
"Ada apa, Bim?" tanya Affan ketika mereka sudah berdiri saling berhadapan.
Bimo terlihat sedang mengatur nafasnya yang memburu akibat berjalan terlalu cepat. Tidak ingin Affan terlalu lama menunggu, dia melakukannya secepat mungkin.
"Maaf, Boss sepertinya hari ini aku harus pulang lebih cepat. Istriku mengalami kontraksi yang semakin sering. Sepertinya dia akan melahirkan dan ...." Bimo menjeda ucapannya.
Affan mengerti. Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh Bimo dan istrinya. Lagi pula jam pulang kerja juga tinggal satu jam lagi.
"Pulanglah! Urusan pekerjaan biar aku yang tangani. Saat ini istrimu sangat membutuhkanmu. Jangan lupa mengabariku tentang perkembangannya!" Affan menepuk bahu Bimo.
Bimo mengangguk.
"Aku juga sekalian akan mengantar Hana ke rumah sakit. Anaknya sedang demam." Bimo sekalian meminta ijin untuk Hana.
"Tidak!" jawab Affan tegas.
"Lebih baik kamu pulang sekarang. Istrimu lebih membutuhkanmu," imbuh Affan.
Bimo tidak berkutik. Meskipun sangat ingin menolong Hana tetapi dia tidak sanggup untuk melawan keputusan Affan. Saat ini pikirannya sangat kacau karena memikirkan keadaan istrinya.
"Baik, Boss. Aku permisi, assalamualaikum," pamit Bimo.
"Wa'alaikum salam," jawab Affan dan Aira hampir bersamaan.
Bimo berjalan dengan sangat cepat meninggalkan Affan dan Aira. Tubuhnya tidak terlihat lagi setelah memasuki lift.
Affan kembali membawa Aira berjalan menuju ke ruangan mereka. Sepanjang perjalanan Aira terdiam. Mendengar kabar jika Safira sakit, jiwa keibuannya mendominasi.
Semua berkas yang sebelumnya dikerjakan oleh Bimo telah berada di meja Affan. Affan tidak segera menyentuhnya dan memilih duduk di sofa bersama Aira. Pekerjaan-pekerjaan itu tidak deadline untuk hari ini sehingga dia bisa bersantai.
"Mas," panggil Aira.
Affan menatap Aira yang masih memegang sop buah di tangannya. Kejadian demi kejadian membuat mereka melupakan tujuan awal yaitu untuk membeli sop buah dan salad.
"Iya, Sayang." Affan terlihat tenang walaupun pada kenyataanya dia sangat gelisah.
"Kata Pak Bimo Safira sedang demam. Kasihan Mas, kenapa mas tadi tidak mengijinkannya pulang bersama Pak Bimo." Aira tidak mengerti jalan pikiran Affan saat ini.
__ADS_1
Affan menyentuh bahunya lembut sambil tersenyum. Tidak ada niat baginya untuk menghalangi Safira yang sedang sakit untuk berobat. Mungkin Aira belum tahu tentang adanya dokter khusus yang stan by di perusahaan ini selama 24 jam.
"Kamu tidak perlu khawatir. Saat ini mungkin Safira sudah ditangani oleh dokter yang berjaga." Affan sudah menyerahkan tanggung jawab ini pada pegawai senior.
Secara sekilas Affan menjelaskan tentang klinik mini, dokter dan pertolongan pertama di perusahaan ini pada Aira. Selama tidak parah, pegawai yang mengalami sakit tidak perlu di bawa ke rumah sakit.
Aira mengangguk sebagai tanda kalau dirinya sudah mengerti. Dia tidak merasa khawatir lagi pada Safira.
"Selain karena Bimo sedang buru-buru, aku tidak mau istri Bimo merasa salah paham dengan kehadiran Hana dan anaknya," jelas Affan tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari Aira.
"Mas Affan benar. Tidak seharusnya seorang wanita yang hampir melahirkan melihat hal yang mengguncang perasaannya." Aira menambahkan.
"Istri yang bijak."
Mereka kemudian menikmati salad buah dan sop buah yang telah mereka beli. Affan belum membayarnya dan menunggu pemilik depot datang untuk menagih.
Aira memuji rasa dari salad buah yang dia makan. Affan mencoba untuk mencicipinya. Dia juga meminta Aira untuk mencicipi sop buah miliknya.
Walaupun hanya di jual di sebuah depot kecil, rasanya cukup lumayan. Sayangnya cara berpakaian dan kesopanan penjualnya mengurangi penilaian Affan.
