Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 79. Menghindar


__ADS_3

Kaca hitam di mobil Affan membuat Sintya tidak tahu jika Affan dan Aira berada di dalam mobil itu. Setelah mobil itu terhenti dia berjalan ke kaca jendela di samping kemudi. Tangannya menggedor-gedornya dengan keras hingga terdengar oleh Affan dan Aira.


"Mas," bisik Aira.


Affan menatap Aira sambil berpikir. Dia memberi isyarat pada Aira untuk tenang. Mereka kembali memperhatikan wajah panik Sintya.


"Tuan, apa yang harus saya lakukan?" tanya sopir Affan dengan wajah ketakutan.


"Kamu buka sedikit jendela dan bilang kamu sedang buru-buru. Aku tidak ingin berurusan dengan wanita itu," ucap Affan.


Dia merasa bersyukur karena Sintya tidak melihatnya di dalam mobilnya. Berurusan dengan Sintya akan membuatnya ruwet. Terlebih lagi mereka tidak tahu masalah apa yang membelitnya.


"Baik, Tuan," ucap sopir Affan.


Affan menarik tirai pembatas yang menutupi bagian depan mobilnya dengan bagian belakang. Dia juga meminta Aira untuk menutup tirai yang ada di sampingnya. Kaca gelap mobilnya mungkin bisa ditembus oleh mata dari jarak yang dekat.


Sopir Affan membuka seperempat kaca jendelanya. Setelah terbuka sedikit, Sintya kembali berteriak. Affan dan Aira bisa mendengar suaranya dengan jelas.


"Pak tolong aku, Pak. Aku butuh tumpangan. Aku akan membayar berapapun yang kamu minta. Tolong, ya, Pak." Sintya memohon kepada sopir Affan.


"Mohon maaf, Non. Saya sedang buru-buru. Majikan saya sudah menunggu. Anda bisa minta tolong ke yang lainnya saja." Setelah mengatakan itu sopir Affan kembali menutup kaca mobilnya.


Sintya masih berteriak dan memohon tetapi sopir Affan tidak menggubrisnya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa saat mobil Affan beranjak pergi dari hadapannya. Di wilayah itu memang sangat sulit untuk mendapatkan taksi.

__ADS_1


Suara sirine polisi kembali terdengar di kejauhan. Sintya yang panik kembali melarikan diri dan mencari tempat berlindung.


Tidak jauh dari tempat itu ada sebuah pemukiman penduduk yang cukup padat. Meskipun tempat itu masih asing baginya tetapi Sintya berusaha untuk meminta pertolongan dari orang-orang yang tinggal di sana.


Untuk mengambil simpati warga dia berpura-pura jika dirinya sedang tersesat. Dia berkata jika belum lama tinggal di Jakarta dan merasa bingung. Melihat wajahnya yang pucat, masyarakat di tempat itu menjadi iba.


Sebelum polisi menyisir tempat itu, Sintya sudah berhasil mendapat tempat persembunyian. Seorang warga memberinya tumpangan untuk bermalam. Sintya bisa berada di tempat itu sambil menunggu kesempatan untuk kabur dari sana.


Polisi sudah mengendus bisnis gelapnya sejak beberapa waktu lalu. Mereka menunda penangkapan hingga memperoleh bukti-bukti yang lengkap. Saat penggerebekan di sebuah tempat hiburan malam, Sintya berhasil lari dari kejaran.


Polisi tidak berpikir untuk mengejar Sintya hingga ke pemukiman penduduk. Mereka berpikir jika Sintya pergi dengan taksi atau angkutan umum. Malam ini Sintya kembali bisa bebas dari kejaran.


Di tempat lain,


"Sepertinya Mbak Sintya sedang dalam masalah, Mas," ucap Aira setelah merasakan mobil bergerak dengan perlahan.


"Jangan terlalu kamu pikirkan, Aira! Biarlah itu menjadi urusannya. Kita tidak perlu tahu atau pun mencampurinya." Affan tidak ingin Aira terus membahas Sintya.


Affan adalah sosok yang paling tidak bisa berbohong. Dia takut Aira akan menjebaknya dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya mengatakan semua hal tentang Sintya. Hanya Bimo yang tahu semua rencana yang sedang dijalankannya.


'Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa mengatakan masalah tentang Sintya padamu. Terlalu berbahaya untuk memberitahumu. Dengan sekuat tenaga aku akan menjagamu dan buah hati kita.' Affan menatap Aira penuh perasaan.


Suasana masih terasa tegang meskipun hal buruk telah berlalu. Aira tidak berani banyak bertanya dan memilih untuk terus berdoa selama dalam perjalanannya.

__ADS_1


Tidak ada hambatan yang berarti dalam perjalanannya hingga mereka tiba di rumah. Saat mobil memasuki halaman rumah, Faya sudah terlihat menunggu di meja teras. Dia dan Bi Sumi menunggu kedatangan mereka dan segera menyambutnya.


"Assalamualaikum, Ayah, Mama." Faya datang menyongsong mobil ayahnya.


"Wa'alaikum salam," jawab Affan dan Aira hampir bersamaan.


Faya melirik tangan kosong Aira. Mendadak hatinya merasa kecewa. Namun, Faya berusaha untuk mengerti.


Sopir Affan keluar paling belakang dan membuka bagia belakang mobilnya. Dia datang menghampiri mereka dengan menenteng beberapa paper bag berisi.


Faya berbinar senang saat melihat nama kafe yang tertera di paper bag yang dibawa oleh Pak Toni, sopir mereka.


"Aku pikir mama melupakan pesananku," ucap Faya sambil tersenyum pada Aira.


"Mana mungkin, Faya. Aku memang tidak membawanya tetapi aku dan ayahmu sudan menyiapkannya dengan baik," jelas Aira.


Faya meluapkan kegembiraannya dengan segera memeluk Aira.


Affan tersenyum melihat tingkah kedua wanita yang spesial baginya itu. Hatinya menghangat melihat kedekatan mereka.


'Betapa bodohnya aku jika menyakitimu dengan sesuatu yang terkadang tidak kusadari, Aira. Aku sangat bersyukur telah berjodoh denganmu meski diawali pernikahan tanpa cinta.' Affan bermonolog dalam hati.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2