
Faya segera menceritakan apa yang terjadi pada Affan. Sayangnya dia tidak sempat menghafalkan nomor plat kendaraan yang membawa Aira.
Tidak ingin kehilangan jejaknya terlalu jauh, Affan segera melaporkan kejadian ini pada yang berwajib. Kebetulan kompleks perumahan mereka dekat dengan kantor polisi.
Para polisi segera bertindak dan menyelidiki mobil yang dikendarai oleh penculik melalui kamera CCTV yang berada di sekitar komplek. Mereka berhasil mengantongi beberapa informasi penting dan segera mengerahkan pasukan untuk melakukan pengejaran.
Affan pulang ke rumahnya dengan hati yang gelisah. Hingga jam delapan malam polisi belum juga memberinya kabar. Dia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya sambil terus berdoa untuk keselamatan Aira.
Beberapa kali Affan melirik ponselnya dan berharap ada pesan atau panggilan. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu dan mencari di mana ponsel Aira berada. Ponselnya tidak di rumah berarti dia membawanya saat penculikan terjadi.
Meskipun tidak bisa menerima panggilan, setidaknya Affan bisa menemukan keberadaan Aira dari lokasi yang diaktifkan di ponsel Aira.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Ini bisa menjadi petunjuk untuk hamba." Affan segera bersiap dan tanpa pikir panjang segera berangkat menuju ke lokasi.
Dia tidak berpikir untuk memberitahu polisi terlebih dahulu sebelum dirinya sampai di lokasi dan memastikan Aira ada di sana.
Malam itu hujan turun dengan derasnya dan menghalangi jarak pandang. Affan tidak bisa menyetir dengan cepat dan harus memikirkan keselamatannya juga.
Dia melihat titik lokasi penyekapan Aira masih berada di dalam kota. Mobilnya berhenti di depan sebuah apartemen yang tidak asing baginya. Kemungkinan besar Aira berada di sana.
"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk denganmu, Aira."
Setelah memarkirkan mobilnya, Affan berlari menerobos hujan menuju ke apartemen itu. Penjagaan di sana tidak begitu ketat sehingga dia bisa masuk dengan leluasa.
Affan mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menemukan titik yang akurat. Titik itu tidak bergerak lagi meskipun dia telah berjalan berputar-putar.
"Tolong! Lepaskan! Tuan aku mohon lepaskan aku."
"Berteriaklah sesukamu! Suamimu tidak akan bisa menolongmu. Dia pasti sedang mengikuti mobil yang membawamu ke luar kota. Hahaha!"
__ADS_1
'Aira! Aku yakin itu suara Aira.'
Sayup-sayup terdengar suara orang meminta tolong saat Affan berdiri di depan sebuah pintu. Dia kemudian menempelkan telinganya pada satu pintu ke pintu yang lain untuk menemukan pemilik suara itu.
Affan bergerak dengan cepat dan akhirnya menemukan ruangan dari mana suara itu berasal.
Suara tangisan wanita itu masih terdengar. Affan sangat yakin jika itu adalah suara istrinya.
Affan melangkah mundur mengambil jarak lalu dengan sekuat tenaga dia mendobrak pintu kamar di hadapannya.
Pintu apartemen terbuka dan menampilkan pemandangan yang mengiris hatinya. Wanita yang sangat disayanginya terkapar tak berdaya dengan pakaian yang berantakan dan jilbab yang terlepas entah di mana.
Seorang pria yang sangat dikenalnya menindih tubuhnya dengan kondisi yang tidak pantas dilihat oleh mata.
"Kurang ajar!" Affan menjadi gelap mata dan menghajar pria itu membabi buta.
"Kamu yang kurang ajar!" pria itupun berteriak dan membalas pukulan Affan.
"Aku tidak menyangka jika kamu sejahat ini, Roland! Kamu tega menodai istri sahabatmu sendiri."
Affan terus memukulnya hingga Roland tidak memiliki kesempatan untuk membalas ucapannya.
Diam-diam Aira menyelinap keluar untuk meminta bantuan tetapi belum juga kakinya melewati pintu, beberapa orang petugas imigrasi datang ke sana.
Mereka memeriksa pasport, visa, dan kelengkapan identitas yang lainnya. Setelah diperiksa ternyata Roland hanya menggunakan visa turis yang telah habis masa aktifnya.
Kejadian ini membuatnya selamat dari amukan Affan. Tidak ingin berurusan dengan mereka, Affan memilih untuk membawa Aira pergi meninggalkan apartemen Roland.
Affan melepaskan jaketnya yang memang sudah setengah basah dan memakainya untuk memayungi kepala mereka. Hujan yang sangat lebat membuat keduanya basah kuyup saat sampai di dalam mobilnya.
__ADS_1
"Aira kamu tidak apa-apa?" tanya Affan.
Aira menggeleng. Air matanya masih terus mengalir di pipinya membuat Affan merasa iba.
Tangan Affan meraih pipi Aira dan mengusap air matanya.
"Maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik."
Aira bergerak cepat dan memeluknya dengan erat. Tangisnya semakin keras mengingat hal menakutkan yang baru saja dialaminya.
Affan menghibur Aira dengan kata-kata yang lembut hingga dirinya merasa tenang. Setelah Aira berhenti menangis, Affan menjalankan mobilnya untuk pulang. Namun, sebelum itu Affan menelpon polisi dan memberitahukan jika istrinya telah ditemukan.
Mobil mereka melaju lambat di tengah hujan lebat. Mereka baru sampai di rumah saat hari hampir tengah malam.
Tubuh mereka yang basah kuyup oleh air hujan membuat mereka harus mandi sebelum tidur. Aira mandi lebih dulu dan melaksanakan sholat yang telah terlewat.
Affan telah bersembunyi di dalam selimut ketika Aira datang ke tempat tidur. Rasa bersalah atas kesalahan yang tidak dilakukannya membuat Aira menangis.
"Mas Affan. Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga auratku ...," ucapan Aira terhenti saat Affan meletakkan telunjuk jarinya di bibir Aira.
Bayangan Roland yang sedang mencumbu Aira membuat Affan merasa emosi. Dia berpikir Roland telah menodai Aira. Untuk menghilangkan jejaknya, dia ingin menghapusnya dengan meminta haknya pada Aira.
Udara malam yang dingin malam itu membuat keduanya sama-sama menginginkan sebuah kehangatan. Secara sadar mereka melakukannya dan berharap kejadian buruk hari ini akan terhapus.
"Aira, mungkin ini akan sedikit sakit. Apakah kamu sudah ikhlas memberikan semuanya padaku?" tanya Affan berusaha menahan keinginannya yang telah memuncak.
"Insyaallah aku ikhlas, Mas. Lakukanlah!" bisik Aira dengan wajah malu-malu.
****
__ADS_1
Bersambung ....