Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 71. Sebuah Berita


__ADS_3

Jari Affan menggeser tombol hijau di layar ponselnya dengan ragu-ragu sambil menatap ke arah Aira. Setelah panggilan terhubung dia menempelkan ponselnya di telinganya.


"Hallo, assalamu'alaikum," jawab Affan memulai percakapan.


"Wa'alaikum salam." Suara itu terdengar tidak asing di telinga Affan.


"Kupikir kamu tidak akan mengangkat teleponku. Oh, iya, aku ingin menanyakan sesuatu hal yang penting padamu," lanjut si penelepon.


Aira ikut mendengarkan obrolan mereka. Dia juga merasa tidak asing dengan suara orang yang menelepon Affan.


"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara hal yang tidak penting denganmu." Ucapan Affan terhenti ketika Sintya kembali menyela.


"Tunggu-tunggu! Aku ingin tahu ada hubungan apa kamu dengan Hana? Atau jangan-jangan anak yang biasa dibawanya bekerja adalah anakmu. Aku ingin tahu seperti apa reaksi Aira saat tahu jika kamu menyimpan wanita lain di perusahaanmu." Sintya terus berbicara untuk menyudutkan Affan.


Affan menatap Aira dan berpikir jika Sintya memiliki hubungan dengan Hana. Tidak ada yang tahu tentang Hana selain pegawai yang bekerja di perusahaannya. Meskipun belum bisa mengambil kesimpulan, Affan berpikir jika Hana memiliki relasi dengan Sintya.


"Aku tidak mengenal Hana. Sepertinya kamu sangat tahu tentangnya. Kamu tidak akan berhasil jika mengirimnya untuk menghancurkan rumah tanggaku." Affan membalikkan ucapan Sintya.


"Aneh! Mana mungkin aku membiarkan wanita udik itu mendekatimu. Kamu tidak perlu tahu darimana aku mengetahui berita ini. Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Aku tidak akan memberitahukan Aira tentang Hana dan sebagai gantinya kita menikah secara diam-diam." Sintya sangat yakin jika Affan akan mempertimbangkan keinginannya.


"Menikah diam-diam? Hah, kamu berangan terlalu tinggi Sintya. Sedikitpun aku tidak tertarik padamu jadi jangan berharap."


Ucapan Affan membuat Sintya meradang. Sangat sulit baginya untuk mendekati Affan sedangkan Hana yang baru datang bisa mendapatkan perhatiannya.


"Baiklah, sepertinya kamu memang ingin aku memberitahukan berita ini pada Aira. Tunggu saja, aku pastikan Aira akan mengalami tekanan pikiran yang tentunya mengganggu kehamilannya," ancam Sintya.


Affan menatap Aira dan Aira membalasnya dengan seulas senyuman.


"Silakan! Aira akan lebih mempercayaiku daripada siapapun. Assalamualaikum!" Affan tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Sintya.


Setelah panggilan berakhir, Affan memblokir nomor Sintya dan meletakkan ponselnya. Dia terlihat menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu berjalan menghampiri Aira yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Kedua tangan Affan menyentuh bahu Aira dan membuat keduanya berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Affan memandangi wajah Aira hingga beberapa saat lalu menarik dagunya dengan lembut.


"Sayang, bolehkah aku menciummu?" tanya Affan.


"Apakah tidak akan ada yang datang?" Aira menoleh ke arah pintu.


"Sebentar saja," bisik Affan.


Aira mengangguk malu-malu.


Sebentar menurut Affan tidak bisa diukur dengan waktu. Jika sudah bermesraan mereka terkadang lupa dengan semua yang ada di sekelilingnya, begitu juga dengan saat ini. Affan sulit untuk mengontrol dirinya jika sedang bersama Aira.


Tidak ingin merasa terganggu dengan pekerjaan, Affan membawa Aira ke ruangan khusus dan menemaninya hingga terlelap. Ada beberapa hal yang ingin dibicarakannya bersama Bimo setelah Aira tertidur.


"Kembalilah bekerja, Mas. Biar aku beristirahat sendiri saja di sini." Aira mulai terlihat mengantuk.


