Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 81. Rencana Penjebakan


__ADS_3

Aira bangun lebih awal dari biasanya. Dia terlihat sangat bersemangat hari ini. Sebelum Affan turun untuk sarapan, Aira sudah selesai dengan acara memasaknya.


"Baunya harum sekali. Masakan kamu pasti enak." Affan memuji masakan Aira.


"Mas Affan bisa aja." Aira mengambilkan makanan untuk Affan lalu untuk dirinya sendiri.


Bekal makan siang untuk mereka juga sudah tertata rapi. Dia tinggal mengganti bajunya dan berdandan ala kadarnya sebelum ikut Affan ke kantor. Cukup dengan penampilannya yang sederhana, Aira sudah terlihat sangat memikat.


Affan mengobrol bersama Faya sambil menunggu Aira selesai berkemas. Hari ini Faya ada jadwal kuliah pagi sehingga tidak bisa mengobrol lebih lama dengan ayahnya. Dia juga tidak menunggu Aira selesai bersiap.


"Faya sudah berangkat, Mas?" tanya Aira ketika dia sudah siap dan berjalan menghampiri Affan.


"Sudah. Katanya dia ada kuliah pagi jadi buru-buru tadi. Kita berangkat sekarang, Sayang." Affan menggandeng tangan Aira dan membawanya berjalan pelan.


"Oh, iya, kemarin dia sudah bilang." Aira tersenyum.


Dengan telaten Affan membantu Aira untuk naik ke mobil lalu duduk dengan nyaman. Dia memperlakukannya seperti seorang ratu yang tentunya akan membuat iri semua wanita yang menyukainya.


Hari masih terlalu pagi tetapi Affan terbiasa datang ke kantor pagi-pagi sekali. Terlebih lagi Bimo sedang mengambil cuti. Semua pekerjaan dia harus menanganinya seorang diri.


"Nanti kita pulang lebih awal, Sayang. Aku ingin pergi untuk menjenguk istrinya Bimo. Em, tapi aku tidak tahu harus membawa apa. Takutnya Bimo sudah membeli seluruh perlengkapan untuk anaknya." Affan menatap Aira seolah meminta pendapatnya.


"Kita, kan, menjenguknya di rumah sakit, Mas. Tidak mungkin kalau kita ngasih barang. Kasihan nanti mereka bawanya. Bagaimana kalau kita kasih beberapa voucer untuk mengambil perlengkapan bayi? Biar mereka memilih hadiahnya sendiri nantinya," usul Aira.


Affan setuju dengan jawaban Aira. Dia akan memberikan voucer untuk Bimo dan istrinya untuk memilih barang yang dia inginkan dari toko peralatan bayi yang menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Dengan begitu mereka tidak akan memberikan barang yang mubadzir.


Perusahaan Affan masih sepi ketika mereka tiba di sana. Baru segelintir karyawan yang datang pagi itu. Namun, Affan tidak mempermasalahkan hal ini karena memang belum masuk jam kerja.


Aira membantu membereskan ruangan Affan yang sedikit berantakan. Dia menata ulang beberapa barang agar lebih rapi dan sedap di pandang. Petugas kebersihan memang tidak setiap hari membersihkan ruangan itu karena Affan selalu menggunakannya setiap hari.

__ADS_1


Biasanya Affan meminta OB untuk membersihkannya ketika dia sedang pergi keluar untuk rapat atau meeting.


"Biarkan saja seperti itu, Sayang. Nanti kamu capek. Aku bisa nyuruh OB untuk membereskannya." Affan tidak tega melihat Aira berjalan ke sana kemari untuk membereskan ruangannya.


"Aku cuma menata beberapa barang saja, Mas. Lihat jadi rapi, kan?" Aira menunjukkan hasil kerja kerasnya.


"Rapi banget tapi aku tidak mau kamu capek. Duduklah sekarang!" seru Affan dengan nada memerintah.


"Iya, Mas. Aku ke kamar mandi dulu."


Meskipun sangat ingin melakukan pekerjaannya tetapi menaati suami lebih utama dari segalanya. Percuma saja dia melakukan seribu kebaikan jika tidak mendapatkan ridho dari suaminya.


Aira sedikit lebih lama berada di kamar mandi karena sekalian membersihkan tubuhnya yang terkena debu di beberapa bagian. Saat bercermin ada debu hitam yang menempel di wajahnya.


Seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan Affan. Tidak biasanya ada tamu yang datang sepagi ini untuk menemuinya kecuali Bimo.


