Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 108. Bersiap ke Rumah Sakit


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat. Mendekati hari kelahiran Aira, Affan mengurangi aktifitas luar di kantor. Dia memilih untuk melakukan pertemuan bersama klien di kantor perusahaan.


Affan selalu berpesan pada Faya untuk segera mengabarinya jika Aira merasa kesakitan atau apa. Dia akan segera pulang dan membawanya ke rumah sakit.


Di rumah, Faya selalu menemani Aira. Selain kegiatan kampus yang diwajibkan, dia tidak ingin datang. Lebih baik dia menemani Aira yang sedang bersiap melahirkan adiknya.


Setelah Affan pergi ke kantor, Faya standby di bawah untuk menemani aktifitas Aira. Dia tahu betul bagaimana sifat ibu sambung sekaligus sahabatnya itu. Aira sangat mandiri dan tidak suka merepotkan orang lain, jika dia tidak berinisiatif melakukan sesuatu untuknya, dia pasti akan mengerjakan semuanya sendiri.


"Pasti berat, ya, Ma, kalau hamil besar seperti ini. Jalan aja mama pelan sekali." Faya membantu Aira menaiki tangga setelah berjalan-jalan di taman belakang.


Aira menggeleng.


"Tidak, kog. Cuma susah lihat jalan dan kaki gampang capek. Mungkin karena happy jadi aku tidak merasa jika ini berat." Aira memang tidak pernah mengeluhkan yang macam-macam selama kehamilannya.


Sebenarnya Aira ingin sekali melakukan banyak hal untuk mengisi waktunya agar tidak membosankan tetapi Faya tidak mengijinkannya. Rasa sayangnya yang berlebihan membuatnya terus waspada. Dia tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada Aira.


Lima hari sebelum hari perkiraan kelahiran, Aira sudah merasakan tidak nyaman di perutnya. Setelah Affan berangkat, dia kembali ke kamarnya dan beristirahat.


"Ma, apakah mama merasa ada gejala mau melahirkan?" tanya Faya.


Aira terdiam sejenak. Ini adalah pengalaman pertamanya sebagai calon ibu. Meskipun dokter sudah menjelaskan banyak hal padanya, dia tidak tahu seperti apa yang dimaksud olehnya.

__ADS_1


"Kata dokter kalau mau melahirkan itu mules n sering kontraksi. Aku tidak tahu kontraksi yang dimaksud itu yang seperti apa," ucap Aira sambil meringis.


Faya buru-buru mengambil ponselnya dan mencari informasi di internet tentang ciri-ciri wanita yang akan melahirkan.


Setiap ciri-ciri yang dibacanya di internet, dia tanyakan pada Aira apakah dia merasakan hal yang sama atau tidak. Hampir semua pertanyaan dijawab 'iya' oleh Aira.


"Ma, aku harus menghubungi ayah sekarang. Mama sudah mendekati waktu melahirkan. Kita harus segera pergi ke rumah sakit." Faya terlihat panik.


"Melahirkan, ya, melahirkan, Faya tapi kamu tidak usah panik begitu. Semua perlengkapan udah aku siapin, kog. Tidak perlu panik begitu." Aira terlihat tenang dan mencoba menenangkan Faya.


Faya mengangguk sambil berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu. Aira yang akan melahirkan tetapi dia yang panik.


Tidak ingin khawatir sendirian, Faya mengambil ponselnya dan bersiap untuk menelepon ayahnya.


"Stop, Ma. Mama duduk aja, biar aku yang panggil Bi Sumi. Aku mau telepon ayah sekali lagi." Faya berbicara sambil menempelkan ponsel di pipinya.


Saat dia menelepon, terdengar nada dering telepon Affan yang mendekat ke arah mereka. Faya dan Aira saling berpandangan karena keduanya sangat mengenal nada dering itu.


"Ayah."


"Mas Affan."

__ADS_1


Faya dan Aira terkejut ketika Affan tiba-tiba berdiri di hadapan mereka. Seharusnya dia baru sampai di kantor tetapi tiba-tiba sudah ada di rumah.


"Maaf, ayah pulang tanpa memberi kabar kalian terlebih dahulu. Ada apa kamu meneleponku, Sayang?" tanya Affan sambil menatap ke arah Faya.


"Sepertinya mama mau melahirkan, Yah. Jadi, aku menelepon ayah biar cepat pulang," jelas Faya.


"Perasaan ayah juga tidak enak dan merasa jika mamamu mau melahirkan. Setelah setengah perjalanan aku minta Pak Sapto untuk putar balik dan melihat keadaan Aira." Affan menceritakan apa yang dialaminya.


"Syukurlah. Aku mau panggil Bi Sumi dan yang lainnya dulu buat bawa barang-barang mama ke mobil, Yah," pamit Faya.


"Iya, Sayang."


Lalu, Affan berjalan mendekati Aira yang sedang berbaring setengah duduk di atas tempat tidurnya.


"Bagaimana perasaanmu, Sayang? Apakah ini menyakitkan?" tanya Affan sambil memegang tangan Aira dan menciumnya.


Aira menggeleng.


"Hanya mulas saja, Mas. Semakin lama semakin sering," jawab Aira sambil tersenyum.


"Semoga kamu dan bayi kita sehat semuanya." Affan memperlihatkan wajah sedih bercampur bahagia.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2