Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 77. Tegang


__ADS_3

Steve tidak berani untuk membuka masker dan penutup wajahnya bukan karena takut dikira dekat dengan Aira melainkan karena takut para pengunjung kafe mengenalinya.


Aira tidak tahu jika saat ini Steve adalah seorang Youtuber yang sangat populer. Dia memiliki jutaan subscriber yang selalu mengikutinya. Seiring dengan popularitas itu, Steve kehilangan kebebasan dan kenyamanan saat berada di tempat-tempat umum.


"Kita baru saja bertemu, tidak seharusnya kamu mengusirku, Aira." Steve tidak ingin pergi.


"Aku sudah menikah, Steve. Suamiku bisa salah paham." Aira menoleh ke belakang dan melihat Affan sedang berjalan ke arah mereka.


Wajahnya menjadi pucat. Steve tidak ingin pergi dari hadapannya. Ketakutannya semakin menjadi saat melihat Steve yang terlihat santai seperti sengaja melakukan semua ini.


'Nih, bocah susah amat dibilangin. Disuruh pergi malah santai-santai di sini. Ya Allah, semoga Mas Affan tidak berpikir yang tidak-tidak tentang aku dan bocah tengil ini tidak berbicara macam-macam.' Aira terus berdoa dalam hati agar Affan tidak marah.


Detak jantungnya semakin kencang saat melihat Affan semakin dekat. Jika bukan buatan Tuhan mungkin sudah keluar dari tempatnya.


Affan menatap Aira dan Steve secara bergantian. Keduanya sama-sama terdiam. Mulut Aira seperti tercekat dan sulit untuk berbicara.


"Selamat malam, Om. Maaf saya numpang duduk di sini. Saya tidak mendapatkan meja." Steve beralasan. Dia merasa kasihan saat melihat Aira yang ketakutan seperti sedang melihat hantu.


"Oh, silakan. Kamu bisa memakai meja ini karena sebentar lagi aku akan membawa istriku pergi." Affan tidak keberatan meskipun sedikit heran saat melihat wajah Steve yang tertutup rapat.


Aira beranjak dari duduknya saat mendengar ucapan Affan yang ingin membawanya pergi dari sana. Wajahnya masih terlihat pucat dan telapak tangannya terasa dingin karena detak jantungnya tidak teratur.


Affan berpikir jika Aira terlihat pucat karena takut pada pria di hadapannya. Pada kenyataannya Aira pucat karena takut dia berpikir buruk tentangnya. Namun, Aira tidak membohongi Affan karena dia tidak mengatakan sesuatu.


Wajah Steve terlihat kecewa saat mendengar Aira akan pergi dari sana. Dia tidak bisa lagi melihat Aira lebih lama lagi. Sebenarnya dia bisa saja mengaku sebagai temannya dan berkenalan dengan Affan secara terang-terang tetapi dia tidak ingin membuat Aira menjadi buruk di mata suaminya.


'Aku memang suka sama kamu Aira tapi aku tidak ingin membuatmu terpojok dalam keadaan yang sulit. Setidaknya aku ikut merasa bahagia saat melihatmu bahagia.' Steve memandangi kepergian Aira dalam kebisuan.


Affan membawa Aira ke sebuah ruangan khusus. Dulu ini adalah ruang kerjanya tetapi setelah dia tidak di sana, pengelola kafe menggunakannya sebagai ruang rapat dan penerimaan tamu. Saat Aira tiba di sana, di atas meja sudah tersaji dua gelas minuman dan beberapa jenis makanan.


"Wah, ini kamu yang menyiapkannya, Mas." Ketegangan di wajah Aira mulai memudar. Dia tampak antusias saat melihat sajian di atas meja.

__ADS_1


"Aku hanya memilih menu saja. Para pegawai kafe yang menyiapkannya." Affan berbicara sambil menarik sebuah kursi untuk Aira duduk.


Aira terlihat antusias melihat hidangan di depannya. Kebetulan perutnya sudah merasa sangat lapar. Akhir-akhir ini porsi makannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia kandungannya.


"Aku mau mencoba jusnya dulu. Bismillah." Aira menyeruput jus mangga yang ada di hadapannya.


Niatnya hanya ingin mencoba tetapi dia sangat ingin menghabiskannya sekarang. Tanpa terasa dia sudah habis setengah dari gelasnya.


"Jangan dihabiskan, Sayang. Nanti kamu kenyang minum saja. Kamu belum mencoba makanan-makanan ini." Affan memperingatkan Aira.


