Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 92. Berduka


__ADS_3

Setelah mendapatkan persetujuan dari Aira, Affan pun menceritakan kejadian pahit yang dialami oleh Aira. Dia sudah berjanji untuk mengatakan sebuah kejujuran termasuk juga dengan perasaannya. Di awal pernikahannya, Affan dan Aira tidak memiliki perasaan sama sekali.


Meskipun Affan menceritakan secara singkat tetapi dia tidak melewatkan detail ceritanya. Aira tidak lagi menangis seperti dulu ketika mengingat kisah hidupnya. Yang dia rasakan saat ini adalah kerinduannya pada ayah ibunya.


"Terimakasih, kalian sudah mau berbagi cerita. Meskipun belum mengenal kalian dengan baik, tetapi aku percaya jika apa yang kalian katakan adalah benar. Dalam waktu seminggu aku tinggal bersama Om Agung dan Tante Reni, aku sudah tahu seperti apa sifat mereka. Tante Reni tidak pernah bersikap manis pada Om Agung dan juga padaku. Beliau juga tidak segan-segan meminta uang padaku untuk membeli kebutuhan mereka. Jika tidak dicegah oleh Om Agung saat Tante Reni tidak ada di rumah, mungkin seluruh uangku sudah kuserahkan untuknya. Aku merasa kasihan pada Om Agung tapi aku tidak tahu harus bagaimana membantunya." Ali terlihat sedih.


"Sebaiknya kamu pikirkan masa depanmu saja, Kak. Biar cukup aku saja yang menjadi korban ketamakan mereka. Seluruh harta peninggalan orang tuaku telah habis dijual tetapi mereka tidak mau menampungku. Bahkan mereka terkesan menjual ku. Jika kakak ingin bekerja di sini sebaiknya kakak menyewa tempat tinggal yang terpisah dengan mereka." Aira mengungkapkan pendapatnya.


Affan juga sependapat dengannya. Sebenarnya dia ingin menawarinya pekerjaan tetapi dia takut menyinggungnya mengingat Ali hanya seorang lulusan SMP. Untuk bekerja di kantornya, setidaknya harus lulus SMA itu pun hanya bekerja sebagai OB.


"Sedang aku pikirkan. Biaya hidup di sini cukup mahal. Mungkin aku akan kembali ke Kalimantan saja karena aku sudah terbiasa hidup di sana. Rasanya sangat sulit untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru tanpa dukungan dari siapapun," ucap Ali yang secara tidak langsung dia menyatakan jika dia membutuhkan bantuan.


Aira menatap Affan dengan penuh harap. Meskipun dia istrinya tetapi dia tidak berani untuk memintanya menampung saudaranya di perusahaan miliknya. Terlebih lagi dengan minimnya pengalaman dari Ali.


Seakan mengerti arti dari tatapan Aira, Affan menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di perusahaan ku sebagai OB. Kamu bisa langsung bekerja dan tidak perlu mengirimkan surat lamaran." Affan melihat keseriusan di wajah Ali.


"Aku mau, Pak. Kapan aku bisa mulai bekerja?" tanya Ali.


"Jangan katakan ini pada, Om Agung dan Tante Reni. Sebaiknya Kak Ali mencari kontrakan lebih dulu. Jika susah baru mulai bekerja. Ada banyak kos-kosan di sekitar perusahaan Mas Affan." Aira tidak ingin Ali nantinya diperalat dan diperas oleh Agung dan Reni.


Ali pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aira. Dia terlihat sangat bersemangat dan ingin mencari tempat kos hari ini juga. Namun, kendalanya Ali tidak terbiasa hidup di kota dan tidak tahu arah.


Meskipun tidak diminta, Affan pun merasa tidak tega. Dia meminta sopir perusahaan untuk datang dan mengantarkan Ali mencari kos-kosan di sekitar perusahaannya. Kebetulan ada beberapa karyawan yang juga tinggal di kos sehingga mereka bisa berangkat bersama nantinya.


Ali mengucapkan terimakasih lalu pergi dari rumah sakit setelah sopir yang menjemputnya datang. Hidupnya yang terlunta-lunta akhirnya mendapatkan solusi. Namun, setelah ini dia masih harus menghadapi Agung dan Reni untuk berpamitan.


