
Aira membantu menyiapkan baju untuk Affan saat dia sedang mandi. Sore ini mereka berencana untuk pergi ke rumah Agung dan Reni.
"Sayang! Bawa bajunya ke sini dong!" seru Affan dari dalam kamar mandi.
"Iya, Mas." Aira mengambil pakaian yang telah dia siapkan di atas tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi.
Dirinya telah siap tinggal menunggu Affan saja.
"Ini, Mas." Aira berdiri di luar kamar mandi dan menyerahkan baju Affan.
Dia tidak menyangka jika Affan memiliki maksud lain dengan memanggilnya ke kamar mandi. Affan menarik tangannya dan membawanya masuk.
"Mas Affan, aku sudah siap ini," sungut Aira. Dia khawatir suaminya merusak dandanannya.
"Aku cuma mau benerin lipstik kamu sayang. Ini terlalu merah." Affan mendekatkan wajahnya dan mencium Aira sekilas.
Ciuman itu tidak merubah sesuatu apapun. Affan hanya mencari alasan saja agar dia bisa mencium istrinya dengan mudah.
"Hmm ... jadi Mas Affan mau menjahiliku, ya?" Aira membantu mengancingkan bacu Affan.
"Tidak. Tadi beneran ada sedikit lipstik yang kurang pas." Affan menggaruk kepalanya.
"Tadi terlalu merah sekarang kurang pas. Bohong itu dosa lho, Mas. Mendingan jujur." Aira berbicara sambil membetulkan baju Affan.
"Aku malu, Aira." Affan tersipu.
Aira menatap suaminya itu dalam. Suami pemalunya itu berhasil memporak-porandakan hatinya saat ini. Jika mereka tidak sedang terburu-buru, mungkin Aira sudah menggodanya dan meruntuhkan pertahanan Affan.
"Rambut Mas Affan berantakan." Aira memalingkan wajahnya dan berpura-pura mencari sisir di dekat wastafel.
Setelah menemukannya dia memberikan sisir itu kepada Affan.
"Aku tunggu di luar, Mas."
__ADS_1
Berada di dalam satu ruangan bersama membuat dadanya terus berguncang. Mereka mulai tidak bisa mengontrol diri jika berada dalam jarak yang begitu dekat layaknya sepasang pengantin baru yang selalu menginginkan sentuhan.
"Aira, kamu cantik sekali. Rasanya sulit bagiku untuk tidak membuatmu lelah setiap malam. Astaghfirullah, sepertinya aku tidak bisa menahan diri setiap kali bersama Aira." Affan berbisik lirih saat istrinya telah pergi meninggalkan kamar mandi.
***
Mobil Affan berhenti di depan rumah Agung dan Reni. Penduduk yang tinggal di samping rumah mereka menatap heran mengapa ada mobil mewah datang ke tempat itu.
Selain Rehan, tidak ada yang memiliki mobil mewah di daerah itu. Namun, kali ini mobilnya beda.
Mereka terkejut saat melihat Aira dan Affan keluar dari mobil itu. Namun, mereka terlihat sangat senang dan berbondong-bondong menghampiri mereka.
Setelah beberapa saat berbasa-basi, Aira meminta ijin pada tetangga pamannya itu untuk bertamu ke rumah Agung.
Mereka memuji kebaikan hati Affan dan Aira yang masih mau berkunjung ke sana meskipun sebelumnya diperlukan tidak baik oleh pamannya.
"Assalamualaikum, Om Agung Tante Reni!" sapa Aira sambil mengetuk pintu.
Affan berdiri di belakangnya menenteng buah tangan yang mereka bawa. Di perjalanan mereka membeli kue kering dan beberapa minuman kaleng.
Pintu rumah terbuka dari dalam dan menampakkan wajah Agung yang terlihat pucat.
"Aira! Affan! Masuklah!" Wajahnya terlihat senang menyambut keponakan dan suaminya itu.
"Terimakasih, Om. Ini ada sedikit oleh-oleh dari kami." Aira menyerahkan bingkisan yang dibawanya.
Mereka duduk bertiga di ruangan itu. Tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka sehingga membuat Aira dan Affan bertanya-tanya tentang keberadaan bibinya.
Agung mengatakan jika Reni bekerja di sebuah salon kecantikan setelah dirinya sakit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua.
Aira dan Affan tidak membahas lagi mengenai pertemuan mereka beberapa hari yang lalu dan sejumlah uang yang mereka berikan. Reni pasti tidak menceritakan tentang hal itu.
Melihat kondisi pamannya, Aira merasa iba. Dirinya telah melupakan semua hal buruk yang diterimanya di masa lalu. Affan memberikan sebuah kartu akses masuk rumah sakit atas jaminan perusahaannya untuk memeriksakan diri.
__ADS_1
Mengingat sifat materialistis Reni, uang tidak akan menyelesaikan masalah ini. Jika diberikan uang tunai pasti mereka gunakan untuk keperluan lain.
Setelah berbicara panjang lebar, Affan akhirnya mengungkapkan tujuan kedatangannya. Mereka mengundang Agung dan Reni untuk menghadiri syukuran yang akan dilaksanakan seminggu lagi.
Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Affan dan Aira pun berpamitan untuk pulang.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam tetapi Reni juga belum terlihat pulang. Di dalam perjalanannya mereka juga tidak saling berpapasan.
"Sayang, aku lapar. Kita cari makan sekalian, ya." Affan memperlihatkan wajahnya yang memelas.
"Iya, Mas. Aku juga sudah lapar. Faya pasti juga sudah makan duluan."
"Kamu mau makan apa? Biar aku cari rumah makan terdekat."
"Aku tiba-tiba pengen makan mie ayam, Mas. Sudah beberapa hari ini aku pengen banget." Aira terlihat menelan ludah.
Affan juga merasakan hal yang sama dan merasa heran bagaimana bisa mereka menginginkan makanan yang sama.
"Ya, sudah kita makan mie ayam malam ini. Lain kali kalau kamu ingin makan sesuatu atau mau beli sesuatu jangan sungkan bilang, ya. Aku akan mengantarmu."
Aira mengangguk senang.
Mobil mereka berhenti di sebuah warung makan yang terlihat ramai.
Keduanya berbaris untuk mengantri. Affan berdiri di belakang Aira dengan memegang bahunya dengan kedua tangannya.
Cukup lama mereka menunggu. Di tengah antriannya Aira terlihat gelisah. Tangannya menutup mulutnya dengan ujung jilbabnya.
"Mas Affan, aku tunggu di sana saja, ya. Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman." Aira menatap Affan dengan tatapan memohon.
"Iya, Sayang. Duduklah. Biar aku yang memesan makanan untukmu."
Aira tidak lantas masuk ke dalam warung makan dan memilih tempat duduk yang berada di luar. Perutnya merasa sangat mual saat mencium aroma minyak wangi dari tubuh pengunjung yang mengantri didepannya.
__ADS_1
****
Bersambung ....