Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 75. Rencana Aira


__ADS_3

Affan beranjak dari duduknya untuk melihat siapa yang datang. Dia tidak ingin sembarangan membiarkan orang luar masuk ke ruangannya sedangkan Bimo sedang tidak ada.


Aira sedang memesan taksi online untuk Hana. Saat dia sedang fokus untuk melihat ponselnya, Hana mencuri kesempatan untuk menatap ke arah Affan.


Meskipun tidak melihatnya secara langsung, Aira tahu gerak-gerik Hana. Dia semakin yakin jika Hana benar-benar memiliki perasaan spesial pada suaminya.


'Wanita ini benar-benar nekat. Sudah tahu aku ada di sini, masih saja dia memperhatikan Mas Affan. Pelakor jaman sekarang rupanya sudah berani melirik suami orang secara terang-terangan.' Aira menggeleng pelan.


"Taksi online yang aku pesan sebentar lagi akan datang. Kamu bisa menunggunya di lobi. Pesanan atas nama Aira." Aira tidak ingin Hana berada di ruangan itu terlalu lama.


Hana terlihat kecewa karena tidak bisa berada di sana lebih lama lagi. Terpaksa dia harus pergi sekarang.


"Cepat sekali datangnya. Eh, tapi terimakasih banyak, Nyonya." Hana membetulkan posisi Safira yang sedang tertidur di dalam gendongannya.


"Sama-sama." Aira mencoba untuk tersenyum tulus meskipun sebenarnya dia merasa kesal.


'Astaghfirullah! Jauhkanlah hamba dari penyakit hati, ya Allah.' Aira mengelus dadanya sambil memandangi kepergian Hana.


Affan masih berdiri di pintu ketika Hana hendak keluar. Affan menolak saat Hana mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dia memilih untuk memberinya jalan untuk keluar dari ruangannya.


"Saya juga permisi dulu, Pak," ucap Wahyu orang yang sejak tadi mengobrol bersama Affan di depan pintu.


Berkas yang telah selesai dikerjakannya telah diserahkan pada Affan. Kini dia ingin kembali ke ruangannya untuk beberes sebelum pulang kerja.


"Iya, terimakasih, Wahyu. Assalamualaikum," jawab Affan.


"Wa'alaikum salam."


Affan bersiap untuk menutup pintunya setelah kepergian Wahyu tetapi di kejauhan dia melihat dua orang wanita penjaga depot buah berjalan ke arahnya. Mereka memperlambat langkahnya ketika melihat Affan dan berjalan dengan ragu-ragu. Tidak ingin menunggunya terlalu lama, Affan memilih untuk menutup pintu dan duduk di samping Aira.

__ADS_1


Wajah tegang Affan membuat Aira bertanya-tanya. Dia berpikir jika itu karena berkas yang ada di tangannya.


"Apakah ada laporan yang salah, Mas? Kelihatannya mas terlihat kurang senang," tebak Aira.


Affan baru menyadari sikapnya setelah Aira menegurnya. Dia pikir Aira tidak sedang memperhatikannya karena sedang bermain ponsel.


"Bukan, Sayang. Penjual sup buah yang tadi kita kunjungi sedang berjalan menuju kemari. Aku sangat malas melihat mereka. Andai saja ada Bimo, tentu aku tidak perlu menemui mereka secara langsung." Membayangkan pakaian seksi mereka saja Affan sudah merasa risih.


"Biar aku saja yang berbicara pada mereka menggantikanmu, Mas. Jangan khawatir." Aira menenangkan suaminya.


Suara pintu diketuk dari luar pun kembali terdengar. Aira meminta kepada Affan untuk tetap duduk. Dirinyalah yang datang untuk membukakan pintu untuk penjual depot.


Dua orang penjual sop buah telah berdiri di depan pintu ketika Aira membukanya. Mereka terlihat canggung saat berhadapan dengan Aira yang ternyata adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Tidak ada barang mewah atau pakaian bermerk yang melekat di tubuhnya sehingga mereka pikir dia hanya pengunjung biasa.


"Selamat sore, Nyonya. Bisakah kami bertemu dengan Pak Affan?" tanya salah satu dari mereka.


