
Cukup lama Affan memeluk Aira dengan posisi yang sama. Keduanya melihat hujan dari dinding kaca yang berbatasan langsung dengan taman belakang.
"Rasanya aku malas sekali kembali ke kantor, Aira. Aku ingin selalu ada kamu," ucap Affan.
Aira tersipu. Untuk sejenak dia melupakan kesedihannya. Dia melepaskan pelukan Affan dan berbalik menatapnya.
"Mas Affan, apakah Pak Roland itu sahabatmu?" tanya Aira penasaran.
Dirinya tidak sanggup lagi untuk menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Aira terpikir akan ancamannya dan juga takut jika Affan terpengaruh olehnya.
"Kami dulu sekolah di SMA yang sama, tetapi tidak satu kelas. Aku mengenal dia sebagai teman dekat Amanda. Selama ini dia tinggal di luar negeri dan baru mau mencoba menjalankan perusahaan orang tuanya di sini. Itulah mengapa dia mencariku," jelas Affan.
Mata Aira membelalak saat Affan menyebut nama Amanda. Aira curiga jika kehadiran Roland ada hubungannya dengan Amanda.
"Apakah kamu mengetahui sesuatu?" tanya Affan melihat ekspresi aneh Aira.
Aira terlihat bingung dan salah tingkah. Hatinya dilema antara ingin jujur dan menyembunyikan semuanya.
Affan memegang bahunya dan menatapnya lembut. Dia kembali meraih tubuh Aira dan memeluknya. Meskipun sangat merasa penasaran tetapi dia tidak bisa memaksa Aira untuk bicara.
"Aku merasa jika Pak Roland memiliki niat yang tidak baik padamu, Mas," ucap Aira masih dalam pelukan Affan.
"Aku juga berpikir begitu. Dia begitu mudahnya menyerahkan beberapa proyek besar padaku. Meskipun dengan alasan kerja sama tetapi posisiku tidak cukup kuat untuk mengambil alih semua pekerjaannya." Affan mengatakan apa yang dibicarakan dengan Roland hari ini.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana rencanamu, Mas?" tanya Aira penasaran.
"Aku tidak akan mengambil alih secara langsung dan mengirimkan kontraktor yang berada di dalam naungan Asosiasi Pengusaha Muda. Roland belum tahu tentang ini dan aku juga akan merahasiakan ini. Jika terjadi masalah ke depannya maka Roland akan melawan seluruh perusahaan yang berada di bawah kendali asosiasi tersebut."
Aira tersenyum senang. Ternyata suaminya itu begitu cerdik dan waspada. Tidak heran jika perusahaannya terus berkembang.
Setelah makan siang, Affan kembali ke perusahaannya dan meninggalkan Aira di rumah.
***
Di perusahaan,
Bimo sibuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di atas meja. Dia juga menerima beberapa orang tamu dan menawarkan produk-produk dan layanan perusahaan.
Bimo sedikit terkejut ketika Affan masuk ke dalam ruangannya. Setelah melihat yang datang adalah atasannya, dia meletakkan bolpoinnya lalu menyusul Affan dengan setumpuk berkas baru.
"Alhamdulillah ada beberapa klien baru berdatangan hari ini, Boss." Bimo menyodorkan beberapa berkas kepada Affan.
"Alhamdulillah. Oh, iya, kita sudah lama tidak mengadakan syukuran. Kamu atur waktu untuk mengadakan pesta kecil dan pastikan seluruh karyawan bisa hadir. Enaknya di mana, ya, Bim?" tanya Affan.
Bimo terlihat sedang berpikir. Untuk menampung seluruh karyawan dari perusahaan ini dan anak perusahaan milik Affan dibutuhkan tempat yang luas. Musim hujan tidak memungkinkan untuk mengadakan pesta di luar.
"Satu-satunya tempat luas yang bisa menampung banyak orang, ya, gedung serbaguna, Boss. Kalau mau yang sedikit lebih mahal, ya, di hotel. Aku dengar ada hotel yang sedang mengadakan promo besar-besaran."
__ADS_1
Syukuran tahunan yang biasa dilakukan perusahaan Affan selalu mengambil tempat yang berbeda. Selain bonus gaji, Affan juga rutin mengadakan acara makan bersama di lingkup yang kecil atau per satu divisi.
"Em, hotel juga boleh. Sekalian aku ingin mengumumkan pernikahanku dan memperkenalkan Aira pada seluruh karyawan. Kamu atur saja waktunya, di mana kita tidak terlalu sibuk," ucap Affan sambil memainkan bolpoinnya.
"Siap, Boss!" Bimo terlihat sangat senang.
Setelah ini status Affan akan menjadi jelas dan membuat para wanita yang semula berharap padanya berhenti untuk mengejarnya. Selain Amanda, ada beberapa rekan bisnis yang mencoba untuk mencari perhatian Affan. Tidak jarang mereka menawarkan dirinya untuk dilamar olehnya.
Bimo dan Affan kembali sibuk dengan pekerjaannya hari itu dan pulang hingga sore hari.
Setelah hari itu, Bimo sibuk mengatur acara syukuran yang akan diadakan sebentar lagi. Dia beberapa kali pergi ke luar kantor untuk mengurus banyak hal.
'Aira pasti menolak bila aku bawa ke butik ternama. Faya juga sibuk mempersiapkan ujian. Aku harus mempersiapkan baju yang pantas untuk mereka dan membawa mereka untuk fitting setelah pengerjaannya hampir jadi. Kurasa saat waktu syukuran itu tiba, Faya dan Aira telah selesai ujian nasional.' Affan membuka buku telepon dan mencari nomor butik langganannya.
Amanda yang sedang makan siang di sebuah restoran melihat Bimo sedang berbincang serius dengan seorang wanita yang sangat dia kenal. Wanita itu adalah teman kuliahnya. Kabar terakhir yang dia dengar, wanita itu bekerja di sebuah hotel bintang lima.
'Apa yang sedang mereka bicarakan?' Amanda merasa penasaran.
****
Bersambung ....
Numpang promo novel karya temanku, ya. Terimakasih.
__ADS_1