jika tidak bekerja." Sintya memasang wajah sedihnya.
Affan menoleh ke arah Bimo. Dia paling tidak bisa untuk tidak menolong orang. Jiwa sosialnya yang tinggi terkadang membuatnya kurang waspada.
Orang yang selalu mengingatkannya adalah Bimo. Tanpa diminta oleh Affan pun dia sudah tahu apa tugasnya. Seperti kali ini juga dia langsung tanggap ketika Affan menatapnya.
"Tuan Affan tidak tahu tentang lowongan pekerjaan di perusahaan ini. Saya dan bagian personalia yang mengurusinya. Jika Anda memiliki kemampuan maka kami akan menerima Anda bekerja sesuai dengan ijazah dan keterampilan yang Anda miliki." Bimo berbicara sesuai porsinya
__ADS_1
Affan mengangguk. Dia sependapat dengan Bimo.
"Seperti yang dikatakan oleh Bimo, kamu bisa membuat lamaran pekerjaan dan mengirimkan ke personalia. Setelah itu Bimo akan memeriksanya. Kamu bisa menunggu waktu untuk wawancara." Affan seperti memiliki kekuatan untuk kembali menolak.
Sintya merasa tidak puas dengan jawaban dari Affan dan Bimo. Menurutnya kedua orang itu sudah bersekongkol untuk menolaknya secara halus. Dia bangkit dari duduknya dan memukul meja dengan keras.
"Apakah kamu lupa siapa aku? Aku adalah sepupu istrimu. Aku tahu kamu seperti ini pasti karena wanita udik itu, kan? Aku hanya ingin bekerja untuk memenuhi kebutuhanku tidak lebih. Sungguh kamu tidak memiliki rasa belas kasihan, Affan." Sintya berbicara sambil menangis kali ini dia berharap Affan akan menjadi luluh dan merubah keputusannya.
"Bukankah kamu memiliki banyak aset dan harta peninggalan keluargamu, Sintya? Kamu bisa menggunakannya sebagai modal untuk memulai usaha. Tanpa harus menjualnya pun kamu bisa meminjam dari bank dan menjadikannya sebagai jaminan." Affan belajar untuk tidak terpengaruh meskipun harus berperang dengan rasa kasihan.
"Aku tidak menyangka jika kamu akan setega ini. Kupikir kamu masih menganggapku sebagai keluarga tapi nyatanya itu hanya anganku saja. Setelah kematian Kayra kamu tidak sama dengan Affan yang kukenal dulu." Sintya memperdalam isaknya.
Affan kembali menatap ke arah Bimo. Dia paling tidak tahan melihat seorang wanita menangis. Hatinya yang lembut tidak sanggup untuk menghadapi keadaan ini.
__ADS_1
"Aku masih banyak pekerjaan lakukan saja apa yang dikatakan oleh Bimo." Affan kembali menatap Bimo.
"Bim, tolong kamu masalah ini aku pergi dulu." Affan beranjak dari duduknya.
"Baik, Boss." Terpaksa Bimo menghadapi Sintya sendirian.
"Affan!" panggil Sintya yang menyusulnya berdiri. Dia mengikuti ke mana kaki Affan melangkah.
Bimo tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Sintya. Dia pun ikut mengejar keduanya yang berjalan sangat cepat menuju ke ruangan Affan.
Karyawan perusahaan yang kebetulan lewat melihat ketiganya dengan penuh tanya. Sintya adalah orang baru bagi mereka.
****
__ADS_1
Bersambung ....