Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 42. Peristiwa Menyedihkan


__ADS_3

Aira duduk di teras rumahnya sambil menunggu kepulangan Affan. Sore itu cuaca cukup cerah. Gamis merah muda yang dikenakannya membuatnya terlihat sangat cantik.


"Ma! Mama!" panggil Faya dari dalam rumah.


Dari suaranya dia berjalan dari arah kamar Aira lalu berjalan ke ruang tamu.


Aira bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri pintu.


"Aku di sini, Faya," jawab Aira.


Setelah mendengar suara Aira, Faya segera menghampirinya. Dia melangkah dengan setengah berjingkat sambil tersenyum. Matanya yang bulat mengerjap-ngerjap membuatnya terlihat begitu menggemaskan.


"Perasaanku kog jadi tidak enak, ya. Biasanya kalau sikap kamu aneh begini pasti ada maunya," ucap Aira pura-pura cemberut.


"Hahaha ... mama hafal betul, sih, emang, iya, aku ada maunya. Tapi tenang ... aku cuma pengen minta ditemenin aja, Ma." Faya meringis memamerkan gigi putihnya.


Jam di ponsel Aira menunjukkan pukul tiga lebih empat puluh lima menit. Biasanya Affan pulang sekitar jam empat sore. Jika mereka pergi sekarang, Aira tidak bisa menyambut Affan pulang.


Setiap hari dia selalu menyambutnya di rumah dan melakukan rutinitasnya sebagai seorang istri. Namun, Aira juga tidak bisa mengabaikan permintaan Faya. Dia tidak ingin mengecewakan putri sambung sekaligus sahabatnya itu.


"Aku tahu ayah akan segera pulang, aku cuma minta temenin sebentar ke depan. Paling gak sampai sepuluh menit. Janji!" Faya mengangkat tangan dan menunjukkan dua jarinya.


Aira menggeleng dan menatap Faya gemas.

__ADS_1


"Baiklah, ayo!" Aira akhirnya mengikuti kemauan Faya.


"Yee! Thank you, Mama. Aku sayang kamu!" Faya memberi sebuah kecupan di pipi Aira lalu mengalungkan tangannya di bahunya.


Bi Sumi yang melihat keakraban keduanya ikut merasakan kebahagiaannya. Sebelum ada Aira di sana, dia selalu melihat Faya selalu murung dan kesepian. Affan memang sangat menyayanginya tetapi tanggung jawabnya yang besar membuatnya harus bekerja dan tidak bisa selalu memberikan waktunya untuk Faya.


Suasana di rumah itu menjadi semakin berwarna dan harmonis dengan keberadaan Aira. Bi Sumi bersyukur karena yang dinikahi tuannya bukan Amanda yang terlihat baik tetapi berwajah judes.


Satpam di rumah Affan membukakan pintu gerbang untuk kedua majikannya dan kembali menutupnya setelah keduanya keluar. Dalam hati dia bertanya-tanya untuk apa mereka keluar. Biasanya Faya akan memintanya untuk melakukan sesuatu.


"Emang ada apa, sih, Faya? Tumben kamu mengajakku pergi berjalan-jalan keluar rumah?" tanya Aira.


Perasaannya tidak enak. Entah apa yang sedang dipikirkannya, dia merasa tidak nyaman berada di luar rumah tanpa Affan.


"Iya, Mang Ujang sama Bi Sumi mana tahu tentang tumbuhan paku." Aira mengikuti Faya yang berjongkok mencabut tumbuhan paku di sela bebatuan.


Faya merasa sangat senang karena akhirnya dia mendapatkan tugas yang harus dibawanya besok. Keduanya kemudian berjalan menuju ke gerbang rumah mereka. Aira merasa lega karena Affan belum pulang.


Saat keduanya hampir mencapai pagar tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Tanpa merasa curiga Aira dan Faya pun berhenti dan menunggu si empunya mobil keluar. Mereka pikir pemilik mobil ingin menanyakan alamat rumah.


Salah seorang penumpang mobil itu membuka ponsel dan saling berpandangan lalu mengangguk. Mereka kemudian mendorong tubuh Faya hingga terjatuh dan menarik paksa Aira dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Aira tidak bisa berteriak karena mulutnya di bekap. Hanya Faya yang berteriak minta tolong sambil menangis ketakutan.

__ADS_1


Satpam di rumahnya berlari keluar dan berjalan menghampirinya. Dia berusaha mengejar mobil itu tetapi tentu saja kalah cepat. Mang Udin, satpam itu akhirnya menyerah dan berhenti sambil memegangi lututnya.


Dari arah yang berlawanan mobil Affan datang dan berhenti saat melihat Mang Udin di sana.


Affan membuka kaca jendelanya dan menatap heran ke arah satpam rumahnya yang terlihat ngos-ngosan seperti habis berlari sedang berjalan menghampirinya.


"Assalamu'alaikum, Mang Udin," sapa Affan.


"Wa'alaikum salam, Tuan. Gawat, Tuan, gawat. Nyonya Aira, Tuan," ucap Mang Udin dengan napas yang terengah-engah.


Wajah Affan seketika menjadi pias saat melihat kepanikan di wajah Mang Udin. Terlebih lagi dia menyebut nama Aira di dalam ucapannya.


"Tolong katakan dengan jelas, Mang!" seru Affan menenangkan Mang Udin agar berbicara dengan jelas.


Sopir yang membawa mobil Affan turun dari kursi kemudinya lalu datang menghampiri Mang Udin dan memberinya sebotol air mineral.


Di kejauhan terlihat Faya berlari sambil menangis menghampiri mobil ayahnya. Bajunya terlihat sangat kotor karena terjatuh di tanah saat didorong oleh pria yang menculik Aira.


Affan pun segera turun dari mobilnya dan menunggu kedatangan putrinya.


'Astaghfirullah! Apa yang terjadi pada Aira, Ya Allah. Hamba mohon lindungilah dia, Ya Allah.' Affan mencoba untuk tenang meskipun pikirannya sedang kacau.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2