
Aira meletakkan foto di atas meja. Dengan begini dia berharap Affan akan mengetahuinya dan berkomentar.
"Aku tidak mempermasalahkan masa lalu Mas Affan. Hanya saja aku ingin tahu saja seperti apa reaksinya saat melihat foto ini." Aira berbicara pada dirinya sendiri.
Tidak seperti biasanya, Aira jadi malas mandi akhir-akhir ini. Aroma sabun mandi membuatnya pusing jika dihirup terlalu lama.
Secepat mungkin Aira menyelesaikan mandinya setiap hari. Setelah tahu dirinya hamil, dia baru paham jika ini adalah gejala yang umum dialami oleh seorang ibu hamil.
Aira sedang berdandan ketika Affan masuk ke dalam kamar.
Pria itu menatap Aira dengan heran. Baru sekitar lima belas menit mereka berpisah tetapi Aira sudah menyelesaikan mandinya.
"Kamu tidak mandi, Sayang? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Affan sambil berjalan cepat menghampiri Aira.
"Aku sudah mandi, Mas. Memangnya aku terlihat kumal, ya?" Bibir Aira mengerucut.
"Tidak, bukan begitu maksudku. Aku hanya heran karena mandimu cepat sekali."
Aira menunduk, melirik Affan dengan sudut matanya. Dia merasa malu untuk mengatakan jika dia hanya mandi sebentar saja.
"Tidak perlu murung begitu. Kamu tidak mandi pun aku tidak masalah. Terkadang wanita hamil tidak suka mandi."
__ADS_1
Affan teringat dengan kebiasaan Kayra saat mengandung Faya. Ini kedua kalinya dia menghadapi seorang wanita hamil.
"Aku suka mandi hanya saja, aku tidak suka aroma wangi sabun mandinya, Mas. Nanti aku akan mengganti sabun mandi dengan wangi yang lebih nyaman di hidungku."
"Jika kamu tidak lelah, besok kita belanja. Kamu juga perlu membeli susu dan apa saja yang kamu butuhkan, Aira."
"Baik, Mas."
Aira berjalan meninggalkan Affan untuk mengambilkan baju untuknya sementara itu Affan berjalan mendekati mejanya. Matanya menangkap sebuah foto yang tergeletak di atas meja.
Affan mengambil foto itu lalu melirik Aira yang sedang mengambilkan baju untuknya.
"Ini bajunya, Mas." Aira menyerahkan baju dan handuk untuk Affan.
Affan tidak mengambil baju dan malah memeluk Aira dengan erat. Kesalahpahaman akan terus terjadi jika dia tidak meluruskannya sesegera mungkin.
Tanpa melepaskan pelukannya Affan membawa Aira duduk di kursi. Posisi Aira kini sedang duduk di pangkuan Affan dengan posisi membelakanginya.
"Sayang, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak tentang foto ini. Ini adalah foto yang sudah sangat lama. Sejak aku menikah denganmu, aku sudah mengubur seluruh masa laluku."
"Aku tidak mempermasalahkan tentang masa lalumu, Mas. Aku hanya mengambil foto itu untuk kenang-kenangan."
__ADS_1
"Lebih baik kamu buang saja. Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Setelah mengatakan itu Affan mengangkat tubuh Aira dan membantunya berdiri. Dia kemudian mengambil baju dan handuk di tangan Aira lalu pergi tanpa kata.
Sikap Affan membuat Aira tersenyum. Meskipun sikapnya terlihat mengesalkan tetapi cukup membuktikan jika dia telah move on dari masa lalunya.
Aira berjalan ke tempat sampah lalu membuang foto di tangannya sambil tersenyum penuh arti.
***
Affan meminta sopir perusahaan untuk menjemput Aira dan membawanya ke tempat di mana dia berada sekarang.
Setelah selesai dengan rapatnya, Affan ingin membawa Aira untuk berbelanja. Lokasinya saat ini berdekatan dengan sebuah mall yang baru buka belum lama.
Mall megah yang berdiri di samping restoran itu juga salah satu proyek yang dikerjakan olehnya.
Affan terlihat tidak sabar saat menunggu kedatangan Aira di halaman parkir. Dari arah belakang seseorang suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke arah sumber suara.
****
Bersambung ....
__ADS_1