Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 48. Bimbang


__ADS_3

Semakin malam taman itu semakin ramai dikunjungi. Aira mengajak Affan untuk segera pulang. Mereka berjalan santai meninggalkan taman itu menuju ke mobilnya.


Aira terkejut saat seorang wanita tengah berdiri di samping mobil mereka. Dia terlihat sedang membawa sekeranjang buah.


"Assalamualaikum, Mas Affan," sapa wanita itu.


Tubuhnya yang ramping terlihat sangat seksi mengenakan pakaian yang pas di badan. Sebenarnya dia mengenakan hijab tetapi pakaiannya begitu ketat. Dia mengenakan setelan celana jeans dipadukan dengan sweater sebatas siku.


"Wa'alaikum salam," jawab Affan dan Aira hampir bersamaan.


Affan terlihat tidak nyaman dengan pemandangan di hadapannya. Dia segera menundukkan kepalanya untuk menjaga pandangannya.


"Maaf Maryana, kami sedang terburu-buru." Affan memencet remote mobilnya. Tubuh Maryana yang berdiri tepat di samping pintu membuatnya tidak segera membuka pintu meskipun dia ingin.


Aira menatap suaminya yang terlihat canggung. Sikap yang sama saat awal-awal pernikahan mereka. Selain pemalu, Affan juga sangat menjaga pandangannya dari melihat yang tidak seharusnya dilihatnya.


"Apakah aku terlihat menjijikkan sampai tidak mau menatapku? Aku hanya ingin meminta bantuanmu untuk merenovasi rumahku saja." Maryana berbicara dengan nada kesalnya.


"Besok silakan datang ke kantor saja. Jika aku tidak ada, kamu bisa menemui Pak Bimo." Affan tetap tidak ingin berlama-lama meskipun Maryana beralasan menemuinya untuk alasan pekerjaan.


"Mas, aku tidak tahan ingin ke toilet," ucap Aira.


Sebenarnya masih bisa ditahan tetapi Aira ingin membuat Maryana melepaskan mereka berdua. Ketidaknyamanan Affan semakin terlihat jelas. Namun, dia tidak memiliki alasan untuk pergi.

__ADS_1


Maryana menatap Aira tajam saat melihatnya berjalan ke arahnya. Tangannya menyusup ke samping tubuhnya dan memegang gagang pintu mobil.


"Maaf, Nona. Lain kali kita mengobrol lagi." Aira mencoba bersikap biasa dan tersenyum pada Maryana.


Pintu yang mulai terbuka membuat Maryana terpaksa menggeser tubuhnya untuk menjauh. Aira duduk di belakang kemudi lalu menggeser tubuhnya ke samping.


Affan segera menyusulnya. Dia memiringkan tubuhnya agar tidak menyenggol tubuh Maryana. Setelah berada di dalam mobil dia membuka kacanya.


"Assalamualaikum. Kami duluan," ucap Affan.


"Wa'alaikum salam," jawab Maryana terdengar tidak ikhlas.


'Apa istimewanya wanita itu? Cantik juga tidak. Masih cantikan aku ke mana-mana. Besok aku harus pergi ke kantornya Mas Affan. Aku tidak ingin menyerah, tidak masalah kalau aku menjadi istri keduanya.' Maryana tersenyum jahat.


Merasa tidak ada yang perlu dilakukannya lagi, dia pun menghampiri mobilnya untuk pulang.


***


Orang tua Roland membebaskannya melalui jalur keimigrasian. Dengan bantuan kedutaan mereka berhasil membawa Roland kembali ke Spanyol.


Setelah ini mereka tidak akan pernah mengijinkan Roland untuk kembali ke Indonesia. Kesalahannya terlalu banyak hingga membuat orang tuanya merasa sangat marah.


Kabar kepulangan Roland ke Spanyol membuat Amanda semakin terpukul. Dia tidak sanggup untuk menghadapi masalahnya sendirian. Percuma saja dia mengatakan berita kehamilannya pada Roland karena dia tidak mungkin lagi kembali.

__ADS_1


Amanda berdiri di balkon kamarnya dengan pandangan menatap jauh ke depan. Matanya terlihat sembab meskipun dirinya telah berhenti menangis.


Tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Amanda yang hidup sebatang kara akan memiliki teman jika dia memiliki anak. Namun, dia tidak akan sanggup untuk menghadapi hujatan masyarakat karena hamil tanpa suami.


Setelah berpikir beberapa saat akhirnya Amanda berpikir untuk menggugurkan kandungannya sebelum ada yang mengetahuinya.


Amanda mengendarai mobilnya menuju ke apotik untuk membeli obat-obatan yang dilarang untuk ibu hamil. Pegawai apotik tidak terlalu peduli dan langsung mengambilkan obat yang dibeli olehnya.


Di apotek tersebut Amanda bertemu dengan pasangan muda yang terlihat sangat bahagia. Pria itu terlihat sangat sayang kepada istrinya yang sedang hamil besar. Dia membayangkan jika dirinya adalah wanita itu.


Dadanya terasa nyeri saat mendapati kenyataan bahwa dia harus menghadapi kehamilannya seorang diri. Tidak ingin semakin merasa sesak, Amanda memutuskan untuk segera pulang.


Di dalam mobilnya, Amanda menangis untuk meluapkan perasaannya. Keraguan kembali menghinggapi hatinya. Dirinya berubah pikiran dan ingin tetap mempertahankan kehamilannya.


Tangannya meraih tisu di dalam dashboard mobilnya dan bersiap untuk menjalankan mobilnya. Sebuah foto usang terjatuh ke pangkuannya. Amanda mengambilnya dan menatap foto itu.


"Affan ....." Amanda tersenyum menatapnya.


Tiba-tiba suasana hatinya berubah. Amanda menyeka air matanya lalu kembali bersemangat. Dia menemukan cara untuk mengatasi masalahnya.


'Aku tidak boleh bersedih. Anak ini harus aku pertahankan. Bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkan apa yang aku mau.' Amanda bermonolog dalam hati.


Entah apa yang dia rencanakan, kesedihan di wajahnya tiba-tiba menghilang tanpa bekas.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2