
Aira masih sempat melihat bagaimana Hendro dan polisi membawa Hana pergi. Mereka melintas di hadapannya dan cepat-cepat membawa Hana. Darah menetes dari tubuh Hana dan jatuh ke lantai di sepanjang jalan yang dilewatinya.
Pemandangan ini membuat siapa pun akan merasa miris. Darah di tubuh Hana banyak yang keluar dan sulit dihentikan. Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera membawa Hana ke rumah sakit terdekat.
"Lukamu juga harus segera diobati, Aira. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu." Affan membopong tubuh Aira dan membawanya ke klinik yang ada di rumah sakit.
Jika dibandingkan dengan luka yang dialami oleh Hana, luka di tubuh Aira tidak ada apa-apanya. Bisa dikatakan luka yang dideritanya hanya ringan. Goresan dari pecahan guci tidak begitu dalam dan menghantam tulang punggungnya.
"Aku malu, Mas. Semua orang melihat ke arah kita." Aira meringis. Masih sempat-sempatnya dia memikirkan pandangan orang lain yang melihat ke arah mereka.
"Anggap saja mereka nyamuk. Keselamatanmu lebih penting dari rasa malumu, Sayang." Affan mencoba menenangkan Aira.
Aira pun terdiam. Rasa nyeri di bahunya membuatnya meringis. Meskipun tidak mengeluarkan banyak darah tetapi yang namanya luka tetaplah sakit.
Dokter yang berjaga di klinik kesehatannya segera menyambut kedatangan Affan dan Aira. Dengan cepat dia menyiapkan meja pemeriksaan untuknya. Affan berusaha untuk meletakkan tubuh Aira dengan perlahan meskipun tangannya terasa kram.
__ADS_1
Dokter dan dua orang perawat memberikan pertolongan dengan cepat. Mereka tidak banyak bicara atau bertanya kepada Affan dan Aira.
Setelah menyuntikkan obat penahan rasa sakit di bahu Aira, mereka segera membersihkan luka dan menjahitnya.
"Alhamdulillah, Nyonya. Luka Anda tidak terlalu dalam. Semoga saja tidak memberi dampak yang menyakitkan setelah ini. Jangan terkena air untuk dua atau tiga hari ke depan," saran Dokter kepada Aira.
"Terimakasih, Dok. Alhamdulillah, Allah masih melindungiku." Aira mencoba tersenyum di tengah rasa sakit yang masih menderanya.
Efek dari bius lokal yang disuntikkan oleh dokter sudah mulai memudar. Aira sudah kembali merasakan rasa nyeri.
"Bentar sekali, Nyonya. Sedikit saja pecahan guci itu mengenai nadi utama di sekitaran leher maka akibatnya bisa fatal." Dokter itu kembali memberi penjelasan yang membuat Aira tidak henti-hentinya bersyukur.
"Apakah yang kamu rasakan, Aira?" tanya Affan terlihat sangat sedih.
"Tidak apa-apa, Mas. Hanya sedikit perih saja. Aku pasti akan segera pulih." Aira tidak ingin melihat Affan merasa khawatir padanya.
__ADS_1
Dokter yang menangani Aira berniat untuk pergi dari ruangan itu. Dia tidak ingin menggangu obrolan mereka. Namun, tiba-tiba Affan memanggilnya.
"Dok, apakah Aira akan baik-baik saja setelah ini?" tanya Affan dengan wajah yang masih terlihat cemas.
"Maaf, Tuan. Mungkin selama proses penyembuhan Nyonya akan mengalami sedikit demam. Obat penahan rasa nyeri akan membantunya untuk mengurangi rasa sakitnya."
Affan tidak kuasa menahan rasa sedihnya. Pengalaman pahitnya kehilangan istri pertamanya kembali terlintas.
Trauma yang mendalam membuatnya berpikir yang tidak-tidak dan merasa cemas berlebihan.
"Aku harus segera membawamu ke rumah sakit, Sayang. Di sana kamu akan mendapatkan penanganan yang lengkap." Aira meminta perawat untuk membantu mengambilkan kursi roda untuknya.
Sebenarnya Aira tidak ingin pergi ke rumah sakit tetapi tidak ada gunanya untuk menolak. Affan memiliki kekhawatiran di atas rata-rata pria normal.
'Sebaiknya aku menurut saja. Aku tidak ingin membuat Mas Affan kembali terjebak dalam traumanya. Dia melakukan ini pasti karena sangat takut kehilangan aku.' Aira memilih pasrah dan menurut ketika Affan membawanya ke rumah sakit meskipun dia hanya menderita luka kecil saja.
__ADS_1
****
Bersambung ....