Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 76. Teman Lama


__ADS_3

Masih ada beberapa pegawai yang lembur saat Affan dan Aira pulang dari perusahaannya. Meskipun pekerjaan terkadang menumpuk, Affan tidak mengijinkan mereka lembur hingga larut malam. Maksimal jam enam sore mereka sudah harus pulang.


Affan akan mempertanggungjawabkan keterlambatan dan ganti rugi jika pihak pengguna jasa atau perusahaan yang bekerja sama menuntutnya. Namun, sejauh ini belum ada yang melakukannya. Mereka sangat percaya pada kinerja perusahaan Affan.


"Sayang, aku ingin membawamu ke kafe. Sudah lama aku tidak mengunjunginya," ucap Affan ketika mereka sudah ada di dalam mobil.


"Boleh. Sudah lama kita tidak jalan-jalan." Aira memeluk lengan Affan dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


Hal kecil seperti ini sudah membuatnya merasa sangat bahagia. Meskipun menjadi istri seorang pengusaha kaya, dia tidak suka menghambur-hamburkan uang.


"Pak! Antar kami ke kafe Tendean, ya!" perintah Affan pada sopir perusahaan yang mengantarnya.


"Baik, Tuan."


Mobil yang membawa Affan melaju meninggalkan perusahaan menuju ke kafe milik Affan. Kafe penuh kenangan yang menjadi penopang hidup saat dirinya menikah dengan Kayra.


Sudah sangat lama dia tidak datang mengunjungi kafe itu. Affan selalu teringat Kayra jika berada di sana. Namun, setelah dia bisa menerima kehadiran Aira sebagai istri, perlahan rasa patah hatinya kian pudar.


Kepergian Kayra membuatnya terjebak dalam kenangan yang membuatnya terpuruk. Sebelum bertemu Aira sama sekali dirinya tidak memiliki keinginan untuk menikah lagi.


Kafe milik Affan berada tepat di depan kampus tempatnya menimba ilmu. Tidak banyak yang berubah dari bangunan dan tata ruang di dalamnya. Halamannya yang luas dipenuhi kendaraan para mahasiswa yang berkunjung ke sana.


Affan terlihat ragu-ragu saat akan turun dari mobilnya. Tubuhnya berkeringat di dalam mobil yang ber-AC. Sepertinya dia sedang berusaha sekuat hatinya untuk mengubur seluruh kenangan masa lalunya.


Sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Affan, Aira tidak berpikir bagaimana caranya untuk mengusir ketegangan yang terjadi. Suaminya harus benar-benar terlepas dari rasa bersalah dan kesedihan yang berlebihan.

__ADS_1


"Mas Affan! Ramai sekali kafe ini. Pasti makanannya enak-enak. Bisakah kita turun sekarang?" tanya Aira dengan wajah yang berbinar.


"Tentu saja." Affan mencoba tersenyum.


'Syukurlah Mas Affan bisa segera menguasai dirinya. Semoga setelah ini dia lebih berani dalam menghadapi kenyataan hidup. Apa yang telah terjadi di masa lalu adalah takdir yang harus diterimanya dengan ikhlas.' Aira tersenyum melihat Affan turun dari mobilnya lebih dulu lalu membantunya untuk turun kemudian.


Mereka berjalan bergandengan tangan memasuki area kafe. Dari luar kafe sudah bisa terlihat jika keadaan di dalamnya sangat rame. Cukup banyak orang yang bekerja di sana, mereka rata-rata adalah mahasiswa yang mengambil kerja paruh waktu.


"Menakjubkan! Penataan di dalam kafe sangat bagus, apakah Mas Affan yang mendesainnya?" tanya Aira lirih.


Pengunjung kafe memperhatikan mereka sehingga Aira lebih kalem dalam berbicara. Meskipun belum bisa dikatakan dewasa tetapi Aira bisa membawa dirinya dan tanggap akan situasi disekelilingnya.


"Iya, Sayang. Dulu aku dan almarhumah Kayra yang mendesain kafe ini. Aku sengaja tidak merubahnya," ucap Affan.


Aira mengangguk.


"Aku juga sedang memikirkannya. Mungkin akan ada penambahan warna juga saat pengecatan agar lukisan di dinding bisa terlihat lebih hidup," imbuh Affan.


"Iya, Mas."


Mereka akhirnya menemukan sebuah meja kosong setelah berjalan berkeliling di seluruh ruangan. Affan menarikkan sebuah kursi untuk Aira.


"Kamu tunggu di sini. Aku ingin melihat keadaan di belakang. Kamu pesankan juga minuman dan makanan ringan untukku juga," ucap Affan.


"Baik, Mas. Aku akan menunggu di sini." Aira meraih buku menu yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


Cukup banyak jenis makanan dan minuman yang dijual di sana. Harganya cukup bersaing dan bervariasi sesuai dengan isi kantong seorang mahasiswa.


Seorang pria yang mengenakan topi tiba-tiba muncul lalu duduk di depan Aira. Wajahnya kurang begitu jelas karena tertutup oleh masker. Posisi duduk pria itu tepat berada di samping Aira.


Merasa tidak nyaman akan hal ini, Aira segera beranjak dan mengambil tempat duduk lain agar tidak terlalu dekat dengan pria asing itu.


"Apa kabar, Aira? Kamu pasti sudah melupakanku." Aksen cadel kebule-bulean dari pria itu terasa tidak asing bagi Aira.


"Alhamdulillah, baik. Maaf sepertinya kita tidak bisa berlama-lama mengobrol. Aku takut orang lain merasa salah paham dan berpikir jika kita memiliki kedekatan." Aira berusaha untuk menghindari fitnah.


"Aku steve. Kamu masih ingat?" Steve segera memperkenalkan diri sebelum Aira mengusirnya pergi.


Aira membulatkan matanya. Steve adalah orang yang pernah menabrak mobil Faya lalu bersekolah di SMA yang sama dengannya. Sudah pasti Steve mengetahui semua berita tentang Aira yang telah menikahi ayah sahabatnya.


Perasaan Aira sedikit lega ketika seorang pelayan kafe datang menghampiri mejanya untuk mencatat apa saja yang akan dipesannya. Untuk mengikatnya lebih lama Aira memesan dengan lambat dan pura-pura bingung memilih menu.


Steve terlihat tidak sabar dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara empat mata dengan Aira. Kesempatan itu datang ketika pelayan kafe pergi dari hadapan mereka.


"Aira, dengarkan aku. Aku aku sangat menyesal karena bertemu denganmu di waktu yang salah. Sejak awal pertemuan hingga saat ini aku telah menaruh hati padamu. Aku akan menerimamu jika kamu tidak bahagia dengan laki-laki tua itu, Aira." Steve berbicara dengan suara pelan.


"Kamu tidak lebih baik dari suamiku. Aku sangat mencintainya dan tidak akan memberikan kesempatan pada siapapun untuk berharap. Tolong pergilah dari sini, Steve! Jangan sampai ada yang menyangka jika kita dekat." Aira sengaja berbicara dengan suara yang agak tinggi.


Steve tidak menyangka jawaban Aira begitu tegas. Namun, bukannya menyerah, Steve malah semakin mengagumi sosok gadis yang sulit didapatkan seperti Aira.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2