Aira tersenyum malu-malu, membuatnya terlihat sangat imut. Melihat makanan yang begitu banyak, dia bingung untuk memilihnya. Dia mencari-cari sebuah piring kosong untuk mengambil makanan secukupnya saja.


"Mas, apa tidak ada piring kosong?" tanya Aira.


"Untuk apa, Sayang? Kamu bisa mengambil yang kamu suka. Untuk yang lainnya biar dimakan sama pegawai kafe." Affan menoleh ke samping dimana dua orang pelayan pria sedang menunggu mereka.


Sebelumnya Aira tidak menyadarinya. Dia baru tahu saat Affan menunjukkannya. Sebenarnya dia ingin mencicipi beberapa tetapi karena merasa tidak enak akhirnya dia memilih satu menu yang dia sukai.


Setelah Affan mengambil menu yang diinginkannya, dia lalu meminta para pelayan yang menunggunya sejak tadi untuk membawa makanan yang tidak terpilih ke belakang. Mereka boleh memakannya.


Makanan yang dijual di kafe Affan memiliki rasa yang enak dengan harga yang cukup terjangkau. Tidak heran jika setiap hari kafe ini selalu ramai oleh pengunjung.


Setelah selesai dengan makanannya, Affan membawa Aira pergi berkeliling. Mereka melihat pemandangan dari berbagai sudut. Dari lantai dua mereka bisa melihat keindahan kota dan senja yang hampir turun.


Aira memandangi Affan yang sedang melamun. Dia lebih banyak diam ketimbang mengobrol dengannya. Sepertinya di hatinya masih tersimpan kenangan masa lalunya yang membuatnya bersedih ketika mengingatnya.


Sosok yang tertutup seperti Affan sangat sulit untuk didekati. Kehadiran Aira di dalam hidup Affan adalah sebuah ketidaksengajaan. Tiba-tiba saja dirinya menjadi bagian dari hidupnya tanpa sebuah rencana.


"Langit sudah hampir gelap, Mas. Sebaiknya kita turun." Aira berbicara dengan suara yang tertahan.


Wajahnya terlihat sendu melihat Affan belum sepenuhnya mengikhlaskan kenangan itu pergi. Terkadang dia merasa sangat berarti. Namun, pada saat seperti ini dia merasa bukanlah apa-apa.

__ADS_1


"Sebentar lagi, Aira," ucap Affan yang belum menyadari perubahan suasana hati Aira.


Aira memutar tubuhnya lalu berjalan membelakangi Affan. Air matanya meluncur begitu saja tanpa permisi. Tidak ingin Affan melihatnya dia memilih untuk turun lebih dulu dan berdiri menyendiri di dalam ruangan yang sebelumnya mereka gunakan untuk makan.


Pekerja kafe sempat melihatnya masuk tetapi mereka tidak tahu jika Aira sedang menangis. Untuk beberapa saat Aira larut dalam kesedihannya lalu perlahan mulai bisa menguasai dirinya.


Aira mengambil ponsel yang diletakkannya di dalam tas. Banyak sekali pesan yang masuk dari Faya ketika dia menghidupkannya. Sahabat sekaligus putri sambungnya itu sangat perhatian padanya.


Tidak ingin Faya khawatir, Aira membalas pesannya dan mengatakan jika dia sedang berada di kafe bersama ayahnya. Namun, sebelum pesan itu terkirim Faya lebih dulu melakukan panggilan video.


"Assalamualaikum, Faya. Baru aku mau bales kamu dah telepon duluan," ucap Aira.


"Wa'alaikum salam. Kamu, sih, kelamaan. Kamu dimana, Ma?" tanya Faya seperti tidak asing dengan tempat itu.


"Aku lagi di kafe." Aira memutar ponselnya untuk memperlihatkan keadaan di sekelilingnya kepada Faya.


Meskipun dia sedang berada di dalam ruangan khusus tetapi Faya cukup mengenalnya. Faya pernah pergi ke sana meskipun hanya beberapa kali saja. Tidak banyak yang berubah dari kafe itu.


"Ayah mana? Tidak mungkin, kan, kamu sendirian di sana?" tanya Faya penasaran.


Dia merasakan sesuatu yang tidak beres. Tidak biasanya ayahnya meninggalkan Aira sendirian.


"Ada, kok. Kalau mau bicara aku panggilkan." Nada suara Aira berubah.


Faya sangat mengenal Aira. Melihat ekspresi wajahnya saja dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Dia tahu jika saat ini Aira sedang bersedih.


"Ayah tidak mem— ...." Faya tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat ayahnya telah berdiri di belakang Aira.


****


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2