
Setelah Sintya tertangkap, Bimo telah menarik sebagian mata-mata yang disewa untuk berjaga di sekitar Affan. Dia menyisakan dua orang yang mengawasi rumah Affan, dimana salah satunya nanti akan mengikuti ke mana Affan pergi dan yang lain tinggal. Saat bekerja mereka menyamar sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi warga sekitar.
Salah satu pengawal Affan awalnya tidak mencurigai keberadaan mobil yang mengikuti Affan. Mereka hanya sama-sama mengikuti. Bedanya, pengawal Affan mengikuti dengan motor sehingga lebih gesit.
Affan yang masih merasa lelah tidak waspada sedikitpun. Tidak ada perasaan aneh dengan keberadaan mobil yang mengikutinya. Sopir yang membawanya lah yang mulai merasa diikuti karena dia melihat mobil yang sama terus berjalan di belakangnya hingga saat ini.
"Tuan!" panggil sopir yang mengemudikan mobil Affan.
Affan merasa penasaran saat melihat wajah tegang sopirnya. Dari pantulan kaca terlihat jelas jika sang sopir sedang ketakutan.
"Iya, Pak? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Affan sedikit peka.
"Benar, Tuan. Saya merasa mobil berplat putih itu mengikuti kita sejak tadi. Sudah cukup lama saya memperhatikannya dan mobil itu selalu ada di belakang kita. Saya memang tidak tahu tepatnya dari mana dia mengikuti, yang jelas sudah sangat lama.
"Baiklah, terimakasih atas kewaspadaannya, Pak. Saya akan menghubungi Bimo terlebih dahulu." Affan segera mengambil ponselnya dan menghubungi Bimo.
Dalam keadaan panik, dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Kasus Sintya belum selesai. Ada beberapa pihak luar yang ikut terseret di dalamnya. Affan menduga jika orang yang mengikutinya adalah suruhan dari mereka.
Saat menelpon Bimo, Affan hanya menjelaskan secara singkat dan meminta Bimo untuk membalasnya lewat pesan saja. Terlalu lama bertelepon akan membuat Bimo tidak bisa mengambil tindakan. Sedangkan keadaan yang terjadi saat ini sangat mendesak.
"Jalankan mobil pelan-pelan saja, Pak. Di jalan raya kita masih aman. Jika dia memiliki niat yang jahat maka dia tidak akan berani berbuat nekat di tengah keramaian," jelas Affan.
"Baik, Tuan."
"Bagus. Semoga saja Bimo segera memberi kabar tentang bagaimana kita harus menghadapi situasi ini." Affan mencoba menenangkan sopirnya yang masih terlihat panik.
Sebuah pesan dikirim oleh Bimo. Affan segera membukanya. GPS di mobil Affan bisa dilacak oleh Bimo sehingga dia tahu di mana keberadaan Affan saat ini.
Bimo meminta Affan pergi ke sebuah lokasi. Di sana Bimo sudah menyiapkan pasukan untuk menyergap penguntit. Pasukan keamanan yang dia pekerjaan sudah memiliki ijin resmi dari pemerintah dan sering bekerja sama untuk menangkap seorang penjahat.
"Pak tolong pergi ke Jalan Dahlia nomer sembilan. Kita masuk ke halaman gedung serbaguna yang bercat hijau." Affan meminta sopirnya untuk pergi menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh Bimo.
"Baik, Tuan."
Kali ini Affan meminta sopirnya untuk menyetir dengan kecepatan sedang cenderung cepat. Pengawal bayangan yang mengawasinya juga terus memberi kabar pada pasukan yang dipersiapkan oleh Bimo. Mereka juga mengirimkan tiga orang untuk berjaga-jaga jika penguntit Affan menyerang tiba-tiba di lokasi yang tidak terduga.
Beruntungnya, rute menuju tempat yang ditentukan oleh Bimo selalu melewati jalanan yang ramai sehingga penguntit tidak memiliki kesempatan untuk menghadang Affan. Ketika mobil Affan menyalakan lampu sein tanda akan berbelok ke kiri menuju ke gedung serbaguna, mobil penguntit bergerak dengan cepat untuk menghadangnya.
Sopir yang mengemudikan mobil Affan terkejut dengan kemunculan mobil penguntit yang tiba-tiba menghadangnya. Jika dia tidak menginjak rem dengan cepat maka dipastikan mobil yang dikemudikannya menabrak mobil penghadang. Terlihat tiga orang bersenjata keluar dari mobil.
"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" tanya sopir Affan.
"Tenanglah! Jangan membuka pintu atau jendela. Kita tidak mungkin menghadapi mereka. Bimo sudah menyiapkan pasukan untuk meringkus para penjahat ini," jelas Affan.
