
"Pak Anang, tolong panggilkan Laura kemari!" perintah Pak Aan pada asistennya.
"Baik, Pak."
Bimo masih berada di sana, dia terlihat salah tingkah tetapi dia harus melakukannya karena setiap masalah harus di selesaikan dengan baik. Mungkin saja Affan masih merasa emosi dan pak Aan juga tidak tahu tentang kelakuan putrinya saat berada di luar rumah.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Laura pun datang ke tempat di mana Bimo dan. Pak Aan mengobrol. Dia seperti sudah merasa akan dihakimi. Wajahnya terlihat sangat tegang begitu melihat tatapan ayahnya yang terlihat marah.
"Laura!" panggil Pak Aan.
"Iya, Pa." jawab Laura yang sudah mulai gugup.
"Aku ingin tanya apakah semalam kamu bertemu dengan tamu yang sebelumnya duduk bersama Pak Bimo ini?" tanya Pak Aan dengan suara tegas.
Laura diam menunduk. Dia tidak berani untuk melihat wajah ayahnya. Dalam hal ini dia sangat bersalah. Menyesal pun tidak ada guna karena dia sudah terlanjur menyinggung rekan bisnis ayahnya.
"Katakan yang sejujurnya, Laura. Jangan membuat papa semakin marah padamu. Papa akan memblokir semua kartu kreditmu kalau kamu tidak mau mengaku," ancam Pak Aan pada Laura.
"Maaf, Pa," ucap Laura lirih.
Pak Aan menggeleng kepalanya merasa jengkel pada putrinya tersebut. Dia tidak menyangka jika Laura benar-benar telah menghina istri rekan bisnisnya. Setelah ini, dia akan lebih mengawasinya dan membatasi pergaulannya.
"Papa benar-benar kecewa sama kamu, Laura. Apa gunanya papa menyekolahkan mu mahal-mahal jika yang kamu dapatkan hanya ilmu yang tidak ada manfaatnya. Kamu tidak tahu jika orang yang kamu hina itu adalah istri dari bos besar yang bekerja sama dengan papa," ucap Pak Aan masih tidak bisa menerima kelakuan buruk putrinya.
Laura terbelalak. Dia baru tahu jika ternyata Aira menikah dengan Affan yang nota bene adalah ayah dari sahabat sendiri, Faya. Seharusnya dia bertanya sejak awal sehingga tidak berbicara seenaknya meski dia merasa sangat senang melakukannya.
__ADS_1
"Maaf, Papa. Aku benar-benar tidak tahu. Dulu kami satu sekolah dan Aira memang sangat miskin. Aku pikir dia masih miskin sampai sekarang," ucap Laura.
Kata-katanya malah semakin membuat ayahnya merasa marah. Dia tidak menyangka jik putrinya begitu sombong. Uang yang diberikannya secara berlebih membuatnya lupa untuk bersedekah, dia bahkan malah menghina orang yang tidak mampu. Pak Aan merasa sangat kecewa pada Laura.
"Aku akan mendisiplinkan mu setelah ini, Laura. Tapi sekarang yang terpenting adalah meminta maaf pada Pak Affan dan keluarganya. Aku tidak ingin dia berpikir jika aku membenarkan perbuatan mu. Sungguh, papa merasa menjadi orang tua yang gagal. Tidak seharusnya aku terlalu memanjakan mu." Pak Aan terduduk lemas di samping Bimo.
Laura berbalik lalu pergi meninggalkan ayahnya dan Bimo begitu saja.
Bimo menepuk bahu Pak Aan lembut untuk menenangkannya.
"Mohon maaf pak. Bukan maksud saya untuk lancang. Pak Affan adalah orang yang baik begitu juga Nyonya Aira. Mereka bukanlah orang yang pendendam mungkin saja tadi Pak Affan masih merasa emosi sesaat saja. Mohon jangan di ambil hati." Bimo tidak ingin memperkeruh suasana.
