
Bimo menatap tajam Amanda dengan penuh ancaman. Jika bukan Aira yang memintanya maka dia akan tetap menahan Amanda di sana.
Perlahan cengkeraman tangannya merenggang. Sebelum benar-benar terlepas, Amanda telah menariknya kuat-kuat lalu pergi dari sana.
"Adab yang buruk." Bimo bergumam lirih yang nyaris tidak terdengar.
Dia kemudian pergi ke hadapan Affan dan Aira untuk menanyakan tentang kelanjutan syukuran.
"Tidak masalah. Lanjutkan saja acaranya." Affan telah bersabar atas peristiwa ini.
"Baik, Boss."
Semua orang kembali melanjutkan acara syukuran dan memasuki sesi perjamuan meskipun rasanya sudah hambar. Mereka mengerti betapa sedihnya perasaan Aira dan Affan atas sikap Amanda yang berusaha memfitnah mereka dengan berita bohong.
Aira memikirkan nasib Amanda setelah ini yang tentu saja akan merasa hancur.
Alhamdulillah Allah masih senantiasa melindungi aibku agar tidak tersebar.
Aira menggenggam tangan Affan dengan erat. Mereka berjalan berkeliling untuk menyapa para tamu dan karyawan.
Semua karyawan dan tamu undangan mengucapkan selamat pada mereka berdua.
"Berbahagialah, Aira. Meskipun di dalam hidupku ada Amanda-Amanda lain yang mungkin akan datang mengganggu. Aku akan tetap teguh dengan keimananku."
"Terimakasih, Mas."
Mereka saling berpandangan sesaat sebelum kembali melanjutkan acara. Hati mereka belum kembali tenang tetapi keduanya berusaha menutupinya dengan senyuman.
__ADS_1
"Ayah, biarkan mama beristirahat denganku di sana. Aku khawatir dirinya kelelahan." Faya terlihat khawatir.
Affan mengangguk lalu berkata, "Pergilah bersama Faya, Aira. Kamu tidak boleh terlalu lelah."
Aira mengangguk dan meninggalkan Affan seorang diri di tengah pesta.
Acara syukuran itu berjalan lancar meskipun ada sedikit gangguan sebelumnya.
Sebelum jam tiga sore, syukuran telah berakhir. Affan membantu Aira berkemas.
"Sayang, kamu tidak ingin menginap semalam lagi di sini?"
"Tidak, Mas. Bagiku tempat ternyaman adalah rumah kita sendiri."
Mereka bertiga akhirnya kembali ke rumah dengan perasaan yang campur aduk.
Di sepanjang perjalanannya, Aira lebih banyak terdiam dan melamun. Meskipun Amanda begitu jahat tetapi dia merasa kasihan padanya.
Affan merasa salah paham dengan pertanyaan Aira dan berpikir jika istrinya masih memiliki keraguan padanya.
"Mas tidak tahu," ketus Affan.
Jawaban ketus Affan membuat nyali Aira menciut. Hatinya sangat rapuh dan rawan untuk bersedih. Aira menangis.
"Ayah, bicara yang lembut sama mama." Faya menarik bahu Aira lalu memeluknya.
Affan yang duduk di jok depan bersama sopir pun menyesal dengan ucapannya. Tubuhnya memutar ke belakang menatap anak istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Aira. Aku tidak bermaksud untuk membentakmu. Aku memang tidak tahu mengenai Amanda dan kehamilannya. Sungguh, Demi Allah."
Aira mengusap air matanya lalu kembali menatap Affan.
"Aku tidak bermaksud untuk menuduh mu, Mas. Aku hanya merasa kasian pada mbak Manda. Hamil tanpa suami tentu sangat sulit baginya."
Affan kembali salah paham dengan pernyataan Aira. Kali ini dia berpikir jika Aira ingin dia bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak dia perbuat.
"Aku tidak ingin membahas tentang Amanda lagi. Dia bukan siapa-siapa dan selamanya tetap akan begitu."
Faya mengusap punggung Aira lembut. Diam lebih baik baginya ketimbang menambah keruh suasana.
'Astaghfirullah ... kenapa dengan Mas Affan? Aku tidak boleh berpikiran negatif. Mungkin saat ini dia lelah dan mengantuk karena semalam kami tidak tidur dengan baik.'
Aira mencoba mengalah pada keadaan dan menyimpan rasa pedulinya. Setelah ini dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membahas masalah Amanda lagi dengan Affan.
Hari sudah mulai gelap saat mereka sampai di rumah. Bi Sumi dan dua rekannya telah sampai di rumah terlebih dahulu sebelum mereka.
"Aku lapar, Aira. Kamu mau makan apa? Kamu juga Faya? Aku akan memesan ke restoran saja. Kasihan Bi Sumi dan yang lainnya capek." Affan mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan.
"Aku nasi goreng spesial saja, Yah."
"Aku samain aja sama punya Mas Affan."
"Baiklah, aku akan memesannya sekarang. Kalian mandilah!" Affan memesan makanan di restoran yang tidak jauh dari kompleks perumahan mereka. Tidak lupa dia juga memesan untuk tiga ART dan sopir-sopirnya.
Di dalam kamar Aira tertegun menatap sebuah foto yang dia pungut dari ruang pesta. Di antara semua foto yang disebar oleh Amanda, ini yang menurutnya paling asli. Di dalam foto terlihat Affan, Amanda dan seorang wanita berpose dengan seragam SMA.
__ADS_1
****
Bersambung ....