Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 93. Tawaran Affan


__ADS_3

"Selamat sore, Pak Affan," jawab Bella sopan.


Firman menunjukkan tangannya ke arah Affan dan Bella secara bergantian.


"Kalian sudah saling mengenal? Bagaimana bisa?" Firman masih belum menyadari jika Affan adalah atasan Hana, sahabat istrinya.


Bella menggamit lengan Firman sambil tersenyum melihat tingkah suaminya yang terlihat bingung. Mereka bekerja di tempat yang bersebelahan sehingga Firman tahu siapa-siapa saja teman Bella. Sulit dipercaya jika Bella telah mengenal Affan sementara dirinya saja sudah bertahun-tahun tidak ketemu.


"Tentu saja, kami kenal meskipun baru kemarin. Pak Affan adalah Boss-nya Hana. Kemarin aku juga menjenguk Nyonya Affan," jelas Bella.


Firman membelalakkan matanya tak percaya. Semua yang terjadi di luar rencana mereka. Dibalik kisah menyedihkan Hana membuat dua orang sahabat lama bertemu kembali.


"Kebetulan macam apa ini, Fan? Aku tidak tahu jika kamu sekarang sudah menjadi boss besar. Aku pikir kamu masih mengelola kafe di depan kampus. Aku tidak sabar bertemu dengan Kayra dan anakmu." Firman sangat antusias saat mendengar jika Bella telah bertemu dengan istri Affan. Namun, dia tidak tahu jika Kayra sudah meninggal sangat lama.


Affan mengangguk dan membawa Firman dan Bella ke ruang perawatan Aira. Sulit baginya untuk menjelaskan tentang pernikahan keduanya. Kisah hidup yang telah dilaluinya tidak akan selesai diceritakan dalam waktu singkat. Terlebih saat ini ada masalah penting yang harus didahulukan dari sekedar cerita.


"Sebelum kamu bertemu dengan istri dan anakku, aku ingin meminta satu hal padamu. Jangan menanyakan sesuatu atau mengatakan apapun yang menyakiti hati istriku. Kayra sudah meninggal sejak Faya masih bayi dan sekarang aku menikah lagi dengan sahabat putriku."


Penjelasan Affan membuat Firman ternganga. Hidupnya benar-benar dipenuhi dengan kejutan hari ini. Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepalanya tetapi dia tahu situasi dan harus bisa menahan diri.


"Aku mengerti tapi kamu berhutang penjelasan padaku. Di lain kesempatan aku meminta waktumu secara khusus untuk menceritakan tentang kisah hidupmu." Firman meminta Affan berjanji.


"Kita bisa mengaturnya nanti. Sekarang kita masuk untuk menemui anak dan istriku." Affan mengetuk pintu kamar Aira.


Sebenarnya dia bisa langsung masuk tetapi jika dia hanya datang seorang diri. Ada Firman bersamanya dan sangat berbahaya jika Faya dan Aira sedang membuka auratnya. Dengan mengetuk pintu, Affan memberi waktu bagi keduanya untuk berbenah.


Setelah beberapa saat menunggu, Faya datang dan membukakan pintu. Dia mengenali Bella tetapi tidak dengan pria yang ada di sampingnya. Baru kali ini dia bertemu dengannya.


"Ayah datang bersama teman. Boleh kami masuk?" Affan meminta ijin pada putrinya.


"Iya, Ayah. Silakan masuk, Om, Tante!" Faya menggeser tubuhnya untuk memberi jalan.


Di dalam ruangan, Aira sedang menikmati buah segar yang telah dipotong-potong oleh Faya. Melihat ada tamu datang, Aira menyudahi makannya lalu menyambut kedatangan Bella dan seorang pria. Aira menyimpan piring berisi potongan buah yang sebelumnya dia makan di meja kecil samping tempat tidurnya.


"Kenapa mama melakukannya sendiri? Harusnya mama memanggilku." Faya terburu-buru mengambil piring di tangan Aira karena tangannya tidak kunjung sampai pada meja.


"Terimakasih, Sayang. Mama sudah banyak merepotkanmu hari ini." Aira berbicara sambil tersenyum.


"Mama bicara apa, coba?" Faya mendelik kesal dan membantu mengelap tangan Aira dengan tisu basah.


