Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 28. Tidak Ada Habisnya


__ADS_3

Amanda terpaksa menyetujui permintaan Roland untuk menginap di rumahnya. Namun, mereka tidur di kamar yang terpisah.


Bi Asih terkejut dengan kehadiran Roland di rumah majikannya dan merasa tidak habis pikir. Seharusnya dia tidak memiliki muka karena telah menghamili Amanda dan mengabaikannya.


Amanda sudah lebih tenang dan bersikap lunak pada Roland. Mereka tampak seperti sepasang suami istri yang bahagia.


Setelah makan malam, Roland dan Amanda berdiri di balkon lantai dua rumahnya. Mereka keluar dari kamar untuk menikmati keindahan malam di kota Jakarta.


Wajah Amanda terlihat lebih segar dari sebelumnya. Kehadiran Roland memberinya membuatnya merasa nyaman meskipun status mereka belum jelas saat ini.


"Amanda!" panggil Roland.


Dia menatap Amanda dengan penuh perasaan. Sejak kasus yang menimpanya, mereka tidak pernah bertemu atau pun saling memberi kabar.


"Iya."


Roland bergerak mendekati Amanda. Merasa sikapnya sudah lebih lembut, dia berani untuk mendekatinya.


"Terserah jika kamu menganggapku sebagai pria brengsekk atau apa tapi sungguh aku benar-benar menyesal telah mengabaikanmu selama ini."


Ucapan Roland terdengar sangat menyentuh.

__ADS_1


"Aku sudah melupakannya. Seperti apapun dirimu, kamu tetap ayah dari anakku. Hanya saja ... hatiku merasa begitu sakit jika teringat kamu ingin menodai Aira."


Roland menunduk mendengar ucapan Amanda. Dengan dalih balas dendam untuk Amanda, tanpa sadar dia telah melukai hati orang yang disayanginya.


"Aku mengaku apa yang aku lakukan salah. Maafkan aku, Amanda. Saat itu aku benar-benar tidak memiliki cara lain untuk menghancurkan Affan. Perlu kamu tahu jika aku melakukan ini untuk membalas semua luka yang diberikannya padamu."


Amanda terkejut dengan penjelasan Roland. Semula dia berpikir jika Roland melakukan sabotase untuk membalas dendam pribadinya.


Hati Amanda semakin terbuka untuk menerima Roland. Meskipun sedikit terlambat untuk menyadari, Amanda bisa melihat ketulusan di mata Roland.


'Sepertinya aku harus membuka hatiku dan menerima pinangan Roland. Kota ini tidak lagi membuatku nyaman dan aku merasa jika semua orang menertawakanku. Duniaku terasa begitu sempit dan tidak lebih luas dari kamarku.'


***


Bimo dan Affan mengobrol di ruang rapat. Setelah rapat mereka tidak langsung pergi dari sana.


"Meskipun Amanda pergi dari kehidupanku tetapi aku belum bisa merasa tenang, Bim." Affan terlihat sedih.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti, Boss." Bimo mengernyit heran.


Affan menghela nafas dalam. Bayangan Kayra kembali hadir setiap kali Sintya datang ke hadapannya. Hati kecilnya berusaha menolak tetapi ingatan itu tidak juga menghilang.

__ADS_1


"Sepupu Kayra datang. Dia bercerai dengan suaminya dan mencoba untuk mengusik rumah tanggaku. Aku tidak tega melihat Aira kembali tersakiti oleh keadaan."


"Nyonya bukan orang yang lemah. Selama Boss tidak menanggapinya maka keadaan bisa terkendali."


Ucapan Bimo seperti sebuah tamparan bagi Affan. Imannya seperti sedang diuji ketika dia melihat wajah Sintya. Tidak dipungkiri kenangan tentang Kayra masih melekat di dalam ingatannya.


Belum kering bibir mereka usai berbicara. Di kejauhan terlihat Sintya datang menghampiri keduanya. Seorang staf mengantarnya ke ruang rapat lalu pergi meninggalkan ruangan.


Bimo beranjak dari duduknya tetapi Affan memberinya isyarat untuk kembali duduk.


"Affan!" panggil Sintya.


"Assalamualaikum, Sintya. Duduklah!" Affan memberi salam pada Sintya yang seharusnya mengucapkannya.


"Wa-wa-wa'alaikum salam." Sintya terlihat gugup.


"Silakan duduk!" Affan memintanya duduk di salah satu kursi.


Bimo menatap Sintya tanpa berkedip. Dia tidak menyangka jika ada orang yang begitu mirip. Wajah Sintya sangat mirip dengan Kayra.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2