
"Roland!" pekik Amanda.
Hatinya berkecamuk menahan getir. Pria ini seharusnya tidak datang ke negara ini. Sebelumnya dia dibebaskan dengan jaminan oleh keluarganya dan tentunya menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
"Iya, ini aku."
Roland tidak sanggup berkata-kata. Tubuh Amanda yang kurus dengan mata yang sayu membuat hatinya merasa sakit. Hati kecilnya tersentuh saat melihat perut Amanda yang membesar.
Mereka saling berpandangan hingga beberapa saat. Setelah menguasai perasaannya, Amanda kemudian berhambur memeluk Roland dengan erat. Air matanya tumpah tak terbendung lagi.
Roland membawa Amanda duduk di sofa tanpa melepaskan pelukannya. Tangannya terus membelai kepalanya yang bersandar di bahunya.
"Maafkan aku, Amanda. Aku tidak tahu jika kamu mengandung anakku. Seharusnya aku lebih memperhatikanmu bukan malah hidup dengan ambisiku."
Amanda buru-buru melepaskan pelukannya. Dia teringat jika Roland melakukan tindak asusila pada Amanda meskipun berhasil dicegah oleh Affan
Perasaan bahagia yang sebelumnya menguap begitu saja. Terlebih lagi dia ingat jika Roland tidak ingin memiliki hubungan yang serius dengan seorang wanita. Dengan kata lain, dia tidak mungkin menikahi dirinya.
Tangan Roland memegang dagu Amanda yang tengah memalingkan wajahnya. Perlahan dia menariknya dengan lembut lalu memposisikan wajah Amanda lurus dengan wajahnya.
__ADS_1
"Mengapa kamu tidak bilang jika kamu sedang mengandung anakku? Apakah kamu takut jika aku memintamu untuk menggugurkannya?" tanya Roland.
Amanda menggeleng.
Mata sayunya masih terus meneteskan air matanya. Hingga saat ini Amanda belum mempercayai Roland sepenuhnya.
"Bersiaplah! Kita akan pergi ke luar negeri. Untuk apa kamu tinggal di sini, toh kamu juga hanya sendirian." Roland memang suka berterus terang.
"Jangan keterlaluan, Roland! Kamu tidak berhak mengatur hidupku. Aku bisa hidup bersama bayiku dan membesarkannya tanpa campur tangan siapa pun."
Kehamilan Amanda membuatnya sangat mudah marah. Seringkali dia kehilangan akal sehatnya ketika sedang emosi.
Roland menunduk penuh penyesalan. Matanya berkaca-kaca dan hampir menangis saat dia mengungkapkan isi hatinya.
"Aku tidak yakin kamu mau menikahiku." Amanda kembali berpaling.
Tanpa diduga Roland rela menurunkan harga dirinya dengan berlutut di kaki Amanda. Tangannya meraih tangan Amanda lalu mengecupnya beberapa kali.
Perlakuan Roland yang tiba-tiba membuat Amanda terkejut. Dia tidak ingin berpikir jika dirinya istimewa meskipun seorang Roland tidak sembarang melakukan ini pada semua orang.
__ADS_1
"Amanda, menikahlah denganku. Mari kita besarkan anak kita bersama-sama. Kita memulai semuanya dari awal dan menjalani hidup yang baru di luar negeri."
Setelah mengatakan itu, Roland mengambil sebuah kotak perhiasan. Bukan cincin yang digunakan untuk melamar Amanda melainkan sebuah kalung dengan liontin berlian.
Amanda diam saja ketika Roland beranjak dari duduknya dan berdiri untuk memakaikannya di lehernya.
"Waktuku di negara ini tidak banyak, Amanda. Besok pagi aku sudah harus kembali." Suara Roland terdengar sangat sedih.
Bibir Amanda masih terkatup rapat. Semua keputusan tidak bisa diambil dalam waktu yang singkat. Pernikahan adalah hubungan yang sakral.
"Menikah tidak sesederhana bagaimana kita mengucapkannya. Berikan aku waktu untuk berpikir."
Roland mengerti keraguan Amanda dan dia tidak menyalahkan untuk itu. Kesalahan yang dilakukannya begitu banyak, tidak heran jika Amanda merasa ragu.
"Baiklah! Aku hanya bisa menunggu hingga besok. Em, bolehkah aku menginap di sini?" tanya Roland. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Amanda.
****
Bersambung ....
__ADS_1