Firman kembali dibuat syok dengan tingkah Faya dan Aira yang terlihat sangat harmonis. Mereka mencerminkan kehidupan yang rukun dan penuh kasih sayang. Tidak ada kesan dibuat-buat dalam sikap keduanya yang dilihat olehnya.


"Sayang, perkenalkan ini temanku. Namanya Firman. Ternyata dia adalah suami Nyonya Bella," jelas Affan pada Faya dan Aira.


"Saya Aira dan ini putri kami, Faya." Aira memperkenalkan dirinya dan Faya yang saat ini sedang duduk di sampingnya.


"Senang sekali bertemu dengan keluargamu, Affan. Mereka terlihat sangat manis." Firman sangat mengagumi keluarga Affan.


Mereka mengobrol dengan santai hingga beberapa saat sampai Affan menanyakan tentang pemakaman Hana. Akhirnya Firman dan Bella setuju jika Hana dikuburkan sore ini juga.


Sarah dan Safira harus tahu tentang kematian ibunya. Mereka akan diantar oleh sopir ke pemakaman. Firman dan Bella pun setuju dengan pemikiran Affan.


Kehidupan Sarah dan Safira lebih terjamin ketika tinggal bersama Affan dan keluarganya. Selama ini mereka hidup secara sederhana bersama keluarga Firman. Di Turki pun mereka hidup serba pas-pasan karena harus tinggal bersama mertua dan istri kedua suami Hana.


Bella menceritakan kehidupan Hana secara sekilas kepada Affan dan keluarganya. Mereka merasa prihatin dan memaafkan segala kesalahan yang dibuat oleh Hana sebelumnya. Sebagai orang yang paling disakiti, Aira pun telah memaafkannya dan berterimakasih karena telah menyelamatkannya.

__ADS_1


"Kami memang berjanji untuk merawat Sarah dan Safira dengan baik. Akan tetapi, kami berharap kalian akan sering-sering mengunjunginya ke rumah. Bagi mereka, kalian adalah keluarganya. Aku yakin dengan kedatangan kalian akan membesarkan hati mereka dan membuat mereka merasa memiliki banyak kasih sayang," ucap Affan sesaat sebelum mereka pergi dari ruangan Aira.


"Itu pasti. Kami sangat senang karena ternyata Boss-nya kamu, Fan. Aku tahu betul sifat kamu. Mungkin ceritanya akan berbeda jika Hana bertemu orang lain." Firman menyesalkan kelakuan Hana sebelum kematiannya.


"Sudahlah! Kami sudah melupakannya. Biarkan dia pergi dengan tenang. Mari kita urus semuanya!" ajak Affan.


Mereka lalu berpamitan dengan Faya dan Aira. Meskipun sangat ingin ikut, Aira belum diijinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Saat ini dia masih dalam proses observasi.


Tidak lupa Affan mengabari Bimo tentang kematian Hana. Selama ini mereka bersahabat baik, bahkan Hana datang ke perusahaan bersamanya. Sebelumnya Bimo sangat sibuk dengan urusan kantor dan juga istrinya yang baru saja melahirkan, dia belum sempat menjenguk Hana.


Di pemakaman,


Safira menangis sambil memeluk baby sitter-nya. Meskipun masih sangat kecil, dia sudah tahu jika ibunya telah tiada. Affan memang meminta baby sitter-nya untuk jujur meskipun menyedihkan.


Kelak di masa mendatang, Sarah dan Safira akan mengerti dan mereka akan lebih memahami. Tidak baik membesarkan mereka dengan kebohongan, sebaik-baiknya mendidik adalah dengan kejujuran. Perpisahan memang menyedihkan tetapi semuanya akan segera terhapus oleh ketegaran.


"Sarah, Safira, Sayang. Kalian baik-baik, ya, sama Om Affan dan Tante Aira. Mereka orang yang baik. Tante dan Om akan sering mengunjungi kalian juga. Nanti kita main sama-sama." Bella mendekati Sarah yang menangis bersama seorang asisten rumah tangga Affan.


Sarah mengangguk lalu memeluk Bella dengan erat. Sebelumnya mereka sangat dekat karena tinggal di rumah yang sama. Pada dasarnya Bella memang suka anak-anak meskipun dia tipe orang yang senang kebebasan.


Bimo berdiri mematung saat proses pemakaman sedang berlangsung. Affan tiba-tiba datang bersama Firman dan menepuk bahunya pelan. Karena tidak melihat kedatangan mereka, Bimo pun tersentak dan hampir saja berteriak.


