Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 109. Lahir dengan selamat


__ADS_3

Setelah semua barang tertata rapi di dalam mobil, Affan dan Aira segera masuk ke dalam mobil. Mereka berangkat terlebih dahulu tanpa Faya karena dia akan pergi dengan mobilnya sendiri.


Aira semakin merasakan mulas yang berlebihan dan membuatnya harus meringis menahan rasa nyeri. Setiap sepuluh menit sekali dia mengalami kontraksi.


"Sabar, ya, Sayang. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan seperti ini." Affan mengelus kepala Aira yang terus berdzikir setiap kali perutnya mengencang.


"Iya, Mas. Semoga saja dipermudah oleh Allah," ucap Aira mencoba terlihat tegar di tengah rasa sakit yang menderanya.


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Pak Sapto membawa mobilnya ke dekat ruang IGD agar mempermudah perawat membawa Aira masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Affan membantu Aira untuk duduk di kursi roda dan mengikuti perawat membawanya ke ruang persalinan. Berbeda dengan pasien biasa yang harus melewati pemeriksaan, khusus untuk persalinan mereka langsung membawanya ke ruang persalinan.


Seorang dokter jaga segera menuju ke ruangan Aira dan memeriksanya. Pembukaan Aira belum lengkap sehingga dia memintanya untuk menunggu beberapa saat lagi.


Affan tidak beranjak dari sisi Aira dan terus berada di sana. Keduanya terus berdoa sambil menunggu proses kelahiran.


Dokter dan bidan yang menangani Aira terlihat begitu sigap. Mereka mempersiapkan alat dan segala yang diperlukan dalam proses kelahiran.


Di luar ruangan, Faya dan Bi Sumi ikut berdebar menantikan detik-detik kelahiran anak kedua Affan. Mereka terlihat cemas tetapi tidak henti-hentinya berdoa.


"Bi, aku takut. Pasti melahirkan itu sangat menyakitkan." Faya memeluk Bi Sumi dengan wajah gelisah.


"Tidak usah takut, Non. Itulah mengapa wanita memiliki kedudukan yang tinggi di mata Tuhan. Semoga saja Nyonya Aira bisa melewati ini dengan baik. Ibu dan bayinya sehat semua." Bi Sumi mengelus kepala Faya yang tertutup hijab.

__ADS_1


Faya mengangguk dan berusaha untuk kembali tenang. Mereka harap-harap cemas menunggu ada yang keluar dari ruang persalinan Aira.


Ponsel Faya terus berdering. Sebenarnya hari ini dia harus pergi ke kampus untuk mengambil tugas dari Pak Rendi. Faya meminta ijin dan mengatakan jika dia sedang berada di rumah sakit.


Aldo yang kepo berencana untuk menjenguk Faya ke sana. Tidak disangka, Pak Rendi juga ingin ikut dalam rombongan. Berita yang simpang siur membuat mereka tidak tahu pasti bagaimana keadaan Faya saat ini.


Setelah menunggu cukup lama akhirnya seorang perawat keluar dari dalam ruang persalinan Aira. Saat pintu sedikit terbuka, Faya dan Bi Sumi mendengar sayup-sayup suara bayi sedang menangis. Ini berarti jika Aira telah melahirkan.


"Bagaimana keadaan mama saya dan bayinya, Sus?" tanya Faya yang segera beranjak dari duduknya saat melihat pintu terbuka dari dalam.


Perawat itu tersenyum dan membuat perasaan Faya merasa sedikit lega. Bi Sumi juga tidak ingin ketinggalan dan segera menyusul Faya mengabarkan keadaan Aira.


""Alhamdulillah semuanya sehat. Dokter sedang menangani mereka. Saya permisi dulu, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan." Perawat mengangguk dengan sopan sebelum pergi meninggalkan Faya.


Setelah Aira dan bayinya selesai dibersihkan, mereka berdua dipindahkan ke ruang perawatan. Affan menggendong bayinya dengan perasaan bahagia.


"Ayah, adik kecilku ini kita kasih nama siapa?" tanya Faya sambil mengikuti ayahnya sedangkan Bi Sumi berjalan menjajari Aira yang sedang didorong lebih cepat di depan.


"Ayah dan mamamu sepakat memberi nama Fatih Al Furqon." Affan menyebutkan nama bayi kecilnya.


"Wah, keren. Pas sekali untuk adikku yang tampan ini." Faya merasa sangat senang.


Di tengah perjalanan, mereka melihat rombongan teman-teman kampus Faya dan Pak Rendi.

__ADS_1


"Untuk apa mereka datang ke rumah sakit? Apakah mereka sedang mencariku?" Faya terlihat heran.


Affan yang tidak mengenalnya menatap Faya penuh tanya. Melihat wajah Faya yang terlihat heran membuatnya semakin yakin jika teman-temannya datang tanpa mengabarinya lebih dulu.


"Mereka teman-temanmu, Sayang?" tanya Affan lembut ketika mereka sudah saling berhadapan.


Faya mengangguk.


"Kamu baik-baik saja, Faya?" tanya salah satu teman Faya lalu ditarik ke belakang oleh teman yang lainnya.


"Assalamu'alaikum, Pak, Faya. Saya dosen pembimbing yang mengajar hari ini ingin mengetahui kabar Faya. Menurut teman-temannya, Faya ijin karena sedang di rumah sakit, kami pikir dia sedang sakit hari ini." Pak Rendi menjelaskan maksud kedatangan mereka.


"Wa'alaikum salam," jawab Affan dan Faya hampir bersamaan.


"Tidak, Pak. Faya di rumah sakit untuk menemani istri saya untuk melahirkan." Pak Affan menatap bayi laki-lakinya yang sedang terlelap di gendongannya.


"Oh, jadi seperti itu cerita. Selamat atas kelahiran putranya, Pak. Semoga jadi anak yang sholeh." Pak Rendi diikuti oleh teman-teman Faya mengucapkan selamat.


Mereka lalu sekalian membesuk Aira yang telah berada di ruang perawatan.


Affan merasakan ada hal yang berbeda dari dosen pembimbing Faya. Namun, dia tidak ingin menerka-nerka.


~TAMAT~

__ADS_1


Akan ada lanjutan dari novel ini dengan mengambil cerita kehidupan Faya. Untuk sementara saya akan melanjutkan novel berjudul "Bukan Skandal". Jangan lupa mampir, ya. Salam sayang selalu... >kiss<


__ADS_2