"Baik, Tuan."
Wajah sopir Affan terlihat ketakutan ketika melihat tiga penjahat bersenjata berjalan menghampiri mobil mereka sambil mengacungkan senjata. Ketegangan berlangsung hingga beberapa saat dan terhenti ketika terdengar suara tembakan dari arah gedung.
Ketiga penjahat bersenjata menoleh ke belakang dan mendapati beberapa anggota sebuah agen bodyguard resmi mengepung mereka. Salah satu diantara penjahat masih mengarahkan senjatanya ke mobil Affan dan 2 lainnya bersiap untuk menghadapi bodyguard yang mengapungnya. Mereka tidak memiliki rasa takut dan mencoba melawan bodyguard yang jumlahnya kurang lebih 15 orang.
Selain menang jumlah, para bodyguard itu juga merupakan anggota terlatih. Mereka memiliki pengalaman dan telah beberapa kali berhasil melakukan penyergapan. Dengan gesit mereka segera maju untuk membatasi gerak lawan.
Suara tembakan terdengar beberapa kali. Affan tidak berani melihat pertarungan sengit mereka dan memilih berlindung dibalik jok belakang. Keselamatannya lebih penting lagi pula dia tidak memiliki senjata apapun untuk bertahan jika sewaktu-waktu penjahat menyerangnya.
Tiga orang penjahat berhasil diringkus tetapi dua orang bodyguard juga mengalami luka tembak di kaki dan bahunya. Sebagian anggota bodyguard membawa penjahat ke pihak yang berwajib sedangkan beberapa lainnya membawa anggota yang terluka ke rumah sakit. Tersisa empat orang bodyguard yang akan mengawal Affan dan sopirnya ke perusahaan.
Salah satu bodyguard mengetuk pintu kaca depan. Sopir Affan membukakannya.
"Keadaan sudah aman, Tuan. Kami akan mengawal perjalanan Anda ke perusahaan," ucap salah satu bodyguard mewakili yang lain.
"Baik, terimakasih atas kerja kerasnya." Affan tersenyum pada mereka.
Sopir Affan segera menutup kembali pintu kaca depan dan menyalahkan mesin mobilnya. Tangannya masih gemetar setelah melihat kejadian ini tetapi dia mencoba untuk tenang. Dia menjalankan mobilnya dengan hati-hati.
Jarak antara tempat itu ke perusahaan masih cukup jauh. Mereka akan sampai dalam waktu kurang dari lima belas menit. Affan benar-benar tidak habis pikir dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Setelah ini dia harus tetap waspada dan meningkatkan pengamanan di sekitarnya dan keluarganya.
"Terimakasih, Pak. Jika kamu tidak waspada, tidak tahu nasib kita seperti apa. Alhamdulillah, Allah selalu melindungi hamba-hamba-Nya yang tidak berdaya." Affan mengucapkan terimakasih pada sopirnya.
"Sama-sama, Tuan. Tuan Affan adalah orang baik, Allah pasti selalu memberikan perlindungan."
"Aku hanya tidak habis pikir mengapa mereka tiba-tiba menyerangku. Semoga saja segera terungkap dalang di balik penyerangan ini. Aku menduga mereka ada hubungannya dengan Sintya." Affan mengeluarkan pendapatnya.
Sopir Affan terlihat heran.
"Bukankah Sintya sudah tertangkap, Tuan?" tanya sopir Affan.
"Benar, Pak. Tetapi banyak sekali pihak yang terseret di dalamnya. Selama ini Sintya adalah pengedar obat-obatan terlarang. Aku yakin mereka tidak suka jika diusik. Dengan tertangkapnya Sintya maka keberadaan mereka juga ikut terancam," jelas Affan.
"Lalu, mengapa mereka memburu Tuan?" Sopir Affan masih belum mengerti.
__ADS_1
"Itu karena saya menyimpan beberapa bukti yang bisa mengungkapkan sindikat mereka. Banyak informasi yang saya dapatkan dalam penyelidikan. Polisi akan menemukan mereka dengan menelusuri bukti-bukti yang saya simpan," jelas Affan.
"Kita harus berhati-hati setelah ini, Tuan."
"Iya, Pak. Aku menceritakan semuanya pada Pak Sapto agar bapak berhati-hati juga. Kita tidak tahu bahaya yang setiap saat bisa datang." Affan memperingatkan Pak Sapto.
"Baik, Tuan. Kita harus berhati-hati dan terus waspada sampai kasus Sintya selesai dengan tuntas." Pak Sapto tidak takut lagi karena Affan pasti juga memikirkan keselamatannya.