"Tidak apa-apa. Pekerjaanku hari ini bisa aku tunda. Tidurlah!" Affan mengecup kening Aira lalu mengeratkan pelukannya.


Cukup lama dirinya tertidur hingga hampir satu jam lamanya. Jika bukan karena ingin buang air maka dia tidak akan terbangun.


"Astaghfirullah! Bagaimana bisa aku malah tertidur." Affan melakukan beberapa gerakan untuk merenggangkan tubuhnya.


Karena terlalu lelap tertidur, dia sampai tidak bergerak dalam tidurnya. Tubuhnya terasa pegal dan sedikit kram.


Setelah merasa lebih baik, Affan berjalan meninggalkan Aira dan membiarkannya beristirahat. Dia berjalan mengendap-endap lalu menutup pintu secara perlahan.


Saat dalam perjalanan menuju ke kamar mandi, Affan melihat setumpuk berkas di meja kerjanya. Hal ini berarti jika Bimo datang ke ruangannya saat dia sedang beristirahat.


Affan segera menghampiri meja kerjanya setelah selesai dengan hajatnya. Namun, sebelum memulai pekerjaannya dia memilih untuk mengirimkan pesan pada Bimo. Dia ingin berbicara secara langsung dengannya.


Ruangan mereka yang berdekatan membuat Bimo datang dengan cepat ke hadapannya. Pembicaraan mereka tidak akan di dengar oleh Aira mengingat ruang istirahat Affan kedap suara. Mereka bisa mengobrol dengan bebas sebelum Aira terbangun.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Boss!" sapa Bimo sebelum dia duduk di hadapan Affan.


"Wa'alaikum salam. Duduklah! Aku ingin mendengarkan laporanmu tentang penyelidikan agen yang kamu kirim." Affan berbicara langsung pada intinya.


Bimo mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pesan dan media yang dikirim oleh agen rahasia yang mengawasi Sintya.


Ponsel Bimo telah berpindah ke tangan Affan. Mereka berbicara dengan suara pelan saat membahas perihal hasil dari penyelidikan agen rahasia yang mereka kirim.


Ada beberapa hal yang mengejutkan bagi keduanya. Terungkap beberapa fakta yang tentang Sintya yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan. Sulit bagi Affan untuk mempercayainya tetapi bukti-bukti yang mereka terima cukup kuat.


"Kita telah mengantongi beberapa kartu penting Sintya. Aku yakin dia tidak akan berani mengganggu Aira lagi jika kita menunjukkan bukti ini," ucap Affan.


Bimo tidak sependapat dengan Affan. Jika Affan menunjukkan perlawanan secara terang-terangan maka Sintya malah akan semakin nekat. Bisa saja dia malah lebih gencar melakukan perlawanan dan mungkin juga melibatkan orang yang berdiri di belakangnya.


"Kalau menurutku jangan dulu, Boss. Sintya akan merasa terancam jika Boss mengatakan tentang rahasia ini. Tidak mungkin dia berjalan sendiri di dalam bisnisnya dan mereka pasti tidak akan tinggal diam jika kita tahu informasi tentang mereka," jelas Bimo.


Affan menatap ke arah Bimo dengan serius. Apa yang dikatakannya memang benar, dia tidak boleh gegabah untuk mengatasi masalah ini.


"Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah kamu memiliki ide untuk masalah ini?" tanya Affan. Saat ini dia benar-benar tidak memiliki rencana selain yang dia sebutkan sebelumnya.


Bimo beranjak dari duduknya dan berbicara dengan suara yang sangat pelan setelah tubuhnya condong ke arah Affan.


Affan tampak mengangguk setiap kali Bimo menjelaskan rencananya. Keduanya sama-sama memasang wajah yang sangat serius.


"Perintahkan agen kita untuk berhati-hati. Sintya tahu tentang keberadaan Hana di sini dan menduga-duga. Aku tidak tahu darimana dia mendapatkan informasi. Jika orang dalam yang memberinya informasi tentu dia tahu siapa Hana dan posisinya tetapi kenyataannya tidak seperti itu, dia tidak tahu yang sebenarnya."


Penjelasan Affan membuatnya tertegun. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Saat dia ingin mengatakan apa yang membuatnya curiga, pintu ruangan Affan diketuk dari luar.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2