Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 68. Hana


__ADS_3

Bimo bergerak cepat dalam melakukan pekerjaannya. Sebelum berangkat ke kantor, dia sudah mengirimkan email kepada agen rahasia yang sudah lama bekerja sama dengannya.


"Sudah beres, tinggal siap-siap saja. Aku tidak boleh kecolongan lagi untuk masalah ini. Apa yang dilakukan oleh Sintya sudah melampaui batas kewajaran."


Bimo meletakkan ponselnya lalu menyetir mobilnya dengan hati-hati menuju ke kantor.


Di dalam perjalanannya, Bimo masih memikirkan tentang keselamatan Aira. Selain mengikuti Sintya, Affan juga minta beberapa pengawal bayangan untuk mengawasi Aira dari segala bahaya yang mengintainya.


Mobil yang dikendarai oleh Bimo melaju dengan kecepatan sedang cenderung lambat. Jalanan cukup padat di pagi hari. Semua orang berlomba-lomba untuk sampai pada tempat tujuannya dengan cepat.


Pandangan mata Bimo menangkap wajah orang yang sangat dikenalnya.


"Hana? Bukankah dia tinggal di Turki bersama suaminya." Teman masa kecil Bimo menyeberang di sebelah kiri mobilnya.


Bimo membuka kaca jendela mobilnya dan memastikan jika wanita yang sedang menggendong balita itu adalah Hana. Cukup lama mereka tidak bertemu tetapi wajah dan penampilan Hana tidak banyak berubah.


Wanita berhijab keturunan Indo-Timur Tengah itu terlihat sangat manis dengan hijabnya. Bimo berpikir jika Hana datang ke Indonesia untuk berlibur.


"Hana!" panggil Bimo ketika wanita itu tidak juga menyadari keberadaannya.


Hana terlalu fokus melihat jalanan sehingga tidak memperhatikan mobil Bimo yang berada tepat di depannya.


Suara Bimo membuatnya menoleh dan ingin tahu siapa orang yang memanggilnya. Langkahnya terhenti dengan pandangan fokus untuk mengamati wajah Bimo.


"Bimo!" seru Hana sambil tersenyum.


Kakinya melangkah mendekati mobil Bimo dan menatapnya dari samping mobil yang jendelanya terbuka.

__ADS_1


"Apa kabar? Sebenarnya aku ingin mengobrol denganmu tetapi aku harus buru-buru ke kantor." Bimo tidak tahu harus bersikap.


"Kantor? Boleh aku masuk?" tanya Hana.


Lampu rambu lalu lintas sebentar lagi berganti warna. Tinggal beberapa detik saja lampu merah menyala. Tidak ada waktu lagi untuk berpikir, Bimo pun akhirnya membuka kuncian pintu mobilnya dan membiarkan Hana masuk.


"Terimakasih, Bim." Hana tersenyum senang setelah duduk di samping kemudi.


Anaknya yang sedang tertidur menggeliat sebentar lalu kembali terlelap.


"Maafkan aku, Hana. Bukannya aku tidak peduli padamu tetapi aku tidak bisa mengantarmu ke tempat tujuanmu." Wajah Bimo terlihat penuh penyesalan.


"Tidak ... Tidak. Aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja menikmati keindahan kota. Aku akan pergi naik angkutan umum jika sudah sampai di perusahaanmu."


Bimo menatap Hana sekilas lalu kembali fokus melihat jalanan. Perasaannya semakin tidak enak. Hana terlihat seperti seseorang yang sedang berada di dalam masalah.


Hana terlihat menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Bimo. Dia seperti sedang menenangkan dirinya yang sedang gelisah.


"Kami sudah berpisah. Saat ini aku menumpang di rumah Dina. Aku tidak tahu bagaimana menghidupi kedua anakku yang masih kecil setelah ini." Hana menyeka air matanya yang mengalir tanpa permisi.


Cerita Hana membuat hati Bimo terhenyak. Selama ini dia memendam perasaan pada Hana, melihatnya terpuruk hatinya ikut merasakan sakit.


'Aku sudah mengubur dalam-dalam perasaanku padamu, Hana. Namun, melihatmu seperti ini rasanya aku tidak mungkin berdiam diri. Setidaknya aku bisa membantumu sebagai seorang teman.' Bimo mencoba memikirkan sebuah rencana.


"Aku tidak bisa menjanjikanmu sebuah pekerjaan tetapi aku akan mencoba menanyakannya pada atasanku. Mungkin saja dia mau berbaik hati menerimamu bekerja."


Hana tersenyum mendengar ucapan Bimo.

__ADS_1


"Masya'allah, Bimo. Kamu memang sahabat terbaikku sejak lama. Semoga saja ada rejeki untuk anak-anakku." Hana terlihat sangat bahagia.


Bimo mencoba untuk tersenyum meskipun dirinya tidak tahu bagaimana berbicara pada Affan tentang pekerjaan itu.


Mereka tidak lagi berbicara mengingat putra Hana sedang tertidur. Keadaan jalan yang ramai juga memaksa Bimo untuk tetap fokus membawa mobilnya.


Saat Bimo tiba, sudah banyak karyawan Affan yang sampai lebih dulu. Kehadiran Hana dan anaknya pun mencuri perhatian mereka. Meskipun jarang bertemu tetapi mereka tahu jika dia bukanlah istri Bimo.


Tidak lama kemudian mobil Affan menyusul mobil Bimo. Sopir yang membawanya menghentikan mobilnya tepat di sebelah mobil Bimo.


Bimo berusaha bersikap santai untuk menutupi kegugupannya. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Dalam hati Bimo berdoa agar Affan tidak marah mengingat masalah Sintya belum selesai tetapi dia membawa orang baru dan menambah daftar pemikirannya hari ini.


"Assalamu'alaikum, Boss!" sapa Bimo ketika Affan sudah turun dari mobilnya.


Ini pertama kali bagi Hana bertemu dengan Affan. Ketampanan Affan yang karismatik membuatnya begitu terpesona.


"Wa'alaikum salam." Affan menatap Hana sekilas lalu mengalihkan pandangannya.


Berbeda dengan Hana yang masih terbengong menatap Affan. Dia tidak menyadari kode dari Bimo yang melarangnya menatap Affan berlebihan.


Merasa sia-sia akhirnya Bimo pun memilih untuk memperkenalkan Hana sesegera mungkin.


"Boss, ini adalah Hana, sahabatku. Hana, ini Tuan Affan."


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2