Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 90. Baik-baik Saja


__ADS_3

Dokter Diana terkadang mengulangi pemeriksaan hingga beberapa kali untuk mendapatkan hasil yang akurat. Aira termasuk pasien yang diprioritaskan oleh rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi kesalahan dalam pemeriksaan.


Saat pemeriksaan berlangsung, Dokter Diana mengajukan beberapa pertanyaan untuk menunjang informasi yang dibutuhkan dalam pemeriksaan. Setelah hampir setengah jam berlangsung, pemeriksaan akhirnya selesai. Dokter Diana kemudian menjelaskan secara rinci tentang hasil pemeriksaan hari ini.


"Secara garis besar, kandungan Nyonya Aira baik-baik saja. Jika gerakan janin yang tidak seaktif biasanya itu karena pengaruh obat yang diminum tetapi hal ini tidak berbahaya. Setelah obat dihentikan, kondisinya akan menjadi normal lagi. Apakah Nyonya memiliki keluhan?' tanya Dokter Diana dengan sopan.


"Tidak ada, Dok. Luka di bahu saya juga sudah mengering. Semoga saja saya tidak harus minum obat lagi." Aira berbicara sambil mengelus perutnya.


"Baiklah, Nyonya. Di sini saya menulis beberapa resep vitamin untuk Anda. Jika Tuan Affan tidak sempat, bisa meminta perawat untuk menebusnya di apotek rumah sakit." Dokter Diana menyerahkan hasil pemeriksaan dan resep vitamin kepada Affan.


"Terimakasih, Dok. Kami permisi!" pamit Affan.


Aira mengangguk dan tersenyum sebelum perawat yang membawanya memutar kursi menuju ke arah pintu keluar.


"Sama-sama," ucap Dokter Diana.


Setelah Aira, masih ada beberapa pasien yang harus dilayaninya hari ini. Jadwal kerjanya hari ini berlangsung hingga sore, kira-kira pukul 4 dia baru bisa pulang ke rumahnya.


Aira menandai ruang tempat Hana di rawat. Sebenarnya dia sangat ingin melihat keadaannya tetapi Affan pasti melarangnya. Sebelum sampai di depan ruangan pun, dia sudah mengamati ruangan penuh rasa ingin tahu.


"Jika lukamu sudah sembuh, aku akan membawamu menjenguk Hana," ucap Affan seperti tahu apa yang ada dipikiran Aira.


Kata-kata yang disiapkan oleh Aira akhirnya harus tertahan. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengangguk. Semua hal yang dikatakan oleh Affan adalah demi kebaikannya.


'Mas Affan sepertinya sudah tahu apa yang aku inginkan sebelum aku mengatakannya. Aku memang sangat ingin tahu keadaan Hana. Rasanya memang cukup sulit untukku karena harus menggunakan baju steril saat masuk ke ruangannya.' Aira bermonolog dalam hati.


Perjalanan mereka terasa singkat. Dalam waktu kurang dari lima menit mereka sudah sampai di depan kamar Aira. Sesampainya di dalam sudah ada Faya yang sedang duduk menunggu mereka. Sepulang kuliah, dia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui ayah dan ibu sambungnya.


"Ayah dan mama darimana?" tanya Faya merasa penasaran melihat kedatangan mereka.


"Kami dari ruang pemeriksaan kandungan, Sayang. Dokter ingin memastikan kandungan mamamu setelah kejadian kemarin," jelas Affan.


"Lalu bagaimana hasilnya?" Faya ikut merasa khawatir dengan keadaan calon adiknya.


"Sebentar aku bantu mamamu berbaring dulu, kasihan kakak perawat nanti kelamaan nunggu." Affan mengangkat tubuh Aira ke atas ranjang sementara itu perawat membetulkan infusnya.


Bahu Aira masih terasa nyeri tetapi dia berusaha untuk menutupinya agar Affan dan Faya tidak merasa khawatir. Luka luarnya sudah mulai mengering dan rasa nyeri yang dirasakannya pun telah berkurang lebih dari setengah rasa sakit sebelumnya.


Faya juga tidak tinggal diam. Dia membantu membetulkan posisi tidur Aira agar merasa nyaman. Sebenarnya dia tahu dalam posisi apapun, orang yang sakit tidak akan merasa nyaman.


