Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 106. Sadar


__ADS_3

Affan mengangkat telepon dari Bimo.


"Hallo, assalamu'alaikum, Bim," jawab Affan yang masih berada di dalam perjalanan pulang.


"Wa'alaikum salam, Boss. Maaf aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin membuatmu marah." Bimo berbicara dengan nada memelas.


Kening Affan berkerut. Tidak biasanya Bimo berkata begitu. Dia sangat penasaran tentang apa yang bisa membuatnya marah.


"Maksudnya?" Affan tidak ingin terlalu lama dibuat penasaran.


Bimo lalu menceritakan tentang pembicaraannya dengan Pak Aan dan Laura. Dia mengatakan dengan jujur tentang penyebab amarah Affan yang tiba-tiba pergi dari acara. Setelah tahu alasannya, Pak Aan merasa sangat menyesal dan ingin datang ke rumah Affan untuk meminta maaf.


Sejenak Affan terdiam. Sebenarnya dia hanya tidak suka pada Laura saja, bukan Pak Aan. Dia tidak menyalahkan Bimo yang mengatakan masalah ini padanya. Jika memang Laura ingin meminta maaf dengan tulus maka itu lebih baik.


Affan berkata pada Bimo untuk tidak merasa bersalah. Dia tidak keberatan Pak Aan tahu tentang masalah ini. Tidak masalah jika Pak Aan dan Laura datang ke rumahnya selama keduanya benar-benar tulus untuk meminta maaf.


Panggilan telepon Bimo pun berakhir. Mobil yang dikendarai telah memasuki kompleks perumahan yang ditinggalinya. Affan bersiap-siap untuk turun.


Sebuah mobil masuk dan terparkir di halamannya ketika mobilnya tiba. Affan sepertinya kenal dengan mobil ini. Benar saja, mobil itu adalah mobil milik Pak Aan yang biasa di gunakan untuk pertemuan.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pak Affan," sapa Pak Aan yang telah lebih dulu turun dari mobilnya.


"Wa'alaikum salam. Mari silakan masuk," ucap Affan sambil memperhatikan Laura yang berdiri di belakang ayahnya.


Di tangannya ada sebuah keranjang buah. Mungkin sebagai oleh-oleh mereka untuk Affan dan keluarganya. Wajah Laura tertunduk tidak berani menatap Affan.


"Terima kasih, Pak." Pak Aan pun pergi mengikuti Affan yang berjalan mendahuluinya.


Mereka duduk di ruang tamu. Aira yang mendengar kepulangan Affan langsung pergi ke depan. Dia tampak sedikit terkejut saat melihat kedatangan Laura bersama seorang pria.


Melihat Aira yang berdiri terpaku, Affan memanggilnya dan memintanya untuk duduk di sampingnya.


Untuk sejenak suasana di ruangan itu menjadi hening. Wajah Laura terlihat tegang saat berhadapan dengan Aira. Sulit baginya untuk meminta maaf dan bersikap baik pada orang yang tidak disukainya.


"Pak Affan, Nyonya Affan. Kedatangan kami kali ini untuk bersilaturahmi sekaligus ingin meminta maaf. Ini ada sedikit oleh-oleh dari kami, mohon untuk diterima." Pak Aan mendorong keranjang buah yang dibawa oleh Laura ke hadapan Affan.


"Terima kasih, Pak. Seharusnya tidak perlu repot-repot. Mengenai permintaan maaf, saya kurang begitu mengerti." Affan tidak langsung menanggapinya sebelum Laura berbicara sendiri.


Terlihat Pak Aan menyenggol lengan Laura agar segera berbicara pada Aira dan Affan untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Aira, maafkan aku yang sudah bersikap tidak sopan padamu," ucap Laura dengan terbata-bata.


Wajahnya masih menunduk tidak berani menatap Aira. Jika harus jujur, dia juga belum ikhlas untuk meminta maaf.


"Aku sudah melupakannya. Tidak perlu dibahas lagi. Semoga kamu tidak melakukannya juga pada orang lain." Aira berbicara dengan lembut.


Pak Aan menatap Aira dengan takjub. Wajahnya yang teduh menyiratkan kedamaian. Pantas saja Affan menikahinya meskipun usianya masih belia, ternyata selain cantik dia juga baik, pikirnya.


"Dengarkan itu, Laura. Jangan pernah kamu menghina dan merendahkan orang karena itu tidak baik. Setiap manusia memiliki rejekinya masing-masing. Kamu terlahir kaya dan tidak kekurangan sejak kecil tapi ayah dulu juga orang miskin. Harta hanya titipan jika sewaktu-waktu diambil maka bisa jadi kita yang akan berada di bawah." Pak Aan membenarkan ucapan Aira.


Laura mengangguk pasrah. Air matanya menitik. Kali ini dia benar-benar sadar. Ayahnya sudah mulai terlihat tua dan hanya dia satu-satunya keluarga yang dimilikinya sekarang.


Jika sampai sesuatu hal terjadi padanya maka tidak tahu nasib Laura ke depannya.


****


Bersambung ....


__ADS_1


Visual Affan


__ADS_2