
"Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku, Aira. Rasa khawatir akan membuatku mati secara perlahan. Astaghfirullah." Affan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sekilas.
Aira kembali menatap Faya seolah ingin meminta pendapatnya. Tidak ingin semuanya bertambah runyam, Faya pun mengangguk.
Affan bisa semakin salah paham jika tidak segera dijelaskan tentang apa yang terjadi. Namun, Aira tidak menceritakan secara detail bahwa Sintya telah menyakitinya.
"Jadi Sintya datang ke rumah dan mengadu pada kalian? Hmm ... aku heran kenapa masih ada orang yang tidak tahu malu sepertinya." Affan menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu saja, Yah. Tante Sintya juga menampar mama." Faya mengabaikan larangan dari Aira yang memintanya untuk merahasiakan kejadian ini.
Mata Aira yang bulat membelalak karena terkejut. Detak jantungnya menjadi lebih cepat saat Affan menatapnya tak percaya.
"Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak akan bersikap lembut lagi padanya." Affan mengeratkan kepalan tangannya.
Aira berusaha untuk menguasai dirinya. Kepalanya menunduk menatap ke dasar mobil hingga tangan kanan Affan mengangkat dagunya.
Secara sekilas memang tidak terlihat lebam di pipinya tetapi jika diamati baik-baik pipi Aira terlihat kemerahan.
Hati Affan menjadi sakit ketika mendapati istri kecilnya teraniaya. Dalam diamnya dia berjanji untuk terus mengawasi gerak-gerik Sintya demi keamanan Aira dan calon buah hati mereka.
"Faya, Aira, jaga diri kalian baik-baik. Setelah ini jangan ijinkan Sintya masuk ke rumah. Dia bukan orang yang baik." Affan berkata lembut tetapi penuh penekanan.
Faya dan Aira mengangguk. Masih tersisa rasa segan di hati keduanya melihat kemarahan Affan sebelumnya.
Ketiganya terdiam dan larut dalam pikiran masing-masing hingga mobil yang membawa mereka sampai di rumah sakit yang mereka tuju. Sebelum datang, Affan sudah menelepon dokter kandungan untuk membuat janji.
Kedatangan mereka sudah ditunggu. Asisten dokter yang menangani Aira langsung meminta mereka untuk masuk ke ruang pemeriksaan meskipun banyak pasien lain yang mengantri.
Dokter Aqila menanyakan beberapa hal terlebih dahulu kepada Affan dan Aira sebelum memeriksanya.
__ADS_1
"Dok, bolehkah saya membawa anak perempuan saya masuk? Dia sangat ingin tahu seperti apa keadaan kandungan mamanya." Affan meminta ijin untuk membawa serta Faya dalam pemeriksaan.
"Oh, boleh, Pak. Silakan dibawa masuk." Dokter Aqila tidak keberatan.
"Terima kasih."
Affan segera bergegas untuk memanggil Faya keluar. Tidak berselang lama mereka pun kembali ke sisi Aira yang telah berbaring di atas meja pemeriksaan.
Dokter Aqila menatap Aira dan Faya bergantian. Dia merasakan pemandangan yang luar biasa di mana antara anak dan ibu yang terlihat masih sama-sama muda. Terlebih setelah dia tahu berapa usia Aira.
Meskipun sangat gugup karena terkejut, Dokter Aqila berusaha untuk menutupinya. Tangannya masih sedikit gemetar hingga benda yang digenggamnya hampir jatuh.
"Maaf, saya ingin menyingkap sedikit bajunya." Dokter Aqila mulai bersiap memeriksa.
"Silakan, Dok." Aira telah siap.
Dokter Aqila memberikan gel di perut Aira lalu mulai menempelkan transduser yang memancarkan gelombang ke layar USG. Meskipun masih sangat kecil janin Aira sudah terlihat.
Mereka bertiga sangat bahagia. Pemandangan ini membuat Dokter Aqila semakin kagum pada keluarga dihadapannya itu.
Beberapa hasil USG diabadikan dalam sebuah foto. Tidak ingin pasien lain terlalu lama menunggu, Dokter Aqila pun segera menyudahi pemeriksaannya dan menuliskan beberapa resep untuk Aira.
***
Affan terbangun di tengah malam. Sebelum melakukan sholat malam dia mengambil ponselnya dan pergi ke luar kamar.
Rumahnya terlihat sepi. Semua orang telah larut dalam mimpi. Namun, Affan tetap berhati-hati dan berbicara pelan ketika sedang menelepon seseorang.
"Bim, ingat jangan sampai ada yang tahu tentang masalah ini. Jangan sampai bocor."
__ADS_1
"Siap, Boss. Aku akan melakukannya dengan rapi." Di seberang Bimo menjawab dengan yakin.
"Bagus. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Percakapan keduanya terputus.
Affan kembali ke kamarnya dan terkejut ketika Aira terbangun dan berdiri di depan pintu saat dia baru akan membuka pintu.
"Mas Affan dari mana?" tanya Aira sedikit terkejut.
Affan terlihat gelagapan dan bingung mencari alasan yang tepat. Namun, sepertinya dia tidak mungkin untuk berbohong karena Aira terlanjur melihat ponselnya.
"Tidak dari mana-mana. Ini habis teleponan sama Bimo. Ada masalah penting yang harus dibahas tadi."
Aira mengangguk. Meskipun Affan terlihat salah tingkah tetapi dia tidak ingin berpikir macam-macam. Mungkin kehadirannya yang tiba-tiba membuat suaminya itu menjadi gugup.
"Mas Affan tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?" tanya Aira lagi.
Affan menahan nafasnya beberapa detik lalu menghembuskannya cepat.
"Apa kamu ingin tahu tentang pembicaraanku dengan Bimo?" Affan mencoba meyakinkan Aira dengan membuka riwayat panggilan lalu menyerahkan ponselnya.
"Aku percaya padamu." Aira tersenyum.
Affan merasa lega. Misi rahasianya tidak boleh diketahui oleh Aira.
****
__ADS_1
Bersambung ....