Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 87. Sarah dan Safira


__ADS_3

Affan melihatnya keluar sekalian mengantar dokter yang telah selesai memeriksa Aira. Di luar ruangan terlihat seorang wanita sedang menggendong balita dan membawa seorang anak kecil. Saat melihat Affan balita yang digendong wanita itu bergerak-gerak dan meminta untuk turun.


Rupanya sejak tadi dia rewel sehingga wanita itu berbicara keras untuk memarahinya. Affan membelalakkan matanya saat tahu jika itu adalah Safira, putri dari Hana. Dia lalu pergi keluar dan menghampiri wanita itu.


"Assalamualaikum. Selamat malam, Nona! Ada apa dengan Safira? Apakah dia masih sakit?" tanya Affan sambil mengulurkan tangannya ke arah Safira.


Wanita itu tidak langsung memberikan Safira pada Affan meskipun Safira merengek meminta untuk dilepaskan karena dia tidak mengenalnya. Banyak kasus penculikan yang terjadi akhir-akhir ini. Dia takut jika Affan adalah seorang penculik yang berpenampilan rapi.


"Wa'alaikum salam. Kamu siapa?" tanya wanita itu sambil terus mengamati Affan dari atas hingga bawah. Hingga detik ini dia belum paham siapa pria dihadapannya.


'Pria ini terlihat sangat sopan dan juga tampan. Sepertinya tidak mungkin kalau dia seorang penculik. Tapi aku tetap harus hati-hati.' Wanita itu mulai mengurangi kewaspadaannya.


"Oh, iya, maaf. Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Affan, aku adalah atasan Hana. Apakah Anda adalah sahabatnya?" tanya Affan mencoba membuat wanita itu percaya.


Wanita itu tampak terkejut tetapi segera menguasai dirinya. Dengan canggung dia mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Dia malu karena sebelumnya telah berpikir yang tidak-tidak tentang Affan.


"Maaf, aku tidak tahu. Namaku Bella."


Safira terus saja bergerak dan membuat Bella kewalahan. Akhirnya dia pun menurunkannya. Seharian ini dia telah bekerja, tidak heran jika dia terlihat lelah saat mengasuh Safira.


Setelah merasa bebas, Safira langsung berlari menghampiri Affan dan memeluk kakinya. Affan pun tidak tinggal diam dan langsung menggendongnya. Mereka bertemu hampir setiap hari sebelumnya sehingga Safira sangat mengenalnya.


"Bagaimana keadaan Hana sekarang, Pak?" tanya Bella.


Affan terdiam. Sampai saat ini dia belum mengunjungi Hana karena Aira juga sedang dirawat. Meskipun dalam keadaan koma, Affan tidak ingin berduaan dengan Hana di ruangannya.


"Maaf, aku belum tahu lagi keadaannya karena istri saya juga dirawat di rumah sakit ini. Bagaimana kalau kita melihatnya setelah ini? Tapi aku ingin berpamitan dulu pada istriku." Affan tidak tega melepaskan Safira yang baru saja tenang dalam gendongannya.


"Baik, Pak. Bolehkah saya ikut masuk dan menjenguk istri Anda?" tanya Bella.


Akhir-akhir ini Hana sering bercerita jika dia memiliki bos yang super tampan. Istrinya juga sangat cantik sehingga dia sulit untuk berpaling ketika Hana menggodanya. Bella memperingatkan Hana agar tidak macam-macam setiap kali menceritakan atasannya.


"Silakan. Mari ikut saya!" Affan berjalan mendahului Bella dan Sarah, anak pertama Hana.


Kedatangan mereka bertiga begitu mengejutkan untuk Faya dan Aira. Bagi Faya ini adalah pemandangan yang langka saat melihat ayahnya menggendong seorang anak kecil. Lebih aneh lagi dia membawa seorang wanita yang tidak berjilbab bersamanya.


Aira tersenyum saat mengenali gadis kecil yang ada di gendongan Affan. Semuanya tidak luput dari pengamatan Faya. Dia merasa heran dengan ekspresi wajah Aira yang justru terlihat senang melihat ayahnya menggendong anak wanita lain.


"Safira!" panggil Aira ketika Affan telah sampai di sampingnya.


Safira yang mengenali Aira hampir melompat untuk meminta gendong. Untung saja Affan menggendongnya dengan kuat. Jika tidak, Safira pasti menimpa tubuh Aira.