"Jangan melamun! Relakan Hana pergi dengan tenang!" Affan berdiri di samping Bimo bersama Firman.


"Aku hanya tidak menyangka dia akan pergi secepat ini. Sebelumnya dia selalu membuat gara-gara dan membuat kita emosi. Tidak kusangka itu adalah cara Hana agar kita tidak terlalu sedih ketika melepasnya. Sejauh yang kukenal, Hana adalah sosok yang baik." Bimo mengenang Hana.


Mereka bertiga kembali terdiam. Suasana remang-remang berganti dengan nyala terang lampu yang mulai dinyalakan di sekeliling mereka. Bella mengantarkan Sarah dan Safira hingga ke mobil milik Affan sedangkan dia menunggu suaminya.


"Semua sudah selesai. Mari kita mendoakan Hana sebelum kita pulang." Affan berjalan menuju ke pusara Hana diikuti oleh Bimo dan Firman.


Mereka berjalan meninggalkan area pemakaman menuju ke tempat parkir kendaraan.


"Bim, maaf, ya, aku belum menengok anak dan istrimu." Affan merasa tidak enak pada Bimo.


"Boss utamakan dulu kesehatan Nyonya Aira. Alhamdulillah istri dan anakku sehat semuanya. Mereka juga tahu jika Nyonya Aira sedang ditimpa musibah." Bimo justru mengkhawatirkan keadaan Aira yang sedang hamil.


"Terimakasih atas pengertianmu, Bimo. Semoga besok Aira sudah bisa pulang setelah lewat masa observasi. Oh, iya, ada seorang OB baru bernama Ali, dia adalah sepupu Aira. Tolong kamu tengok sesekali, soalnya dia tidak berpengalaman kerja di kantor," ucap Affan.


"Baik, Boss. Kalau begitu, aku permisi. Mas Firman, Mbak Bella, aku duluan. Assalamualaikum," pamit Bimo.


"Wa'alaikum salam." Bimo, Firman, dan Bella menjawab hampir bersamaan.


Affan melihat ke arah motor butut Firman yang terparkir di samping mobilnya. Seketika hatinya merasa tertampar. Sahabat yang pernah menemaninya merintis kafe di depan kampus ternyata memiliki kehidupan yang jauh dari kaya mapan.


Sebenarnya Firman sangat ahli dalam bidang marketing, mungkin dia tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Sifatnya yang memiliki harga diri tinggi tidak mungkin menerima pemberiannya secara cuma-cuma. Satu-satunya jalan untuk membantu Firman adalah memberinya pekerjaan yang sesuai.


"Firman, kafeku di depan kampus sangat ramai. Terkadang aku merasa sulit untuk membagi waktu. Aku jarang sekali mengunjunginya dan memeriksa pembukuan. Jika kamu mau, kamu bisa membantuku mengelolanya. Sepertinya terjadi ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran tapi aku sengaja membiarkannya karena aku juga tidak mungkin mengeceknya setiap bulan." Affan menceritakan semuanya pada Firman.


"Kamu ini bagaimana, sih? Bukankah itu adalah tempat pertama kamu mencari nafkah. Seharusnya kamu tidak mengabaikannya begitu saja. Dulu susah payah kamu membangun dan membesarkannya hingga seperti sekarang." Firman tidak rela kafe itu lama-lama menjadi surut karena tidak dikelola dengan baik.


"Kamu bisa mengelolanya. Kita bagi hasil 50:50, bagaimana? Tapi terserah kamu, jika pekerjaan kamu lebih menjanjikan, aku tidak memaksa." Affan kembali menawarkan pada Firman.


Firman tampak berpikir. Sebagai karya biasa gajinya memang pas-pasan. Saat ini dia masih membayar kredit rumah yang ditempatinya sekarang.


"Apakah istriku juga boleh ikut aku mengelola kafe?" tanya Firman yang sepertinya tidak ingin jauh dari Bella.

__ADS_1


"Tentu saja. Istrimu akan mendapatkan gaji di luar bagi hasil kita. Semakin berkembang maka pendapatan akan semakin tinggi. Tinggal kamu yang mengaturnya nanti. Jika ingin membuka cabang, aku juga siap memberi modal," ucap Affan.


Firman mengangguk.


