Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 85. Kritis


__ADS_3

Affan membawa Aira ke rumah sakit yang sama dengan Hana. Hal ini tidak disengaja Sebenarnya dia tidak tahu jika Hendro dan polisi membawanya ke rumah sakit itu. Mereka bertemu di ruang tunggu.


Hana sudah berada di dalam ruang perawatan sedangkan Hendro masih mengurus administrasi di lobi depan. Polisi yang mengantar mereka masih berjaga di depan ruang perawatan Hana. Mereka belum memberitahu kabar Hana kepada keluarganya.


"Mas, aku ingin tahu bagaimana keadaan Hana sekarang." Aira memohon pada Affan.


Saat ini Aira dan Affan sedang menunggu petugas selesai menyiapkan administrasi untuk mereka. Affan tidak mungkin meninggalkan Aira sendiri. Dia tidak menyalahkan Aira yang sangat ingin tahu keadaan Hana mengingat dia berhutang budi padanya.


"Kita selesaikan dulu pendaftaran untuk kamu. Setelah itu kita tanyakan di mana ruangan Hana pada Hendro." Affan meminta Aira untuk bersabar.


Aira mengangguk setuju.


Di tengah proses registrasi yang dilakukan oleh Affan, Hendra datang mendekati mereka. Wajah Aira terlihat senang karena dia tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui keadaan Hana. Dia berharap Hana baik-baik saja.


"Syukurlah kamu datang. Istriku sangat ingin tahu bagaimana keadaan Hana saat ini. Apakah dia sudah sadar?" tanya Affan.


Wajah Hendro terlihat sedih. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelum menjawab pertanyaan Affan.


"Keadaan Nyonya Hana sangat memprihatinkan. Dia terlalu banyak kehilangan darah sehingga keadaannya kritis saat ini. Golongan darah langka yang dimilikinya membuat para dokter kesulitan untuk mencarikan donor yang cocok. Hampir seluruh rumah sakit di kota ini tidak memiliki stok darah yang sama," jelas Hendro.


Aira menggerakkan tangannya lalu menutup mata yang menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Rasa khawatir membuatnya terlihat sangat sedih. Jika bukan karena menyelamatkannya mungkin Hana tidak akan mengalami nasib seperti ini.


Affan segera mendekati Aira dan berjongkok di hadapannya untuk menenangkannya. Dia tahu betul bagaimana sifat istrinya. Saat ini dia pasti merasa sangat sedih dan diliputi rasa bersalah.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu untuk hal yang sudah digariskan oleh Allah! Hana telah memilih jalannya sendiri. Yang perlu kita lakukan sekarang hanyalah berdoa untuk keselamatannya. Semoga saja segera ditemukan dan yang cocok untuknya," hibur Affan.


Air mata Aira mulai berjatuhan di pipinya. Meskipun sebelumnya dia sempat bersitegang dengan Hana tetapi mereka sudah berdamai sesaat sebelum kedatangan Sintya. Terlepas dari sifat buruk Hana, Aira menemukan sisi baiknya yang tidak dimiliki oleh semua orang.

__ADS_1


Affan meraih tubuh Aira dan memeluknya. Seorang wanita hamil harus berhati-hati dan harus pandai untuk mengendalikan emosinya. Kesedihan yang berlebihan bisa mengganggu keadaan janin di dalam perutnya dan memungkinkan terjadinya kontraksi awal.


Setelah Aira merasa sedikit tenang, Affan melepaskan pelukannya dan berbalik menatap ke arah Hendro.


"Hendro, tolong katakan pada pihak rumah sakit untuk memprioritaskan Hana. Aku akan menanggung seluruh biaya pengobatannya. Tidak peduli bagaimanapun caranya mereka harus menemukan donor untuknya. Katakan jika aku bersedia mengeluarkan uang berapapun yang mereka minta," ucap Affan pada Hendro.


"Baik, Pak. Saya akan pergi langsung kepada dokter yang menanganinya saat ini. Saya permisi!" pamit Hendro.


"Semoga segera mendapatkan kabar bagus dari mereka," balas Affan.


