
Affan meletakkan tangan kirinya melingkari bahu Aira. Matanya terus memandangi istrinya itu dengan penuh cinta.
"Sayang, ini Hana. Karyawan baru yang bekerja di kantor ini. Dia adalah sahabat Bimo," jelas Affan.
Aira mengangguk lalu tersenyum menatap Hana. Tangannya tulus terulur untuk memperkenalkan dirinya.
"Hai, namaku Aira. Aku istrinya Mas Affan." Aira tidak ingin menutupi identitasnya lagi. Dengan begini dia berharap jika wanita dihadapannya itu memiliki niat yang tidak baik maka akan segera sadar.
Hana menatap Aira tidak percaya. Untuk sejenak dia terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Tangannya terlihat gemetar dan membalas uluran tangan Aira dengan gugup.
"Hana."
Tangan Hana terasa dingin. Aira berpikir jika Hana sedang gugup saat ini. Namun, dia tidak ingin berpikiran buruk terhadapnya.
"Ini anak kamu, ya?" tanya Aira sambil menyentuh tangan mungil Safira.
"Iya, benar. Namanya Safira."
Meskipun belum bertemu dengan Aira sebelumnya, Safira tersenyum manis padanya. Saat Aira merentangkan kedua tangannya, dia langsung menyambutnya.
"Maaf, Nyonya. Aku takut dia merepotkanmu." Hana tidak mengijinkan Aira menggendong Safira karena merasa sungkan.
Wajah Safira terlihat sedih dan hampir menangis. Melihat akan hal itu, Aira menjadi tidak tega dan tetap meraihnya.
"Tidak apa-apa." Aira tersenyum pada Hana.
Hana pun tidak kuasa menolak lagi dan membiarkan Safira digendong oleh Aira. Safira terlihat sangat senang dan memeluk Aira dengan sangat erat.
"Hati-hati, Sayang. Jangan terlalu lelah, kandunganmu sudah semakin besar." Affan memperingatkan Aira yang membawa Safira berjalan sambil mengikutinya di belakang.
Naluri keibuan Aira sangat terlihat meskipun usianya masih sangat muda. Selain pada Aira, Safira pun meminta gendong pada Affan. Dengan ragu-ragu Affan pun menggendongnya.
Hana terlihat sungkan untuk mendekat tetapi dia juga merasa tidak enak karena putri kecilnya meminta gendong pada Affan.
Bimo meliriknya lalu melangkah ke arah meja tempat dia meletakkan makan siangnya. Perutnya terasa sangat lapar dan waktu istirahat yang terus bergulir.
"Boss, aku makan duluan, ya!" seru Bimo sambil membuka makanan yang dipesannya lalu menuangnya ke piring.
__ADS_1
Affan yang sedang bercanda bersama Aira dan Safira pun menoleh. Hampir saja dia lupa jika sudah melewatkan makan siangnya.
"Aku juga lapar, Bim." Affan kemudian menyerahkan Safira pada Aira.
"Berikan pada Hana. Kamu pasti juga belum makan, kan?" tanya Affan pada Aira.
Aira tersenyum dan mengangguk. Tidak ingin membuat Affan menunggu, dia segera membawa Safira pada Hana.
"Tante makan dulu, ya. Kamu sama mama kamu. Nanti kita main lagi." Aira memberikan pengertian pada Safira sebelum menyerahkannya pada Hana.
Safira mengangguk. Meskipun belum lancar berbicara dia sudah mengerti apa yang dikatakan oleh Aira.
"Saya permisi, Nyonya." Hana berpamitan pada Aira.
"Baiklah." Aira mengangguk.
Aira masih berdiri mematung hingga Hana berlalu dan tidak tampak lagi di sana. Ada perasaan aneh yang sulit dia jabarkan. Dia tidak menyadari jika Affan sudah berdiri di sampingnya dan tersentak ketika tangannya menyentuh bahunya.
"Ayo kita makan. Kasihan Bimo dari tadi sudah menunggu," ucap Affan lembut.
"Ah, iya, Mas. Aku sampai lupa tadi bawa beberapa makanan. Sepertinya cukup untuk kita bertiga." Ucapan Aira terlihat tidak biasa. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Waktu istirahat habis tepat setelah mereka selesai makan. Bimo segera undur diri dari ruangan Affan mengingat ada Nyonya Besar di sana. Dia tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka.
