
Roland terus menggunakan uang perusahaan untuk membayang orang yang mengacau proyeknya sendiri. Demi membalas sakit hati Amanda dia melakukan segala cara untuk menghancurkan Affan.
Saat ini Rolan telah dibutakan oleh keserakahan. Selain menggunakannya untuk menghancurkan proyek perusahaan yang dialihkan ke Affan, dia juga menggunakan uang kas perusahaan untuk berfoya-foya di bar.
Sesekali dia membawa Amanda lalu menginap di apartemennya. Mereka menjadi pasangan tanpa ikatan dan saling melengkapi tanpa batasan.
Dalam waktu satu bulan, defisit pemasukan perusahaan konstruksi milik Roland mulai terlihat. Kas perusahaan mencapai limit dan sulit untuk mengembangkan proyek baru.
Tanpa pembiayaan di muka, perusahaan ini sulit untuk berjalan. Namun, tidak semua konsumen mempercayainya dan memilih pergi untuk memberikan proyeknya pada perusahaan lain.
Perusahaan Affan yang selalu amanah membuatnya terus diserbu oleh pelanggan-pelanggan baru yang terus berdatangan. Keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan perusahaan milik Roland.
Di perusahaan Affan,
Sekretaris Affan mengetuk pintu ruangan Affan. Ada seorang tamu pria yang datang dan menunggu di kursi tunggu yang berada di depan ruangannya. Dia mengaku dari asosiasi pengusaha muda.
Bimo membukakan pintu untuknya dan mempersilakannya masuk.
"Selamat siang, Pak Affan," sapa sekretaris Dini.
__ADS_1
"Selamat siang." Affan meletakkan bolpoinnya dan menatap Dini sekilas.
"Begini, Pak. Ada seorang pria dari asosiasi pengusaha muda ingin bertemu. Apakah bapak sudah ada janji dengannya?" tanya Dini.
Affan mengangguk lalu berkata, "Suruh dia masuk!"
"Baik, Pak. Saya permisi." Dini membungkuk lalu pergi meninggalkan ruangan Affan setelah mendapatkan anggukan dari boss-nya itu.
Tidak lama kemudian dia sudah datang lagi bersama tamu yang dibawanya. Dini hanya mengantarkannya di depan pintu lalu kembali ke ruangannya untuk bekerja.
Tamu pria itu adalah Pak Halim, dia adalah wakil ketua asosiasi pengusaha muda di mana Affan juga menjadi salah seorang anggotanya. Bimo mempersilakannya duduk di sofa tamu dan menunggu Affan yang berjalan meninggalkan kursi kebesarannya.
"Wa'alaikum salam, Pak Affan. Alhamdulillah sangat baik. Maaf jika kedatangan saya mengganggu waktu bapak. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada bapak dan ingin meminta pendapat bapak untuk kelanjutan masalah ini," jelas Pak Halim.
"Tidak masalah, Pak. Semua pekerjaan bisa ditunda kecuali meeting. Justru saya sangat berterimakasih karena di tengah kesibukan Pak Halim masih mau saya repotkan."
Dua pria berwajah teduh itu terlihat begitu akrab. Keduanya saling melempar senyum sepanjang obrolan mereka.
"Kita adalah teman dalam usaha dan insya'allah juga dalam iman, Pak. Selagi ada ketidakjujuran maka hal itu wajib kita dahulukan."
__ADS_1
"Benar, Pak Halim. Apakah kabar yang Anda bawa berhubungan dengan Perusahaan JRR milik Roland?" tanya Affan.
Pak Halim mengangguk. Dia kemudian mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya dan menunjukkan bukti-bukti. Mulai dari awal pengerjaan hingga hari ini banyak sekali hal yang terjadi akibat ulah orang tak dikenal.
Butuh waktu hampir sebulan bagi Pak Halim dan teamnya untuk mengungkap siapa dalang dibalik semua kejanggalan yang terjadi. Maksud kedatangannya adalah untuk meminta pendapat Affan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum atau tidak.
Affan berpikir sejenak. Apa yang dilakukan Roland sudah melanggar hukum dan merugikan banyak pihak. Namun, sebagai seorang teman, dia ingin tahu alasan Roland melakukan semua ini padanya.
Menilik identitas yang dimilikinya saat ini, dia sudah bukan lagi Warga Negara Indonesia saat ini.
"Saya meminta waktu untuk berpikir, Pak Halim. Kita tidak bisa gegabah dalam mengambil sebuah keputusan," ucap Affan di akhir pembahasan.
Pak Halim mengerti. Amanah yang dia emban sudah dilakukannya sebaik mungkin. Untuk hal selanjutnya, semua keputusan berada di tangan Affan.
****
Bersambung ...
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir. Terimakasih.
__ADS_1