Mobil yang mereka kendarai telah sampai di halaman perusahaan dengan selamat. Affan turun dan berjalan meninggalkan Pak Sapto yang masih harus memarkirkan mobilnya. Pegawai yang berjaga dan mondar-mandir di lantai bawah sedikit terkejut dengan kehadiran Affan yang datang di siang hari.
Biasanya Affan selalu datang lebih awal. Mereka bertanya-tanya tetapi tidak berani untuk berkomentar. Bagaimanapun juga Affan adalah pemilik perusahaan tempat mereka bekerja sehingga dia bebas untuk datang dan pergi sesuai dengan keinginannya.
"Selamat siang, Pak!" sapa pegawai yang berpapasan dengan Affan.
"Selamat siang," jawab Affan sambil lalu.
Sapaan demi sapaan silih berganti menyambut kedatangan Affan. Mereka sedikit heran karena tidak tahu jika Affan akan datang hari ini. Namun, sebagian diantara mereka tahu jika Nyonya Affan sedang sakit akibat peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu.
Bimo sedang berada di ruang rapat ketika Affan tiba di ruangannya. Mendekati akhir bulan banyak PR yang harus dikerjakan oleh mereka. Laporan dari beberapa perusahaan cabang menumpuk di atas meja. Kedatangannya hari ini lebih memprioritaskan untuk bertemu klien.
Sambil menunggu klien datang ke perusahaannya, Affan mengerjakan pekerjaan lain. Dia memeriksa beberapa laporan yang ada di atas meja. Tampaknya Bimo kewalahan mengingat laporan yang baru datang hari ini sedikitpun belum tersentuh olehnya.
'Kasihan sekali Bimo. Dia pasti sangat pusing membagi waktu dan menyelesaikan tugas sebanyak ini. Tapi mau bagaimana lagi aku juga baru bisa datang hari ini.' Affan menatap berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya.
Pekerjaan tidak akan selesai jika terus mengeluh, Affan segera fokus dan mengerjakannya dengan cepat. Sebelum klien datang, setidaknya dia masih bisa menyelesaikan tiga sampai empat berkas. Jika tidak selesai di kantor, dia bisa membawanya pulang ke rumah karena waktu semakin mepet.
Klien yang ditunggu datang sedikit terlambat tetapi Affan tidak merasa keberatan. Dia bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan sambil menunggu. Jika pertemuan diadakan di luar mungkin dia akan merasa kesal tapi untungnya pertemuan di adakan di kantornya.
Pegawai bagian informasi sudah menghubungi Affan tentang kedatangan klien yang sudah membuat janji dengannya. Affan segera beranjak dari duduknya dan pergi menemuinya di ruangan khusus penerimaan tamu. Ruangan itu berada di lantai bawah.
Seorang pemuda berusia seumuran Faya dan seorang pria paruh baya telah menunggunya. Affan tidak mengenalnya tetapi dia merasa jika pemuda itu terus menatapnya. Sebenarnya Affan juga merasa familiar dengan sorot matanya tapi tidak begitu ingat pernah bertemu di mana.
"Selamat siang, Pak Affan. Maaf kami datang terlambat. Menjelang jam istirahat jalanan sangat padat dan macet." Pria yang berusia paruh baya berbicara dengan sopan.
"Tidak mengapa. Mari silakan masuk!" Affan membukakan pintu untuk mereka.
Klien yang berusia muda masih tertegun dan berjalan paling belakang. Jika tidak disenggol oleh klien paruh baya, dia masih terbengong di tempatnya. Dia terlihat tidak percaya jika orang yang akan ditemuinya hari ini adalah Affan.
"Untuk menghemat waktu, bagaimana kalau segera kita mulai saja meeting hari ini," ucap Affan.
"Saya sangat setuju, Pak. Lebih cepat akan lebih baik." Pria paruh baya menyambut baik usulan Affan.
"Terimakasih, mari kita mulai. Apakah yang bisa kami bantu untuk Anda?" Affan bersiap untuk mendengarkan penjelasan kliennya.
Steve juga ingin dibangunkan ruangan khusus untuk management yang berada terpisah tetapi masih berada dalam satu lokasi. Pak Toro memberikan gambaran luas tanah dan desain ruangan yang diinginkan oleh Steve. Mengenai kesepakatan harga bisa dibicarakan di lain kesempatan karena Affan mestinya perlu untuk merekap seluruh biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini.
"Baik, saya terima proyek ini. Untuk pertemuan selanjutnya, secepatnya akan saya kabari. Tolong sertakan nomor telepon yang bisa saya hubungi." Affan menyodorkan ponselnya dengan membuka barcode.