Perawat yang mengantar Aira telah kembali. Kini hanya tinggak Affan, Faya, dan Aira yang tinggal di ruangan itu.


"Jadi bagaimana, Ma? Apa yang dikatakan oleh dokter kandungan tentang kondisi mama?" tanya Faya melanjutkan pertanyaannya yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Semoga bisa segera pulang ke rumah. Tinggal di sini terasa sangat sepi dan membosankan." Aira mengungkapkan isi hatinya.


"Sama, Ma. Di rumah juga sangat sepi. Biasanya kita sarapan bareng, makan malam bareng, nunggu ayah pulang sambil nonton bareng. Ah, tidak ada yang seru tanpa mama," ucap Faya yang tidak mau kalah.


Affan menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua wanita yang disayanginya. Mereka memang tidak terikat oleh hubungan darah tetapi sangat dekat satu sama lain. Hal ini lah yang membuatnya merasa yakin untuk menerima Aira seutuhnya sebagai pendamping hidupnya.


"Sudah ... sudah! Siapapun tidak ingin tinggal di rumah sakit. Kita diberi rasa sakit agar kita tidak lupa bersyukur selagi diberi kesehatan." Affan merasa candaan anak dan istrinya itu sebuah keluhan.


"Tentu saja, Ayah. Kami selalu bersyukur. Tadi aku mau bilang apa, ya? Setelah bertemu kalian aku jadi lupa," ucap Faya sambil menekan-nekan hidungnya dengan kedua telunjuknya.


Tingkah lucu Faya membuat Aira tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan Faya akan memencet hidungnya jika sedang berpikir atau merasa panik. Namun, kali ini dibarengi dengan ekspresi frustasi yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan.


Secara reflek tangan Aira menutup mulutnya yang mulai tertawa tanpa suara sementara Affan sedang fokus melihat ponselnya. Affan tidak suka bercanda dan memilih untuk menyingkir dari kekonyolan mereka berdua. Dia memilih pergi ke sofa di sudut ruangan untuk memeriksa pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.


Bimo mengirimkan banyak pesan tentang pekerjaan hari ini. Ada beberapa berkas yang memerlukan persetujuannya. Untuk hal yang lain-lain bisa diatasi oleh Bimo.


"Ayah!" panggil Faya.


"Hmm," jawab Affan sambil terus fokus untuk berbalas pesan dengan Bimo.


Aira memegang tangan Faya dan memintanya untuk tidak mengganggu ayahnya dulu.


"Aku takut jika nanti aku lupa lagi, Ma." Faya terlihat tidak sabar.


Faya mengamati ayahnya yang memasang wajah paling serius. Dia seperti memiliki dunia sendiri dan melupakan keberadaan Aira dan Faya. Hingga beberapa detik dia terjebak dalam pandangannya yang berfokus pada sang ayah.


Rupanya Aira juga melakukan hal yang sama dengan Faya. Menurutnya Affan terlihat lebih tampan jika sedang serius. Saat di rumah pun dia seringkali mencuri-curi kesempatan untuk mengintipnya.


"Ma, ayah sampai segitunya ya kalau serius. Sedikit pun dia tidak menoleh kemari." Faya menggeleng tidak habis pikir.


"Ayahmu memang tipe orang yang fokus, Faya. Kita mengoceh pun tidak akan membuatnya untuk tertarik." Aira berkata sambil mengulum senyumnya.


"Sudahlah, Ma. Mungkin banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikannya hari ini. Kalau mama mengantuk biar aku yang temani." Faya membetulkan selimut Aira dan memintanya untuk tidur.


Aira mengangguk. Obat yang diminumnya tidak membuatnya mengantuk seperti sebelum-sebelumnya tetapi Aira memang benar-benar mengantuk dengan sendirinya. Matanya sudah merasa berat sejak beberapa waktu yang lalu.


Ternyata Faya sendiri juga tidak kalah mengantuk. Tubuhnya ambruk perlahan dan tertidur dalam posisi duduk. Mereka berdua tertidur bersama tanpa banyak bersuara.


Affan merasakan ada yang aneh dengan kedua bidadarinya. Sebelumnya Faya seperti sedang memanggilnya tetapi sekarang tidak ada suara. Dia lalu menoleh ke arah mereka dan mendapati keduanya sedang tertidur.