Apapun tanggapan mereka, Ali tetap harus pergi dari rumah itu. Kehidupannya selama ini tidaklah manis. Dengan susah payah dia mengumpulkan uang. Ali tidak mau jika Agung dan Reni mengambil semua hartanya lalu mengusirnya seperti yang dilakukan pada Aira.


Setelah kepergian Ali, Aira kembali menagih janji pada Affan untuk pergi menjenguk Hana. Seperti sebelumya, Affan harus meminta ijin terlebih dahulu pada Dokter Dharma sebelum masuk ke ruangan Hana. Mereka juga harus ditemani seorang dokter jaga ketika berada di dalam ruangan.


Sore ini Dokter Dharma sedang tidak bertugas. Di ruang jaga ada Dokter Bagas yang menggantikannya. Setelah meminta ijin, Affan dan Aira pergi ke ruangan Hana ditemani oleh Dokter Bagas.

__ADS_1


"Sayang, apapun yang kamu lihat, jangan pernah membuatmu bersedih. Perasaan bersalah yang berlebihan akan membuatmu tertekan dan tidak baik untuk kandungan kamu. Semua yang terjadi pada Hana sudah menjadi ketetapan Allah. Mungkin saja dengan penyakit yang dideritanya saat ini, Allah ingin membersihkan dosa-dosanya yang telah lalu." Affan memberi nasihat pada Aira di tengah perjalanan mereka.


"Iya, Mas. Sebenarnya Hana masih memiliki sisi yang baik. Semoga saat diberi kesempatan kedua, dia bisa menjadi seorang wanita yang bermartabat." Aira terlihat lebih tegar dari sebelum-sebelumnya.


Affan mengangguk.


Jarak antara ruang jaga Dokter Bagas dan ruang perawatan Hana lumayan jauh. Mereka butuh waktu yang sedikit lama untuk sampai. Saat di tengah perjalanan, mereka melihat ada sesuatu yang tidak beres.


Beberapa orang dokter berlari menuju ke arah ruangan Hana termasuk dokter yang bertugas untuk memantau keadaan Hana selama 24 jam secara bergantian. Dokter Bagas pun ikut berlari untuk menyusul mereka meninggalkan Affan dan Aira. Keadaan yang membingungkan ini membuat Affan dan Aira bertanya-tanya.


"Mas," panggil Aira dengan wajah yang terlihat sendu.


Hatinya merasa tidak enak melihat banyak dokter yang berlari memasuki ruangan Hana.


"Sabar, ya. Kita tunggu di sini. Kita tidak boleh masuk sembarangan meskipun sebelumnya sudah diijinkan. Biarkan para dokter bekerja dengan tenang." Affan membawa Aira menepi lalu mereka duduk menghadap ke ruangan perawatan Hana.


Setelah sekitar setengah jam berlalu, seorang dokter keluar dari dalam ruangan Hana disusul dokter-dokter lain yang juga keluar satu persatu dari sana. Affan segera beranjak menyongsong mereka untuk menanyakan bagaimana keadaan Hana. Aira mencoba bersabar dan tetap menunggu di tempatnya.


"Bagaimana keadaan Hana, Dok?" tanya Affan ketika dia sudah berada dihadapan Dokter Bagas.


"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Affan yang masih belum mengerti arti dari gelengan kepala Dokter Bagas.


"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Nyawa Nyonya Hana tidak bisa terselamatkan lagi." Dokter Bagas berbicara dengan suara berat.


Sebagai seorang dokter dirinya juga merasa gagal karena tidak berhasil menyelamatkan pasien. Namun, semua yang terjadi di luar batas kemampuannya. Sebagai manusia biasa dia hanya bisa berusaha dan berdoa sedangkan hasil tetaplah Tuhan yang menentukan.


Affan tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Aira setelah tahu tentang kabar kematian Hana. Mungkin saja Aira sudah mendengarnya mengingat jarak di antara mereka cukup dekat. Dia lalu berjalan dengan gontai menghampiri Aira yang terus menatapnya.