"Tante Aira sedang sakit, Sayang. Gendongnya sama Om saja, ya. Nanti kalau sudah sembuh kamu boleh meminta gendong sama tante Aira lagi," ucap Affan lembut.

__ADS_1


Safira mengangguk. Bocah kecil itu cukup pintar. Dia sudah mengerti saat diberi pengertian.


"Ayah, siapa mereka?" tanya Faya yang tidak bisa menahan dirinya lagi dari rasa penasarannya.


"Ini adalah Safira putri dari Hana. Dan ...." Affan terlihat canggung saat akan memperkenalkan Bella dan Sarah karena mereka juga baru saja berkenalan.


Bella sedikit banyak tahu sifat Affan dari cerita Hana. Selain pemalu, Affan juga tidak mudah dekat dengan wanita. Terlebih lagi ini kali pertama mereka bertemu.


"Namaku, Bella. Sahabat Hana sedangkan ini adalah Sarah, putri pertama Hana." Bella menyambung ucapan Affan yang terputus.


"Oh, aku Faya." Faya menyebutkan namanya.


"Dan ini istriku, Aira." Affan memperkenalkan Aira pada Bella.


Bella menatap Faya dan Aira bergantian. Dia merasa aneh dengan pemandangan di hadapannya. Usia Aira terlihat sangat belia dan mungkin seumuran dengan Faya. Namun, Bella tidak berani untuk bertanya.


"Senang berkenalan dengan kalian. Semoga kita bisa menjadi teman baik," lanjut Bella kemudian.


"Insyaallah," jawab Aira sambil tersenyum.


"Sayang, aku ingin mengunjungi Hana bersama Nyonya Bella. Apakah kamu keberatan jika aku meninggalkanmu pergi sebentar?" tanya Affan meminta ijin.


"Tidak, Mas. Aku sudah ditemani oleh Faya. Tidak perlu mengkhawatirkanku." Aira juga sangat ingin tahu keadaan Hana tetapi dia mencoba untuk menahan dirinya.


"Baiklah," ucap Affan.


"Jangan khawatir, Ayah." Faya mengangguk.


Affan, Bella dan kedua putri Hana pergi meninggalkan ruang perawatan Aira. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang perawatan khusus bagi Hana. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sana.


Mereka harus menemui dokter yang menanganinya terlebih dahulu sebelum masuk. Keadaan Hana masih dalam pemantauan selama 24 jam. Sesuai perintah Affan, mereka memprioritaskan sebagai pasien yang mendapatkan penanganan khusus.


"Selamat malam, Dok!" sapa Affan ketika sudah dipersilakan masuk.


"Selamat malam, Tuan. Silakan duduk!" Dokter dengan tag nama Dharma itu menyambut Affan dengan sopan.


"Terimakasih," jawab Affan lalu duduk sambil memangku Safira.


Dokter Dharma terlihat heran saat Affan membawa balita. Sebelumnya dia hanya datang bersama Aira.


"Ini adalah anak kedua dari pasien bernama Hana yang sedang Anda tangani. Di luar ada anak pertamanya dan sahabatnya," jelas Affan sebelum dokter Dharma bertanya.


"Oh, begitu. Aku pikir dia adalah anak dari kerabat Anda." Dokter Dharma tersenyum.

__ADS_1


Tidak ingin berbasa-basi terlalu lama, Affan menyusun kata-kata untuk menanyakan keadaan Hana. Dia juga ingin meminta ijin untuk menjenguknya bersama dengan Bella dan anak-anaknya. Affan tidak tahu apakah dokter mengijinkan Hana untuk dijenguk atau tidak.


"Kedatangan saya kemari ingin menanyakan keadaan Hana, Dok. Apakah sudah mendapatkan donor yang cocok atau belum? Saya juga ingin meminta ijin untuk membawa sahabat dan anak-anaknya untuk menjenguknya," ucap Affan berharap Dokter Dharma mengabulkan keinginannya.


Dokter Dharma tidak langsung menjawabnya. Wajahnya mendadak berubah menjadi sangat serius. Tangannya membetulkan kacamata yang sebenarnya tidak ada masalah, mungkin dia sedang gugup saat ini.


"Saya sudah mendapatkan donor untuk Nyonya Hana dari luar kota. Kami sedang berusaha untuk membawanya kemari secepat mungkin. Mungkin paling lambat akan sampai besok pagi, tergantung lancar tidaknya perjalanan," jelas Dokter Dharma.