"Aku akan memikirkannya terlebih dahulu. Jika sudah menemukan jawaban, aku akan segera menghubungimu."


Seperti biasa, Firman bukanlah orang yang tamak. Dia tidak suka mengambil keuntungan dari sebuah hubungan atau pertemanan. Harga dirinya sebagai seorang pria sangatlah tinggi dan tidak mudah dirayu dengan uang.


"Pikirkanlah baik-baik. Aku harus segera kembali ke rumah sakit. Kasihan anak istriku sudah menunggu," pamit Affan.


"Hati-hati, Fan. Salam buat anak dan istrimu. Assalamualaikum." Firman melepaskan kepergian Affan dengan berat hati.


Masih banyak hal yang ingin dia tanyakan tetapi keadaan belum memungkinkan bagi mereka untuk berbincang terlalu lama.


"Wa'alaikum salam." Affan lalu masuk ke dalam mobilnya. Sopir yang mengantarnya telah siap sejak beberapa waktu yang lalu.


Setelah kepergian Affan, Firman dan Bella pun segera kembali ke rumahnya dengan motor. Firman memang tidak ingin membeli motor baru sebelum kredit rumahnya selesai. Penghasilan keduanya tidaklah besar, belum lagi biaya sekolah anak mereka dan asisten rumah tangga yang mereka pekerjakan.


Di dalam perjalanan, Firman memikirkan dan menimbang-nimbang tawaran dari Affan. Sesampainya di rumah, dia akan membicarakan masalah ini dengan Bella. Mereka selalu membicarakan sesuatu yang penting dan memikirkannya dengan benar.


Di rumah sakit,


Aira dan Faya masih asyik mengobrol ketika Affan datang. Entah apa yang mereka bicarakan hingga tidak menyadari kedatangan Affan di sana. Mereka terkejut saat Affan tiba-tiba berdiri di belakang Faya.


"Ih, Ayah, ngagetin aja! Mana gak ketok pintu dulu lagi," omel Faya.


"Aku sudah mengetuk pintu, Sayang. Kalian aja yang tidak menghiraukannya. Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai-sampai tidak mendengar ayah datang?" tanya Affan.


Faya dan Aira saling berpandangan dan tersenyum.


"Ini urusan wanita, Ayah. Sudah mandi sana! Aku belum makan dari tadi nungguin ayah datang!" seru Faya yang tidak senang melihat penampilan ayahnya terlihat kusut.


"Baiklah, baiklah!" Affan mengambil baju ganti lalu pergi ke kamar mandi.


Aira dan Faya menatap kepergian Affan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah Affan benar-benar tidak terlihat mereka baru beralih menatap kamar mandi. Suara gemericik air juga sudah mulai terdengar.


"Untung ayah tidak mendengar semuanya. Bisa gawat, Ma," bisik Faya.


"Sudah jangan dibahas lagi. Nanti dia beneran tahu. Kita mengobrol topik lain aja." Aira memikirkan apa yang akan mereka obrolkan.


Sebuah obrolan akan mengalir begitu saja saat menemukan topik yang pas. Namun, saat dicari tidak akan seasyik ketika muncul dengan sendirinya. Seperti saat ini, Faya dan Aira malah terlihat konyol saat mencari ide percakapan.


"Sudahlah, Ma. Lebih baik aku menyiapkan makanan untuk aku dan ayah. Obrolan kita pending saja dulu." Faya menyerah.


"Iya, Fay. Sepertinya ayahmu sangat lapar. Jangan lupa siapkan minum. Ayahmu paling tidak bisa kalau makan tanpa air putih di dekatnya." Aira mulai hafal kebiasaan Affan dari hal sekecil apapun.


"Iya, Ma. Ayah suka pedes tidak?" tanya Faya saat menata makanan di atas piring.


"Kamu pisah saja sambalnya. Nanti biar dikira-kira sendiri. Kadang ayahmu tidak suka yang terlalu pedas."


"Baik, Ma." Faya tersenyum senang saat tahu jika sahabatnya itu kini sudah tahu kebiasaan kebiasaan kecil ayahnya.


'Akhirnya ayah dan sahabatku ini bisa saling menerima satu sama lain. Sebelumnya tidak pernah kubayangkan kejadiaannya akan seperti ini. Mungkin memang Aira adalah jodoh yang terbaik untuk ayah.' Faya bermonolog dalam hati dengan hati yang berbunga.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2