"Terimakasih, Pak Bimo. Setelah ini saya akan membujuk Laura untuk meminta maaf pada Pak Affan dan keluarganya. Putriku itu memang sedikit keras kepala. Semua ini memang salahku karena terlalu memanjakannya sejak kecil." Pak Aan terlihat sangat menyesal.
"Baiklah, Pak. Jika begitu saya permisi. Saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," pamit Bimo.
"Baik, Pak Aan. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Bimo merasa lega setelah menyampaikan apa yang menjadi permasalahan dua sahabat itu. Hari sudah sore. Dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya karena sudah lewat jam kerja.
Affan pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor. Suasana hatinya masih belum membaik setelah kejadian tadi siang. Setiap kali melihat wajah Laura dia terbayang kembali kata-kata penghinaan yang dia tunjukkan pada Aira.
Di sepanjang perjalanannya dia terus beristighfar agar kebencian di hatinya perlahan menghilang. Dia terngiang ucapan Aira yang melarangnya untuk menyimpan dendam. Namun, jika harus jujur, Affan masih sangat sulit untuk mengendalikan dirinya dan menghindari hal-hal yang merusak iman.
__ADS_1
Affan kembali melewati jalan yang sama di mana dia mengambil gambar anak-anak kurang beruntung yang hidup di jalanan. Sampai-sampai Affan hafal dengan ciri-ciri anak yang biasa ada di satu tempat dengan tempat yang lainnya. Dia sangat mengenali mereka dari kejauhan.
'Aku tidak sabar lagi untuk membuat mereka sekolah lagi. Semoga saja bisa segera terwujud. Semakin lama di tunda mereka akan semakin sulit untuk di beri pemahaman. Aku akan mencari sendiri orang-orang yang bisa aku ajak kerja sama setelah ini.' Affan bermonolog dalam hati. Dia tidak ingin menunda niat baiknya lebih lama lagi.
Aira sangat mendukungnya begitu juga Faya. Mereka adalah sumber kekuatan yang membuatnya terus semangat menjalani kehidupan. Affan kembali mengambil ponselnya dan memotret beberapa gambar yang menurutnya sangat bagus.
"Akhir-akhir ini aku lihat Pak Affan sangat suka memotret," ujar Pak Sapto.
"Benar sekali, Pak. Entah kenapa aku sangat menyukai anak-anak itu. Aku harap suatu saat bisa membantu mereka dan membuatnya bisa sekolah lagi." Affan berbicara sambil terus memotret ke luar jendela.
"Saya juga sangat setuju Pak. Semoga ke depannya mereka bisa sekolah lagi."
Affan mengangguk setuju.
Mobil mereka kemudian terhalang oleh mobil lain yang berada di sebelah kiri mobil Affan. Keduanya tidak bisa melihat lagi anak-anak itu dari mobil mereka. Pak Sapto kemudian mempercepat laju mobil mereka agar bisa segera sampai di rumah.
Ponsel Affan berbunyi beberapa kali tetapi dia sedang tidak ingin membuka pesan-pesan itu. Dia tidak bisa membalas pesan sekarang karena suasana hatinya sedang kacau gara-gara masalah Laura.
Bimo merasa tidak sabar saat pesan-pesan yang dikirimkan kepada Affan tidak kunjung di buka. Dia ingin meminta maaf karena telah mengatakan masalah Laura kepada Pak Aan. Dia tidak ingin masalah ini berlarut-larut dan menjadi panjang. Untuk itu, dia ingin meluruskannya dan membuat keduanya kembali berdamai.
Bimo kemudian melakukan panggilan telepon karena tidak sabar untuk menyampaikan berita ini pada Affan. Jika sampai Pak Aan lebih dulu sampai di rumahnya dan dia belum bilang, tentu saja Affan akan salah paham padanya. Saat ini, Bimo menjadi orang yang serba salah saat dua rekannya sedang berseteru.
"Lebih baik aku telepon si Boss sekarang juga. Daripada tambah runyam masalahnya," ucap Bimo sambil mencari kontak Affan.
****
__ADS_1
Bersambung ...