Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 38. Mawar Putih


__ADS_3

Amanda terus melihat ke meja Bimo sambil terus bersembunyi. Jarak mejanya yang cukup jauh membuatnya tidak bisa mendengar sedikitpun apa yang mereka bicarakan.


Hingga keduanya pergi dari tempatnya, dia masih tidak bisa mendengar sedikitpun apa yang mereka bicarakan. Amanda kehilangan harapannya untuk mengetahui pembicaraan Bimo.


'Hmm. Ya, sudahlah! Aku bisa pergi menemui Dena dan menanyakan ini. Dia tidak akan curiga karena tahu aku juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Bimo.' Amanda meraih tasnya dan meninggalkan mejanya. Makanannya masih utuh karena dia fokus mengawasi Bimo dan Dena.


Untuk pergi ke luar dari rumah makan, Amanda harus melewati bekas meja Bimo dan Dena. Langkahnya terhenti ketika melihat beberapa brosur di sana. Sepertinya Dena sengaja meninggalkannya sebagai promosi terselubung.


Amanda mengambil sebuah lalu kembali berjalan meninggalkan tempat itu. Setelah sampai di dalam mobil dia membuka brosur itu dan membaca isinya. Terbit sebuah senyuman di wajahnya, entah apa yang dia rencanakan.


"Seharian ini Roland tidak menghubungiku. Dasar pria brengsek! Pasti dia sudah bosan denganku." Amanda menginjak pedal gas lalu meninggalkan restoran dengan cepat.


Affan tidak pergi makan siang karena dia sudah makan dirumahnya bersama Aira. Dia sibuk memilih model gaun yang indah dan syar'i untuk Aira dan Faya.


Setelah menemukan gaun dan bajunya yang dia inginkan, Affan kembali untuk bekerja. Semangatnya bertambah seiring dengan hatinya yang berbahagia. Pekerjaan yang memang tidak terlalu banyak selesai dengan cepat.


Saat Bimo datang, Affan sudah menyelesaikan tumpukan berkas di atas mejanya.


"Bim, aku akan pulang lebih awal. Semua file sudah aku selesaikan. Kamu boleh pulang lebih awal juga jika pekerjaanmu sudah selesai." Affan bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pulang.


"Siap, Boss." Bimo tersenyum senang.


Istrinya tengah hamil besar. Bisa pulang lebih awal akan membuatnya merasa disayangi dan diutamakan.


Di dalam perjalanannya, Affan melihat seorang anak kecil menjual bunga di dekat lampu merah. Kaki kecilnya berjalan menghampiri satu mobil ke mobil lainnya.


'Kasihan sekali. Terkadang orang yang memiliki fisik yang kuat memilih untuk mengemis, anak ini berusaha mencari rejeki dengan jalan yang halal.' Affan membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangannya pada anak itu.


"Apakah Anda ingin membeli bunga ini, Tuan?" tanya anak itu dengan polosnya.


"Boleh. Berapa satu tangkai?" tanya Affan, melihat bunga mana yang dia inginkan.

__ADS_1


"Dua puluh ribu, Tuan," jawab bocah itu.


"Pilihkan aku sepuluh mawar putih."


Anak itu segera melakukan perintah Affan dan memilih sepuluh tangkai mawar putih untuknya. Sementara itu Affan membuka dompetnya dan mengambil uangnya. Dia mengambil lima lembar uang ratusan ribu lalu dilipatnya.


"Ini bunganya, Tuan." Anak itu buru-buru memberikan bunganya karena lampu lalu lintas sudah menyala kuning dan akan beralih ke hijau.


"Terimakasih, assalamualaikum." Affan memberikan uangnya dan meminta sopirnya untuk melajukan mobilnya.


"Wa'alaikum salam." Anak itu segera menepi.


"Alhamdulillah!" Dia mencium uang ditangannya dengan wajahnya yang gembira. "Semoga Allah membalas kebaikanmu, Tuan."


Affan memandangi bunga yang dibelinya. Dia berharap Aira akan menyukainya. Senyumnya mengembang di wajah tampannya saat membayangkan wajah Aira yang tersipu ketika menatapnya.


'Perlahan-lahan aku mulai mencintaimu Aira. Kuharap perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan.' Affan merasa ragu mengingat usianya yang terlampau jauh dari usia Aira.


Saat Affan sampai di rumah, Aira masih belajar bersama guru home schooling sedangkan Faya belajar bersama guru privatnya. Mereka terlihat sedang sibuk dengan laptop masing-masing.


"Assalamualaikum!" sapa Affan.


"Wa'alaikum salam!" jawab mereka serempak.


Aira dan Faya berjalan menghampiri Affan dan menyalaminya.


Affan meletakkan tangan kirinya di belakang punggungnya.


"Apa yang ayah sembunyikan?" tanya Faya mencoba melihat apa yang disembunyikan oleh ayahnya.


"Bub-bu-bukan apa-apa." Affan memutar tubuhnya lalu berjalan mundur menuju kamarnya.

__ADS_1


Sekilas Faya masih melihat bunga yang dibawa oleh Affan. Dia kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Aira dan berbisik, "Cie ... ada yang mau dikasih bunga, nih. Kayaknya ayah sudah mulai bucin sama kamu."


Aira tersipu lalu berkata, "Ayo kita belajar lagi."


Faya akan semakin gencar menggodanya jika dia menanggapinya. Untuk itu Aira memilih kembali belajar meskipun pikirannya sedikit terganggu dengan kepulangan Affan.


Kegiatan belajar Faya dan Aira selesai hampir bersamaan. Mereka pergi ke kamar masing-masing membawa peralatan sekolah mereka.


Aira mengetuk pintu kamarnya karena tahu jika Affan sudah pulang. Setelah menunggu beberapa saat, Affan membukakan pintu untuknya dan menyambutnya dengan senyuman.


"Permisi, Mas. Aku mau masuk." Aira terlihat canggung. Pikirannya semakin kacau saat melihat Affan yang sangat tampan dengan pakaian santainya setelah mandi.


"Masuklah Nyonya Affan." Affan menggerakkan tangannya mempersilakan.


Aira berjalan dengan tersipu. Jantungnya berdegup tak menentu ketika Affan mengikutinya berjalan dibelakangnya. Setelah meletakkan laptop dan buku-bukunya, dia berbalik dan mendapati Affan berdiri begitu dekat dan sedang menatapnya.


"Ini untukmu." Affan mengeluarkan mawar putih yang dia sembunyikan dibalik punggungnya.


"Terimakasih." Aira menerima lalu menciumnya.


"Harusnya bukan mawar itu saja yang dicium," sungut Affan.


Ini pertama kalinya Aira melihat suaminya itu merajuk. Dengan sedikit malu-malu, Aira berjinjit dan mengecup pipi Affan.


Affan menahannya saat Aira akan berbalik. Mereka melakukan hal romantis seperti pasangan yang saling mencintai meskipun keduanya belum mengakui perasaannya.


****


Bersambung ....


Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2