Sebelum Affan mengatakan apapun air mata Aira sudah jatuh berderai membasahi pipinya. Dia sudah mendengar apa yang dikatakan oleh dokter bersama Affan. Di tengah kesedihannya dia mencoba untuk ikhlas melepaskan kepergian Hana.


"Kita harus ikhlas. Mungkin ini memang sudah jalannya. Kita akan mengurus semuanya dan juga merawat anak-anaknya. Mereka tidak tahu apa-apa. Semoga saja Sarah tabah untuk melepaskan kepergian ibunya." Affan bicara dengan suara yang berat.


Air hanya bisa mengangkut. Bibirnya sangat sulit untuk digerakkan. Saat ini hatinya benar-benar merasa sangat sedih.

__ADS_1


Mereka pergi untuk terakhir kalinya melihat Hana di ruangannya. Masih ada dua orang dokter yang membereskan alat-alat yang telah selesai dilepaskan dari tubuh Hana ketika Affan dan Aira datang ke sana.


Aira membuka penutup wajah Hana dan melihatnya begitu tenang seperti seorang yang sedang tertidur. Wajahnya terlihat sangat bersih seperti tidak ada kesedihan di sana. Bibirnya sedikit terangkat seperti sedang tersenyum.


Mereka hanya melihatnya sebentar saja karena tidak sanggup menahan kesedihannya. Setelah ini Affan akan mengabari Bella dan membicarakan pemakaman untuk Hana. Jika dia setuju, Affan ingin Hana dimakamkan hari ini juga.


Kondisi tubuh Aira yang belum pulih sepenuhnya sehingga harus sering-sering beristirahat. Beruntung Faya segera datang untuk menemaninya karena Affan harus mengurus banyak hal. Administrasi rumah sakit dan pemakaman harus diurus dengan cepat.


Faya menemani Aira dan menenangkannya.


"Hana rela kehilangan nyawanya demi menyelamatkanku, Faya. Aku merasa berhutang budi padanya. Aku berjanji akan merawat dan membesarkan Sarah dan Safira seperti anakku sendiri." Aira masih terisak memikirkan nasib anak-anak Hana yang masih kecil.


"Aku selalu mendukung niat baikmu, Ma. Kita akan merawat mereka dengan baik. Semoga saja mereka tumbuh menjadi anak-anak yang solihah sehingga bisa menjadi orang yang sukses di kemudian hari. Tante Hana pasti sangat senang jika melihat kedua putrinya tidak kekurangan kasih sayang." Pemikiran Faya juga sejalan dengan pemikiran Aira.


Affan mengurus semuanya sendiri karena dia tidak berani mengganggu Bimo yang mungkin saat ini sedang pusing mengurus perusahaan seorang diri. Terlebih lagi sudah mendekati akhir bulan, di mana banyak sekali laporan yang masuk dari perusahaan cabang. Mungkin, besok pagi Affan juga belum bisa ke kantor jika Bella tidak menyetujui pemakaman Hana sore ini.


Saat Affan sedang mengantri pelunasan administrasi di depan, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kedatangan seseorang.


"Hai! Sepertinya aku tidak asing dengan wajahmu? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria itu sambil mengamati wajah Affan.


"Firman!" pekik Affan.


"Em, namamu Affan, ya, kalau tidak salah?"


"Iya, benar. Apa kabar kamu? Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Affan.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Tapi tidak dengan sahabat istriku, aku dengar dia meninggal hari ini. Semoga saja amal baiknya diterima dan dosanya diampuni." Firman terlihat bersedih.


Baru saja Affan ingin menanyakan tentang hal lain, orang yang sangat dikenalnya kembali muncul. Tidak di sangka sebuah tragedi mempertemukannya dengan seorang sahabat lama yang pernah berjuang bersama. Sebuah kebetulan yang sangat langka di mana Firman ternyata adalah suami Bella.


"Selamat sore, Nyonya Bella," sapa Affan ketika Bella sampai di sisi Firman.


Firman terlihat bingung saat Affan telah mengenal istrinya sebelum dirinya memperkenalkannya.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2