
Aira menangkupkan kedua tangannya tidak ingin bersentuhan dengan tamu pria tersebut.
Pria itu menarik kembali lalu dengan perasaan kecewa.
'Baru kali ini aku ditolak oleh wanita. Aku jadi semakin penasaran.' Pria itu terus melirik ke arah Aira.
"Namaku Roland. Aku teman sekolah Affan juga, meskipun you know lah aku terlihat lebih muda dan tampan." Roland berbicara sambil mengendikkan bahunya.
'Narsis!' batin Aira.
Mereka kembali duduk dan ruangan itu kembali hening. Aira tidak bisa beramah-tamah dengan orang yang baru dikenalnya. Terlebih lagi dia adalah seorang pria.
Bi Sumi yang sudah bekerja lama pada Affan pun sepertinya tidak mengenal Roland dengan baik. Aira semakin yakin jika Roland jarang berkunjung ke rumah ini.
"Aku merasa sedikit haus, bisakah kamu mengambilkan minuman untukku?" Roland mulai bertingkah.
Aira melirik ke arah Bi Sumi. Sebenarnya dia ingin meminta ART lain untuk mengambilkan tetapi dia tidak tahu mereka sedang mengerjakan apa.
"Sebentar saya ambilkan," ucap Bi Sumi.
Dia berjalan meninggalkan ruangan itu untuk mengambilkan minuman dan camilan untuk Roland.
Di ruang tamu tersebut hanya tinggal Roland dan Aira saja. Untuk sejenak suasana menjadi hening. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Roland segera membuka percakapan.
"Kamu terlihat masih muda, berapa umurmu?" tanya Roland.
__ADS_1
Pertanyaan ini membuat Aira merasa risih. Tidak seharusnya tamunya itu menanyakan hal pribadi di luar bisnis. Menurutnya hal ini tidak sopan.
"Delapan belas tahun," jawab Aira dengan perasaan enggan.
"Waow! Affan seumuran denganku dan istrinya seumuran dengan putrinya. Ini adalah hal yang menakjubkan. Em, tunggu!" Roland menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Aira.
Aira beringsut menjauh hingga dia berpindah ke sofa single tetapi Roland masih mengejarnya.
"Tolong jaga sopan santun Anda, Tuan. Saya adalah seorang wanita yang bersuami." Aira mengambil bantal sofa lalu memeluknya.
Bayangan Rehan yang ingin melecehkannya kembali terlintas. Melihat gelagat Roland dirinya kembali teringat akan malam kelam itu. Malam di mana akhirnya dia harus menikah dengan ayah sahabatnya.
Roland merasa gusar dengan sikap Aira. Menurutnya sikapnya terlalu berlebihan. Selama ini dia tinggal di luar negeri yang menganut asas kebebasan.
"Jangan sok alim kamu Aira! Aku tahu kamu menikahi Affan hanya karena menginginkan hartanya. Tunggu saja jika harta Affan habis, aku akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku." Roland berbicara dengan sangat marah.
Bi Sumi muncul dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan. Bersamaan dengan itu mobil Affan muncul di halaman rumah mereka.
Bi Sumi terkejut dengan Aira yang berpindah tempat duduk dan terlihat sedih. Dia juga melihat Roland yang duduk di tempat yang berbeda.
'Pasti terjadi sesuatu selama aku pergi ke dapur. Aku merasakan gelagat yang tidak baik dari Tuan Roland.' Bi Sumi bergumam dalam hati.
"Mas Affan sudah datang. Saya permisi mau ke belakang dulu. Silakan di minum." Aira bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tamu.
Bi Sumi terbengong menatap kepergian Aira. Dia berdiri di samping sofa untuk menyambut kedatangan Affan dan menjawab jika tuannya itu bertanya.
__ADS_1
Setelah mengucap salam, Affan mencari-cari di mana Aira berada. Bi Sumi segera menjelaskan jika Aira baru saja pergi ke dalam setelah melihat kedatangannya.
Affan bersalaman dengan Roland dan segera membicarakan urusan bisnis yang akan mereka jalankan bersama. Affan tidak tahu jika Roland berniat tidak baik padanya. Mereka tampak begitu akrab sebagai seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.
'Habislah perusahaan kamu Affan. Aku akan membuatmu bangkrut sesegera mungkin.' Roland tersenyum jahat sambil memandangi lukisan yang terpajang di dinding ruang tamu untuk mengalihkan perhatian .
Di ruangan lain, Aira sedang menangis tersedu. Dia sangat mengkhawatirkan perusahaan Affan dan takut jika ancaman pria itu menjadi kenyataan.
Entah sudah berapa lama dia berdiri di depan jendela sambil melamun. Aira terkejut ketika Affan tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang.
"Mas Affan," pekik Aira pelan.
Wajahnya terlihat begitu tegang. Dia takut jika Affan melihat sisa-sisa air matanya. Rasanya tidak mungkin dia menghapusnya sekarang.
"Sedang apa, Aira?" tanya Affan lembut.
Sejenak dia memperhatikan wajah Aira. Tangan kanannya terjulur ke depan dan meraih pipi istri kecilnya itu.
"Apa yang kamu pikirkan? Mengapa kamu menangis? Apakah seseorang menyakitimu?" lanjut Affan.
Aira terlihat sedang berpikir. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap saat menatap wajah Affan.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Aku hanya sedang melamun saja." Aira tidak bermaksud untuk berbohong pada Affan. Dia menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan apa yang dialaminya hari ini.
Affan tidak langsung percaya. Sorot mata Aira mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang diucapkannya. Kini dia berpikir tentang bagaimana caranya untuk membuat Aira mau membagi kesedihan padanya.
__ADS_1
****
Bersambung ....