"Assalamualaikum." Hendro memberi salam sebelum pergi dari hadapan Affan dan Aira.


"Wa'alaikum salam." Affan dan Aira menjawabnya bersamaan.


Di saat yang sama, resepsionis rumah sakit memanggil Aira dan Affan untuk pemeriksaan. Untuk sejenak mereka lupa akan kesedihannya dan harus memikirkan kesehatan Aira juga. Perawat rumah sakit menuntun mereka untuk memasuki sebuah ruangan.


Sifat posesif Affan, tidak mengenal tempat. Dia tidak ingin siapa pun menyentuh istrinya meskipun dia sedang berada di hadapannya. Perawat itu pun segera berpindah ke belakang dokter jaga.


Melihat ketegangan yang sedang terjadi, dokter segera mengambil inisiatif.


"Pergilah! Aku akan memanggil kalian jika aku membutuhkan bantuan." Dokter dengan tag nama Karina itu.


"Baik, Nona," jawab perawat bersikap tenang.


Dokter Karina lalu memeriksa Aira dengan teliti. Dia tidak ingin membuat kesalahan. Meskipun bukan seorang pakar ekspresi tetapi dia bisa menebak jika saat ini wajah sepasang suami istri sedang menunjukkan sebuah kecemasan.


Affan terus memegangi tangan Aira untuk menguatkannya. Dia tidak akan membiarkan air matanya kembali jatuh. Setidaknya dia berharap Aira untuk tetap menjaga buah hati mereka.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa Aira telah selesai tetapi dia tidak mengumumkan hasilnya pada mereka berdua. Dia hanya meminta perawat untuk membawa Aira ke dalam sebuah ruang perawatan. Pemeriksaan singkat yang dilakukannya akan menjadi acuan untuk tingkat perawatan bagi Aira.


"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Affan ketika Aira telah berada di ruang perawatan dan mendapatkan pertolongan.


Aira menatap Affan dengan senyuman di wajahnya.


"Aku baik-baik saja, Mas. Hanya saja aku merasa sangat mengantuk. Mungkin pengaruh dari obat-obatan yang diberikan oleh dokter." Kelopak mata Aira berkedip pelan dan terlihat sedang mengantuk berat.


Affan meraih tangan Aira lalu mengecupnya perlahan. Hatinya sedikit tenang saat melihat Aira tidak lagi menangis.


"Tidurlah! Aku akan menjagamu di sini." Affan mengusap punggung tangan Aira dengan lembut.


Aira mengangguk pelan. Dia tidak mau lagi untuk banyak berbicara matanya sudah benar-benar sangat mengantuk. Hanya dalam hitungan detik dia sudah tertidur dengan pulas.


Seperti janjinya, Affan terus berada di sisinya untuk menemani. Dia memilih untuk menemani Aira dan mengesampingkan pekerjaannya untuk beberapa waktu. Besok Bimo sudah kembali bekerja. Affan yakin dia bisa mengatasi segalanya.


Ketika Aira tertidur, Affan memanfaatkan waktunya untuk memberi kabar pada Faya dan orang kantor perihal kepergiannya. Tidak lupa dia juga mengirim pesan untuk Bimo dan menceritakan secara singkat apa yang terjadi hari ini. Affan yakin jika Bimo akan mengerti jika besok dia menemukan pekerjaannya yang berantakan dan menumpuk.


Di ruangan lain,


Hana sedang berjuang di antara hidup dan mati. Keadaannya semakin kritis. Tanpa alat bantu yang menempel di tubuhnya, mungkin nyawanya sudah tidak tertolong lagi.


Dokter sendiri tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan tanpa penambahan donor darah yang sama dengannya. Detak jantung Hana juga kian melemah. Bisa dikatakan, Hendro dan polisi di terlambat membawanya datang ke rumah sakit.


Sesuai perintah Affan, Hendro memberi kabar pada temannya, pemilik rumah yang ditinggali. Wanita bernama Bella itu menjerit histeris saat tahu keadaan Hana. Dia berjanji akan segera datang ke rumah sakit bersama kedua putri Hana.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2