
"Tante mau minum apa?" tanya Faya setelah keduanya duduk di ruang tamu.
Faya tidak membawa Sintya ke ruang keluarga karena dia belum mengenalnya dengan baik. Ayahnya selalu bilang bahwa dia harus berhati-hati dengan orang yang baru dikenalnya.
"Minuman dingin saja, Sayang," jawab Sintya dengan tangan yang sibuk mengelap air mata buayanya.
"Baik, tunggu sebentar." Faya beranjak untuk meminta asisten rumah tangganya membuatkan minum untuk Sintya.
Tidak lama kemudian Faya kembali dan mendapati Sintya sedang berdiri dan menyentuh benda-benda yang menarik perhatiannya.
"Jadi kalian juga sering liburan ke luar negeri?" tanya Sintya dengan mata berbinar.
"Dulu, Tante. Sebelum aku tahu apa arti berhemat," jujur Faya.
Setiap tahun dulu Faya meminta ayahnya untuk membawanya jalan-jalan ke luar negeri. Pergaulannya bersama teman-temannya membuatnya mengikuti gaya hidup mereka. Namun, setelah dia belajar agama dia lebih memilih menggunakan tabungannya untuk kegiatan amal.
"Memangnya kenapa kamu sekarang tidak jalan-jalan ke luar negeri? Kamu bosan, ya?" tebak Sintya.
Faya menggeleng.
"Sayang sekali uang yang aku buat liburan bisa sangat berguna untuk orang yang membutuhkan."
Obrolan mereka terhenti ketika Netti datang membawakan minuman dan makanan ringan untuk Sintya.
'Bisnis Affan terus berkembang. Aku yakin hartanya sangat banyak. Aku harus mencari cara untuk bisa tinggal di sini dan merayunya. Kurasa kecantikanku masih di atas kecantikan istrinya. Dengan sedikit pancingan, dia pasti akan tergoda.'
__ADS_1
Sintya menikmati minuman dan camilan yang disuguhkan untuknya. Dia lupa makan siang karena sibuk membereskan rumahnya yang berantakan.
Asisten rumah tangga yang tinggal di rumahnya memang sudah memasak untuknya tetapi dia tidak menyukai masakan Indonesia.
"Badan kamu terlihat kurus, Faya. Apakah ibu tirimu tidak mengurusmu dengan baik. Lagian Affan memilih istri seorang bocah, mana tahu dia mengurus keluarga," omel Sintya mulai menggiring Faya untuk membenci Aira.
"Mamaku baik, masakannya juga enak, aku senang ayah menikah dengan Aira. Biarpun kami sebaya tetapi dia bisa diandalkan dalam mengurus banyak hal," puji Faya.
Hasutan Sintya mental begitu saja karena Faya memang benar-benar menyayangi Aira dan menerimanya sebagai ibu sambungnya.
"Oh, ya? Kamu bicara seperti ini bukan karena takut pada ayahmu, bukan?"
Faya tersenyum lalu menggeleng tidak habis pikir. Tantenya seharusnya tidak ikut campur dalam masalah di keluarganya. Menurutnya ini sudah melampaui batas.
"Sudahlah, Tante. Tidak perlu memancingku dengan hasutanmu. Aku ikhlas menerima pernikahan ayahku. Ingatlah posisimu, Tante. Kamu bukan siapa-siapa bagi kami dan tidak berhak ikut campur dalam urusan keluarga kami."
"Ternyata mulutmu pedas juga, ya? Menyesal aku berbaik hati ingin merawatmu jika kamu tidak bahagia dengan kehidupanmu."
"Tante saja tidak bisa membuat hidup bahagia, bagaimana mungkin akan membahagiakan aku?" Faya menabuh genderang perang dengan orang yang berusaha memecah belah keluarganya.
"Kamu akan menyesal mengatakan itu, Faya. Ibu tirimu hanya menginginkan harta ayahmu. Kamu pasti akan kehilangan semuanya nantinya." Sintya masih tidak ingin menyerah.
"Harta, kedudukan dan semua yang kita miliki hanya titipan, Tante. Atas kuasa Allah semuanya bisa terjadi. Kita harus ikhlas untuk menerima segala ketentuan-Nya." Faya mencoba untuk tetap bijak dalam menghadapi Sintya.
'Anak ini, sama saja dengan ayahnya yang sok agamis itu. Aku butuh stok kesabaran untuk menghadapi keluarga ini. Untuk hari ini aku rasa cukup. Aku akan kembali kemari besok.'
__ADS_1
"Aku salut padamu, Faya. Ternyata keponakanku ini sudah dewasa sekarang. Jangan kamu ambil hati semua ucapan tante, ya. Tadi tante hanya mengujimu saja."
Merasa tidak berhasil dengan hasutannya, Sintya berpura-pura jika yang dikatakannya hanya sebuah trik untuk menguji Faya.
Sikapnya yang berubah-ubah membuat Faya merasa aneh. Dia bertanya-tanya dalam hati dan menilai jika Sintya mengalami gangguan psikis.
Sintya beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pulang.
"Terimakasih atas kedatangannya, Tante."
"Lain kali tante pasti datang mengunjungimu lagi. Sekarang tante tinggal di Indonesia."
Faya tidak menjawab ucapan Sintya. Sejujurnya dia tidak menyukai sepupu ibunya itu, walaupun begitu dia tidak ingin menunjukkannya.
Mobil Sintya keluar dari halaman rumah Affan dan berpapasan dengan mobil Affan di jalan depan rumah mereka.
Affan tidak mengenali mobilnya dan berpikir jika itu adalah mobil teman Faya.
"Mas, itu mobil siapa?" tanya Aira. Sekilas dia melihat pengemudinya dan merasa tidak asing.
"Mungkin teman Faya," jawab Affan sambil terus berkonsentrasi menyetir dengan hati-hati memasuki halaman rumahnya.
****
Bersambung ....
__ADS_1
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.