Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 61. Mulai Beraksi


__ADS_3

Ketika Affan dan Aira memasuki rumah, mereka sudah tidak melihat Faya. Dia sudah pergi pergi ke kamarnya.


Bi Sumi mendekati Affan dan mengambil barang belanjaannya. Beberapa di antaranya adalah belanjaan pribadi yang harus dibawa ke kamarnya.


Setelah selesai membantu Aira menata barang, Bi Sumi tidak segera pergi. Dia berjalan menghampiri Affan yang baru saja kembali dari kamar mandi.


"Tuan, maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya ingin menyampaikan sesuatu," ucapnya.


"Ada apa, Bi?" Affan mengernyitkan dahinya.


"Tadi ada seorang wanita datang kemari. Dia mengobrol bersama Non Faya. Kalau tidak salah tadi dia bilang kalau sepupunya almarhum nyonya," jelas Bi Sumi.


Affan dan Aira saling berpandangan. Mereka tidak menyangka jika Sintya akan datang kemari.


"Berarti mobil yang kita temui di depan tadi punya dia, Mas."


Affan masih terlihat berpikir dan tidak langsung menjawab ucapan Aira. Dia sendiri tidak bisa melihat dengan jelas siapa pengemudi mobil yang berpapasan dengan mereka.


"Benar, Nyonya. Mobilnya keluar sesaat sebelum Tuan dan nyonya datang." Bi Sumi kembali bicara.


"Terimakasih informasinya, Bi. Semoga dia tidak membuat kekacauan. Aku merasa jika Sintya memiliki niat yang tidak baik bagi keluarga saya." Affan tampak menghela nafas.


Masalah Amanda baru saja terlewati kini kembali muncul wanita lain yang mencoba untuk mengusiknya. Affan takut jika wanita itu akan menyakiti Aira.

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Bi Sumi meminta diri untuk kembali bekerja. Tinggal Affan dan Aira di kamar itu.


Aira terlihat berpikir sambil menata ulang beberapa barang yang sebenarnya sudah terlihat rapi. Dia melakukannya karena hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aira, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk merahasiakan apa pun darimu. Aku juga tidak tahu jika Sintya akan tiba-tiba muncul. Selama ini dia tinggal di luar negeri bersama suaminya."


Aira meletakkan barang yang dipegangnya lalu berbalik menatap Affan yang sudah berdiri di belakangnya.


"Apakah Mas Affan mengenalnya?" tanya Aira menahan perasaan cemburunya. Terlintas kembali bayangan saat Sintya memeluk suaminya.


Affan meraih Aira ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepalanya dengan lembut.


"Aku mengenalnya sebatas kenal saja. Aku tidak dekat. Begitu juga dengan Kayra, mereka tidak dekat."


Penjelasan Affan membuat Aira merasa lega. Banyak hal yang belum dia tahu dari kehidupan Affan dan kehadiran Sintya adalah salah satunya.


***


Kafe itu menyatu dengan sebuah bar dan terhubung satu sama lain. Seorang pelayan datang menghampiri Sintya dan menyodorkan buku menu untuknya.


Mengingat seharian ini belum makan, Sintya memesan makanan untuk mengganjal perutnya.


Matanya mengamati orang yang lalu lalang di hadapannya. Mereka tidak segera pulang setelah selesai makan.

__ADS_1


'Sepertinya bar itu cukup ramai. Aku bosan. Lebih baik aku ke sana setelah makan.' Sintya tersenyum.


Kehidupannya di luar negeri sangat bebas. Dia dan suaminya biasa pergi ke pesta-pesta yang syarat dengan alkohol dan obat-obatan.


Tidak banyak yang tahu jika kekayaan yang dihasilkannya sebelumnya didapatkan dari mengedarkan obat terlarang dan narkotika.


Setelah selesai makan Sintya benar-benar pergi ke bar. Penampilannya yang terlihat lugu membuat sebagian orang menertawakannya.


'Sial! Gara-gara ingin menemui Affan, pakaian ku dianggap terlalu sopan.'


Tidak ingin menjadi bahan ejekan, Sintya pun merubah penampilannya dengan membuang sweater dan membuka ikat rambutnya. Rambutnya tergerai indah.


Lekuk tubuhnya membuat para pria memandanginya dengan terpana. Satu persatu mereka berjalan mendekati Sintya.


'Waow! Sepertinya aku bisa dengan mudah menarik para pengguna di sini. Aku butuh biaya hidup. Lama-lama tabunganku akan habis jika aku tidak berjualan lagi.' Sintya tersenyum miring.


****


Bersambung ....


Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.


__ADS_1




__ADS_2