Di tengah menikmati kudapannya, terdengar suara pintu ruangan Affan diketuk dari luar.
"Iya, Mas." Aira mengangguk.
Orang yang datang adalah Hana. Tubuh Affan menghalangi pandangannya untuk melihat ke dalam sehingga dia tidak melihat keberadaan Aira.
"Selamat sore, Tuan. Safira masih demam. Bolehkah saya numpang beristirahat di ruangan Anda," pinta Hana.
Ucapannya memang terdengar sopan tetapi itu tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang karyawan kepada pemilik perusahaan. Dari dalam ruangan Aira bisa mendengarnya dengan jelas. Namun, dia tidak ingin ikut campur dan lebih memilih untuk mempercayai suaminya.
"Kamu bisa beristirahat di ruangan yang disediakan untuk karyawan. Di sana ada beberapa fasilitas yang cukup nyaman. Jika kamu tidak tahu aku akan meminta seseorang untuk mengantarmu ke sana," jawab Affan tegas.
Tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mendekati Affan, Hana berpura-pura kelelahan menggendong Safira dan duduk berjongkok di depan Affan.
'Aku tidak boleh gagal. Setelah ini aku harus mendapatkan kesempatan untuk meminta Pak Affan untuk mengantarku pulang. Aku yakin dia tidak akan menolah. Jiwa sosialnya sangat tinggi.' Hana bermonolog dalam hati.
"Saya mohon, Tuan. Ijinkan saya beristirahat di ruangan Anda sampai jam pulang kerja saja." Hana memasang wajah sedihnya.
__ADS_1
Di saat hati Affan mulai melemah Aira datang.
'Tidak bisa dibiarkan. Ternyata Hana memang bukan wanita yang baik. Sepertinya dia memiliki maksud lain dan berniat untuk mendekati Mas Affan.' Aira tidak ingin suaminya digoda oleh wanita lain.
Wajah Hana menjadi pucat pasi saat melihat kedatangan Aira. Dia terkejut dan ketakutan seperti sedang melihat hantu.
'Hah, wanita ini masih di sini? Aku pikir tadi Pak Affan mengantarnya ke lobi untuk pulang.' Hana masih syok dengan kehadiran Aira di hadapannya.
"Kenapa duduk seperti itu, Mbak. Ayo silakan masuk kalau cuma mau beristirahat," ucap Aira mengulurkan tangannya untuk membantu Hana berdiri.
Hana merasa sangat malu pada Aira. Harapannya untuk mencari perhatian Affan pupus sudah, yang ada malah istrinya.
Affan tidak berbicara sepatah kata pun dan memilih pergi ke mejanya untuk berkemas. Dia memilah berkas yang akan dibawa dan dikerjakannya di rumah. Sedikitpun dia tidak mempedulikan keberadaan Hana dan menanyakan keadaan putrinya.
"Tubuh Safira berkeringat. Biasanya suhu badannya sudah turun. Sebentar lagi dia pasti sembuh." Aira mengamati Safira tanpa menyentuhnya.
Wanita hamil sangat rentan tertular penyakit sehingga dia sangat berhati-hati untuk melakukan kontak langsung dengan orang yang sedang sakit.
"Iya, Nyonya. Tadi dokter sudah memberinya obat." Hana berbicara dengan sedikit canggung.
Aira mengangguk. Tangannya meraih sebotol minuman dan membuka segelnya lalu memberikannya untuk Hana.
"Kamu terlihat pucat dan berkeringat. Sepertinya kamu sedang tegang. Minumlah!" sindir Aira.
Hana mengangguk tanpa berani membantah. Dia tidak tahu maksud Aira berkata seperti itu tetapi dia merasa jika ini bukan hal yang baik.
"Terimakasih, Nyonya," ucap Hana.
"Sama-sama. Oh, iya kamu nanti pulang naik apa?" tanya Aira.
Meskipun dia tidak menyukai Hana tetapi dia peduli pada Safira. Anak kecil itu tidak berdosa meskipun orang tuanya memanfaatkannya untuk menarik perhatian suaminya.
"Belum tahu, Nyonya."
"Aku akan memesankan taksi online untukmu." Aira tidak ingin berbasa-basi lagi.
Pintu ruangan Affan kembali di ketuk dari luar. Hari ini benar-benar merupakan hari yang menguras emosi bagi Aira. Namun, dia akan terus berada di sisi Affan untuk menyingkirkan para pengganggu yang datang silih berganti.
__ADS_1
****
Bersambung ....