Affan mencoba mengacuhkannya dan kembali bekerja tetapi pintu ruangannya kembali diketuk. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya enggan berdiri. Dia mengambil remote lalu menekan sebuah tombol untuk membuka pintu.


"Aku tidak memintamu untuk membawakanku kopi. Letakkan di sana saja." Affan menunjuk ke meja penerimaan tamu tanpa melihat wajah Hana.


Dengan perasaan kesal Hana pun menuruti perintah Affan. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengambil simpatinya hari ini.


"Maaf, Pak Affan. Anda sudah terlalu baik kepada saya. Ini adalah wujud dari pengertian saya. Tanpa Pak Bimo, Anda pasti akan bekerja sangat keras dan lupa untuk meminta dibuatkan kopi," ucap Hana beralasan.


Affan tetap bersikap acuh dan terus bekerja. Menanggapi Hana hanya akan membuang-buang waktu saja. Pekerjaannya harus selesai lebih cepat karena dia harus pergi menjenguk istri Bimo.


"Kamu boleh kembali bekerja." Affan tidak ingin mendengar lagi Hana berbicara hal yang tidak penting.


Sikap acuh Affan diartikan sebagai amarah oleh Hana. Bukannya pergi dia malah berjalan mendekati Affan.

__ADS_1


"Aku sungguh-sungguh minta maaf, Pak. Juga soal masalah kemarin. Safira sudah lebih baik sekarang tetapi aku meninggalkannya di rumah agar dia bisa beristirahat dengan baik." Hana memancing kepedulian Affan dengan menceritakan tentang Safira.


"Hmm." Affan hanya mengangguk saja.


'Aku merasa begitu tertantang untuk menakhlukanmu Affan. Dengan atau tanpa Aira tidak masalah bagiku. Hidupku akan terjamin meskipun hanya menjadi simpananmu saja.' Angan Hana melambung saat melihat Affan begitu tampan saat bekerja.


Merasa Hana tidak kunjung pergi, Affan meletakkan pulpennya dengan keras lalu menatap ke depan. Ternyata benar jika Hana masih berdiri di hadapannya.


"Aku akan memanggilmu jika aku membutuhkan sesuatu. Jangan datang kemari jika aku tidak memintamu untuk datang," tegas Affan.


"Baik, Tuan. Biarkan aku membersihkan sampah-sampah ini terlebih dahulu sebelum aku pergi." Hana sengaja mengulur waktu agar bisa berada di dalam ruangan Affan lebih lama.


Aira sebenarnya sudah selesai sejak tadi tetapi dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Hana. Selama Affan tidak memanggilnya maka tidak ada yang tahu jika dia sedang berada di ruangan itu. Hanya sedikit karyawan perusahaan yang melihatnya datang bersama Affan.


Hana memunguti kertas-kertas yang terjatuh di lantai lalu menatanya di atas meja Bimo. Dia juga mengambil kertas yang tidak terpakai dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. Senyuman samar terlihat di wajahnya ketika dia mendengar langkah kaki sedang menuju ke ruangan Affan.


Dia berencana untuk membuat sebuah kesalahpahaman yang akan menguntungkannya. Dengan begitu dia berharap Affan akan tertarik padanya.


'Aku sangat yakin dibalik sifat acuh Affan tersimpan rasa tertarik padaku. Buktinya dia tidak sanggup memandangku karena takut tergoda saat melihatku. Langkah yang datang sudah siap, aku harus segera bersiap.' Hana mengambil kertas sampah yang jatuh di samping meja Affan.


Saat pintu ruangan Affan diketuk dia berpura-pura terkejut dan merasa panik. Hana beranjak dengan cepat dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Affan. Siku tangannya menekan tombol remote yang membuat pintu itu terbuka.


Hendro yang datang mengantarkan berkas untuk Affan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyangka jika atasannya yang terkenal sangat alim itu berlaku tidak sopan pada pegawai baru seperti Hana.


'Apa mungkin kabar yang beredar itu benar, ya? Hana adalah istri siri Pak Affan. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. Ah, aku tidak boleh suudzon. Lebih baik aku melakukan pekerjaanku saja dan tidak mengurusi urusan pribadi Pak Affan.' Hendro melangkah masuk menuju ke hadapan Affan.


Affan mendorong tubuh Hana dengan cepat dan menatapnya dengan tatapan jijik. Bukannya pergi Hana malah duduk di sebuah kursi dan menangis. Sontak keadaan ini semakin mengundang rasa ingin tahu dari Hendro.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2