"Tolong sekalian kamu bawa berkas di mejaku. Aku sudah selesai memeriksanya." Affan berbicara kepada Bimo yang sudah selesai mencuci tangannya dan bersiap-siap untuk pergi.
"Siap, Boss! Ada lagi?" tanya Bimo ingin sekalian menanyakan tugas selanjutnya.
Affan terlihat berpikir seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Hari ini cukup santai dan tidak sesibuk hari-hari biasanya.
"Aku rasa tidak ada. Jika nanti ada kepentingan, aku akan meneleponmu." Affan tidak ingin menahan Bimo lebih lama lagi.
"Baik, Boss." Bimo menggerakkan tangannya seperti sedang memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan Affan.
Kini di dalam ruangan itu hanya tinggal Affan dan Aira. Affan berjalan mendekati Aira lalu membawanya duduk di sofa. Dengan lembut tangannya mengelus perut Aira yang membuncit.
Affan terlihat sangat senang ketika merasakan gerakan dari calon buah hati mereka. Beberapa kali dia menempelkan telinganya untuk mendengar dan merasakan tendangan kaki kecil yang ada di perut Aira.
__ADS_1
Rasa khawatirnya perlahan terkikis setelah berkonsultasi dengan dokter dan menyatakan jika kondisi Aira dan bayinya sangat sehat. Affan selalu berdoa dan memohon agar kejadian buruk yang dialaminya di masa lalu tidak terulang lagi.
Menghilangkan trauma memang tidak mudah tetapi Affan berusaha untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan berusaha untuk berpikir positif.
Sebuah panggilan di ponsel Affan sejenak mengalihkan perhatiannya. Mereka menghentikan sendau gurau dan sama-sama menatap fokus ke arah ponsel Affan.
"Mas, ada telepon." Aira mengingatkan Affan yang tidak kunjung beranjak dari duduknya.
Affan mengangguk lalu berkata, "Aku angkat dulu, Sayang."
"Iya, Mas."
Affan berjalan menghampiri meja kerjanya di mana dirinya meletakkan ponselnya. Nama Bimo muncul di layar dan terus bergerak sebelum dia mengangkatnya. Takut ada hal penting yang tidak bisa terlewatkan, Affan pun segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
Panggilan terhubung.
"Hallo, Assalamu'alaikum Bimo," jawab Affan.
"Wa'alaikum salam, Boss. Boss ini ada berita dari agen yang kita kirim. Apakah Boss ingin mendengarnya sekarang?" tanya Bimo.
Affan melirik ke arah Aira. Susah payah dia menyembunyikan rencana ini darinya. Tidak mungkin dia membiarkan Bimo membocorkannya begitu saja.
"Aku akan meneleponmu nanti. Beri aku waktu untuk bersantai bersama istriku. Assalamu'alaikum." Affan segera menutup teleponnya, antara takut ketahuan Aira dan tidak ingin diganggu.
Affan meletakkan ponselnya di atas meja lalu kembali berjalan mendekati Aira. Baru beberapa langkah dia berjalan ponselnya kembali berdering. Terpaksa dia kembali menghampiri ponselnya dan menerima panggilan.
Affan bersiap-siap untuk marah ketika berpikir jika penelepon itu adalah Bimo. Hanya Bimo yang berani mengganggunya. Namun ternyata dugaannya salah. Tidak ada nama dalam panggilan itu yang menandakan jika nomor telepon belum tersimpan dalam kontaknya.
Affan merasa ragu untuk mengangkatnya mengingat nomor teleponnya tidak diketahui oleh sembarang orang. Cukup lama dia memandangi ponselnya sambil terpaku hingga Aira menyusulnya.
"Siapa, Mas?" tanya Aira penasaran.
"Aku juga tidak tahu, Sayang. Kontaknya belum tersimpan. Mungkin nomor nyasar saja." Affan mengabaikan panggilan dan meletakkan ponselnya kembali.
"Jangan begitu. Bagaimana kalau dia teman kamu yang sedang membutuhkan pertolongan?"
Ucapan Aira membuat Affan berubah pikiran. Dia pun kembali mengambil ponsel yang masih terus berdering.
__ADS_1
****
Bersambung ....