Affan menatap mereka sekilas lalu menggeser posisi duduknya di tempat yang berseberangan dengan mereka.


Suasana menjadi hening. Affan dan Aira sengaja tidak mengucapkan sesuatu. Mereka menunggu penjual sop buah untuk memulai percakapan.


"Pak Affan dan Nyonya, kami berdua minta maaf atas sikap tidak sopan kami siang tadi. Kami seharusnya sadar jika Pak Affan mengatakan hal yang benar tentang cara berpakaian kami. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengakui kesalahan kami," ucap salah satu dari mereka.


Aira menatap keduanya bergantian. Pakaian mereka masih sama tetapi mereka mengenakan jaket untuk melapisi bagian luarnya. Namun, lekuk tubuh mereka tetap terlihat karena jaket yang mereka pakai juga terlalu ketat.


"Jangan salah mengartikan ucapan dari Mas Affan. Sama sekali dia tidak menghina atau merendahkan kalian. Beliau mengoreksi penampilan kalian karena ingin semua wanita menjaga martabatnya. Seringkali penampilan yang seksi akan mengundang para pria untuk berbuat tidak sopan sementara di perusahaan ini didominasi oleh kaum pria," ucap Aira menjelaskan dari sudut pandangnya.


Penjual depot itu menunduk. Mereka tidak terpikirkan akan hal itu dan menganggap penampilannya yang seksi akan menarik para pelanggan.


"Kami akan berusaha berpenampilan pantas setelah ini, Nyonya. Tolong beri kami kesempatan untuk belajar berpenampilan yang lebih sopan." Wanita itu berharap Affan tidak akan mencabut ijin usaha mereka.

__ADS_1


"Semoga setelah ini kalian bisa menghargai diri kalian sendiri. Jangan mempertontonkan keindahan tubuh kalian pada orang yang tidak berhak menerimanya. Yakinlah rejeki tidak akan kemana. Sop buah dan salad yang kami beli memiliki rasa dan kualitas yang baik, pertahankan itu. Aku yakin depot kalian akan semakin ramai ke depannya tanpa kalian harus beratraksi dengan pakaian yang seksi." Aira memuji produk yang mereka jual dan membesarkan hati mereka.


"Terimakasih banyak atas dukungannya, Nyonya. Kami sangat menyesal atas kesalahan yang telah kami lakukan. Setelah ini kami akan berusaha untuk terus berbenah. Kami tidak akan keberatan jika Anda memberikan teguran lagi."


Aira mengangguk sambil tersenyum.


"Tetaplah semangat. Oh, iya, berapa harga sop buah dan salad yang kami pesan tadi? Kami belum membayar tagihannya." Aira ingat jika Affan meminta mereka mengambil tagihan ke ruangannya.


"Tidak usah, Nyonya. Anggap saja ini sebagai ungkapan permintaan maaf dari kami." Penjual sop buah tidak ingin Aira membayarnya.


"Terimakasih banyak. Aku sudah menerima sop buah dan salad gratis dari kalian. Dan ini ...." Aira mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Ada sedikit uang untuk kalian membeli seragam baru untuk berjualan. Semoga depot milik kalian akan semakin ramai."


Mereka merasa sungkan tetapi tidak sanggup untuk menolak pemberian Aira.


"Kalian boleh pergi sekarang karena kami juga ingin bersiap untuk pulang," ucap Aira.


"Baik, Nyonya. Terimakasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Anda semua. As ... assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam." Aira dan Affan menjawab hampir bersamaan.


Akhirnya masalah demi masalah bisa dibereskan dengan baik hari itu. Namun, masih ada hari esok yang belum bisa diperkirakan. Bimo mengambil cuti untuk menemani istrinya yang berarti Affan akan sendirian saja di ruangannya.


Aira berpikir bagaimana untuk bisa ikut pergi ke kantor besok. Dia tidak ingin Hana mendekati suaminya.


'Aku harus ikut Mas Affan pergi ke kantor besok. Oh, iya, aku akan beralasan jika aku sangat kesepian di rumah. Tentu dia tidak akan menolakku.' Aira tersenyum tipis.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2