"Masya'allah. Aku pikir mereka sedang apa." Affan tersenyum dan menggeleng.


Posisi tidur Faya tentu tidak nyaman tapi Affan tidak bisa membetulkannya. Faya pasti malah bangun jika dia mengangkatnya ke atas tempat tidur ekstra.

__ADS_1


'Hmm, kira-kira badannya sakit tidak, ya? Kalau tertidur dengan cara seperti itu. Mau aku biarin tapi kasihan juga.' Affan berjalan mendekati Faya dan menatapnya sejenak.


Putrinya sedang tertidur sangat pulas. Rasanya tidak tega membiarkannya tidur dengan posisi seperti itu. Affan segera mengangkatnya dan memindahkannya ke tempat tidur ekstra yang tidak jauh dari tempat tidur Aira.


Faya sempat membuka matanya lalu tersenyum saat melihat ayahnya sedang menggendongnya tapi dia kembali memejamkan matanya karena mengantuk. Dia tidak peduli saat ini sedang berada di mana.


Affan terjaga seorang diri. Dia lalu melanjutkan untuk berbalas pesan pada Bimo. Ada sebagian berkas yang perlu untuk ditandatangani dan dia melakukannya dengan ponselnya.


Bimo tidak mungkin mengantarnya dan meninggalkan pekerjaannya. Untuk pekerjaan sepenting itu, dia juga tidak mungkin meminta sopir mengantarkan ke rumah sakit.


***


Keadaan Aira terus membaik. Di hari ketiganya di rumah sakit, dia sudah bisa menggerakkan tangan kanan yang terhubung dengan bahu tanpa merasakan sakit. Luka di bagian dalamnya telah sembuh sehingga besok pagi dia sudah boleh pulang.


Dokter yang merawat Aira melakukan observasi dengan melepaskan infus di tubuh Aira. Mereka ingin memastikan jika reaksi dari obat yang dikonsumsi selama ini tidak mempengaruhi kesehatan kandungannya. Terkadang seorang pasien mengalami pusing dan sulit tidur setelah tidak mengkonsumsi obat tertentu dan mendapatkan infus.


Faya merasa tenang dan juga ingin menginap di rumah sakit malam nanti karena dia sudah mendapatkan baby sitter untuk Safira. Dia tidak perlu khawatir jika anak itu rewel atau membutuhkan sesuatu. Setelah kuliah dia akan pergi ke rumah sakit untuk menyusul ayah dan ibu sambungnya.


Dokter melakukan pemeriksaan rutin di pagi hari. Pelepasan infus dan terapi pemulihan akan dilakukan sebelum makan siang. Secara keseluruhan keadaan Aira sudah baik-baik saja.


"Alhamdulillah, akhirnya aku tidak perlu minum obat banyak-banyak lagi. Mana besar-besar lagi," ucap Aira dengan nada manja.


"Pait tidak, Sayang?" tanya Affan.


"Kalau itu jangan ditanya, Mas. Ada yang sampai beberapa kali minum pahitnya tidak hilang-hilang." Aira menjelaskannya dengan ekspresi yang menggebu.


"Alhamdulillah sekarang kamu tidak perlu lagi minum obat-obatan itu. Mungkin hanya minum vitamin saja. Kecuali, kamu merasa pusing setelah selang infus dilepas." Affan masih merasa khawatir jika keadaan Aira belum sepenuhnya pulih.


"Semoga saja tidak ada masalah lagi setelah ini, Mas." Aira mengambil tangan Affan dan mengecupnya.


Dia sangat bahagia karena suaminya memberikan seluruh waktunya untuk merawatnya. Sepanjang hari dia menjaganya tanpa rasa lelah dan rela menemaninya di rumah sakit hingga berhari-hari.


"Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan suami yang sangat pengertian sepertimu." Aira mengusap-usap tangan Affan.


Affan membalasnya dengan pelukan. Meskipun masih berhati-hati tetapi dia berusaha untuk tidak menyentuh di bagian yang terluka.


"Aku sangat rindu, Sayang." Affan mendekatkan wajahnya ke wajah Aira.


Mereka berciuman sekilas karena takut seseorang tiba-tiba datang. Tersisa rasa malu di wajah keduanya meskipun sudah terbiasa melakukannya.


"Apakah aku boleh melihat Hana sekarang, Mas?" tanya Aira.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2