
Seorang wanita yang sangat dikenalnya berlari menyongsongnya. Wanita itu menghambur memeluk Affan.
Sebenarnya Affan berusaha untuk menghindar dengan bergerak mundur. Namun, langkahnya kurang cepat, wanita itu menubruknya dan membuatnya sulit menghindar.
"Astaghfirullah, Sintya, jangan seperti ini! Seseorang akan merasa salah paham jika melihatmu memelukku seperti ini."
Affan membuka tangannya dan berusaha untuk mendorong wanita yang bernama Sintya itu. Sepertinya Sintya sengaja melakukannya dan tidak ingin melepaskan Affan.
Sopir Affan yang juga berdiri di sana pun terbengong-bengong melihat aksi wanita itu. Sebagai sopir Affan yang telah bekerja selama bertahun-tahun, dia sangat tahu bagaimana sifat majikannya.
"Benar, Nyonya, tolong hargailah Tuan Affan. Tidak baik dua orang asing berpelukan di tempat umum."
Jika Affan saja tidak digubris, mana mungkin Sintya mau mendengarkan ucapan sopirnya. Sintya malah berpura-pura memperdalam tangisnya dengan terus terisak.
Sebuah mobil bergerak menghampiri lalu berhenti tepat di samping mereka.
Kali ini Affan tidak ingin membuat kesalahan. Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Sintya hingga membuatnya terhuyung.
Sopir Affan segera menangkapnya dan membantunya berdiri dengan benar. Sementara itu Affan mengibaskan bekas pelukan Sintya dengan tangannya dengan wajah yang kesal.
"Maaf, Mas. Sudah membuatmu menunggu begitu lama." Aira mengambil tangan Affan lalu mencium punggung tangannya.
Sebenarnya dia melihat Affan sedang memeluk seorang wanita ketika mobilnya mulai memasuki tempat itu. Namun, dia tidak ingin membahasnya saat ini.
__ADS_1
"Tidak, Sayang. Aku baru saja selesai meeting."
Merasa diacuhkan, Sintya maju ke hadapan mereka dengan wajahnya yang masih sembab. Selama ini dia tinggal di Australia bersama suaminya.
Beberapa bulan lalu mereka bercerai hingga dia memilih untuk kembali ke Indonesia dan menata hidupnya kembali. Baru seminggu dia datang, dia tidak tahu jika Affan telah menikah.
"Siapa dia? Kabar terakhir yang kudengar kamu belum menikah setelah kepergian sepupuku." Sintya menatap Aira dan Affan bergantian.
'Jadi wanita ini adalah sepupu dari almarhum mbak Kayra. Sepertinya dia memiliki perasaan yang lain untuk Mas Affan.'
Affan meraih tangan Aira dan menggenggamnya seolah ingin mengukuhkan status mereka di mata Sintya.
"Perkenalkan, dia Aira, istriku," ucap Affan sambil melirik Aira penuh arti.
Wajah Sintya terlihat ragu tetapi dia segera menyambut tangan Aira dan menjawabnya, "Sintya."
"Senang bisa berkenalan denganmu. Semoga kita bisa menjadi teman baik setelah ini."
Sikap manis Aira membuatnya terlihat lebih dewasa.
'Aku yakin kamu pasti melihat Sintya memelukku, Aira. Sikapmu ini membuatku merasa malu pada diriku sendiri. Seharusnya aku lebih bisa menjaga perasaanmu.'
"Kami sedang terburu-buru. Sampai nanti. Assalamu'alaikum." Affan menarik tangan Aira lalu membawa pergi menjauh. Mereka berjalan menuju ke pusat perbelanjaan yang menjadi tujuan mereka sejak awal.
__ADS_1
"Tunggu, Affan. Aku juga ingin belanja di sana. Maaf aku tidak menjawab salammu karena aku belum ingin pergi."
Affan tidak ingin berdebat dengan Sintya. Dia memilih terus berjalan bersama Aira dan mengabaikan Sintya yang berjalan di sampingnya.
"Siapa ulat bulu itu?" tanya Pak Toni pada Pak Danang, sopir Affan.
"Tadi aku dengan dia sepupunya Almarhum Nyonya Kayra. Sepertinya akan ada percikan api di antara mereka bertiga." Danang menggeleng cemas.
"Tuan Affan sangat menyayangi Nyonya Aira, aku yakin sekuat apapun wanita itu berjuang, Tuan Affan tidak akan mudah tergoda," ucap Pak Toni.
"Semoga saja begitu."
Percakapan mereka terhenti. Mereka memilih diam dan menunggu apa yang akan terjadi setelah ini.
Sintya menyembunyikan fakta bahwa dia telah selesai berbelanja. Demi mendekati Affan dia rela berpura-pura untuk berbelanja. Toh pegawai mall itu tidak ada yang mengenalnya.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku ya. Terimakasih.
__ADS_1