Affan mengangguk lalu berkata, "Semoga dilancarkan dan segera sampai di sini."


"Amin, Tuan. Mengenai keinginan untuk menjenguk pasien sedang saya pikirkan. Kondisi pasien saat ini masih dalam masa observasi. Kalaupun saya mengizinkan Anda dan teman pasien untuk menjenguk, tetap harus saya antar. Saya benar-benar minta maaf, semoga Anda tidak merasa tersinggung." Dokter Dharma terlihat sungkan pada Affan.


"Tidak masalah, Dok. Kami bersedia mematuhi aturan dari rumah sakit. Semua yang anda lakukan sudah benar, saya tidak menyalahkannya." Affan tidak keberatan dengan syarat yang diajukan oleh Dokter Dharma.


Keduanya kemudian keluar dan memberitahu Bella untuk bersiap. Mereka berlima menggunakan pakaian steril dan penutup kepala sebelum memasuki ruangan Hana. Dokter Dharma juga tidak mengijinkan mereka berbicara dengan suara keras ketika berada di dalam ruang perawatan Hana.


Dokter Dharma berada di depan untuk memimpin. Affan masih menggendong Safira dan berjalan tepat di belakangnya sedangkan Sarah dan Bella menjadi penutup rombongan.


Sebagai seorang anak, Safira tentu sangat mengenal sosok ibunya. Reaksi pertamanya hanya diam saja dan terus memandangi wajah Hana. Namun, lama-kelamaan dia mulai sadar dan terisak.


"Mama, mama, mama ...," panggil Safira sambil menangis.


Semua orang terharu saat mendengar tangisnya. Dokter Dharma terus mengamati layar monitor yang terhubung dengan tubuh Hana. Meskipun seseorang mengalami koma tetapi dia masih bisa mendengar dan mengenali suara orang-orang di sekelilingnya.


Sarah yang sudah berusia 10 tahun sudah cukup memahami keadaan. Dia menangis tanpa suara sambil berbisik memanggil ibunya. Mereka tidak boleh terlalu dekat apalagi sampai menyentuh pasien.


Setelah kunjungan berlangsung sekitar 5 menit, perubahan nilai monitor mulai terjadi. Kekuatan detak jantung Hana meningkat, hal itu bisa dilihat dari grafik. Namun, Dokter Dharma malah merasa khawatir karena ini bisa memicu pasien untuk melakukan aktivitas di luar kemampuannya.


Dari sudut mata Hana menetes bulir bening yang meluncur dipelipisnya lalu jatuh membasahi kerudungnya yang terbuka. Ini berarti saat ini Hana sudah sadar tetapi tidak memiliki kekuatan untuk bangun. Darah yang hanya tersisa sedikit di tubuhnya membuatnya sangat lemah.


"Tuan Affan, sebelumnya saya mohon maaf. Kita tidak bisa berlama-lama tinggal di sini. Pasien bisa merespon suara dari anak-anaknya. Saya takut kesedihannya akan membuat keadaan semakin memburuk," jelas Dokter Dharma.


"Baik, Dok. Terima kasih sudah memberi kesempatan pada kami untuk melihat keadaan Hana," ucap Affan.


"Sama-sama, Tuan. Mari saya antar!" Dokter Dharma membukakan pintu untuk mereka.


Safira terus menangis ketika Affan membawanya keluar dari ruangan Hana. Balita itu menolak dan ingin tetap berada di sana. Affan merasa sangat sedih tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Langkahnya terhenti ketika dia sampai di pintu, dia kembali ke belakang menatap Hana, Bella dan dokter yang menunggu pintu.


Bella tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun dan hanya sesungguhnya menangis melihat sahabatnya yang tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Saat dia hampir mencapai pintu langkahnya kembali terhenti karena mendengar suara yang sangat nyaring dari alat yang ada di dekat Hana.


Affan pun urung meninggalkan tempat itu dan kembali melihat ke dalam. Dia sedikit bingung saat melihat Dokter Dharma berlari menghampiri Hana dan dengan cepat memeriksanya. Dia juga terlihat memencet tombol darurat untuk memanggil dokter yang berjaga malam itu.


Bella, Affan dan anak-anak Hana diminta untuk keluar dari dalam ruangan.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2