Steve merasa tidak asing dengan potret wanita yang terlihat samar di ponsel Affan. Aira. Rasa cemburu menusuk ulu hatinya tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak butuh waktu lama, nomor ponsel Pak Toro sudah berhasil disimpan. Mereka segera berpamitan untuk pergi setelah pembicaraan dinyatakan selesai. Sedikit waktu yang tersisa akan digunakan oleh Affan untuk memeriksa laporan. Dia kembali ke ruangannya sambil menunggu klien berikutnya datang.
Sesampainya di ruangannya, Bimo sudah duduk di mejanya. Dia tengah sibuk dengan berkas di tangannya sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Affan. Tubuhnya tersentak saat melihat Affan tiba-tiba masuk.
"Astaghfirullah, Boss ngagetin aja!" seru Bimo.
"Hmm. Aku pikir kamu belum selesai dan tidak ada orang di sini." Affan menjawabnya dengan santai.
Sebelum kembali ke mejanya, dia menyimpan berkas yang dibawanya dari Pak Toro. Affan akan mendahulukan pekerjaan yang penting dulu baru melayani klien. Butuh rincian yang mendetail untuk sebuah proyek dan itu tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu dua hari.
"Apakah kita ada proyek lagi, Boss?" tanya Bimo sambil memilah berkas yang sedang dikerjakannya.
"Iya, tapi kita prioritaskan laporan keuangan dan gaji karyawan terlebih dahulu. Setelah itu baru kita rapatkan rekapitulasi anggaran untuk proyek baru yang akan kita kerjakan." Affan kembali duduk di kursinya.
"Alhamdulillah, perusahaan kontruksi kita semakin berkembang. Semoga saja bisa merambah ke bidang lain," ucap Bimo.
"Tidak. Aku tidak ingin tamak, Bim. Kita menjalankan satu perusahaan dan beberapa perusahaan cabang dalam bidang yang sama saja membuat kita pusing. Aku juga harus memikirkan waktu untuk bersantai. Kecuali, kamu bisa menghandle semuanya ketika aku merasa lelah dan ingin liburan," goda Affan.
"Tidak-tidak! Kita jalankan dan kembangkan yang ini saja, Boss." Dengan cepat Bimo menolak meskipun dia tahu Affan hanya bercanda.
Affan tertawa melihat ekspresi wajah Bimo yang sedikit tegang saat mendengar kelakarnya. Candaan ringan yang membuat mereka sedikit bersantai menghadapi pekerjaan yang menumpuk. Dengan cara sederhana seperti ini, mereka bisa sedikit relax mengerjakan laporan yang harus diselesaikan dengan cepat.
Mereka berdua terlihat sangat sibuk sampai jam istirahat tiba. Bimo meminta OB untuk membelikan makan siang untuk mereka. Keduanya memilih fokus untuk memeriksa laporan dan hanya berhenti untuk makan siang.
Bukan Ali yang mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka. Dia masih harus banyak belajar jari para seniornya. Untuk dua bulan ke depan, dia belum bekerja secara maksimal.
"Kita makan dulu, Bim. Leherku juga sudah laku. Setelah ini ada klien yang mau datang lagi. Semoga semuanya bisa deal dan cocok harganya." Affan melakukan perenggangan dengan gerakan yang ringan.
"Siap, Boss."
__ADS_1
Mereka menikmati makan siang seadanya di meja penerimaan tamu khusus.
"Sepertinya kita tidak bisa terang-terangan melawan Sintya," ucap Affan di tengah makannya.
"Mengapa begitu, Boss?" tanya Bimo merasa heran.
"Serangan hari ini mungkin hanya peringatan saja. Yang kita hadapi adalah sindikat internasional. Mereka pasti memiliki banyak pendukung dan mungkin saja ada aparat hukum yang terlibat." Affan mengungkapkan kekhawatirannya.
Bimo diam memikirkan ucapan Affan. Nyawa mereka mungkin akan terancam jika mengungkapkan jaringan pengedar narkotika di mana Sintya bergabung tetapi mereka juga tidak akan selamat meskipun hanya diam saja. Tidak ada pilihan yang menguntungkan bagi Bimo dan Affan karena sudah menyinggung kelompok mereka.
"Boss tidak perlu khawatir. Mengenai masalah ini biar aku yang tangani. Sekarang kita kerjakan saja laporan yang sedikit lagi selesai." Bimo mencoba menenangkan Affan.
Affan mengangguk meskipun masih terpikirkan tentang ancaman dari kelompok pendukung Sintya.
Pengalaman dan pengetahuan Bimo tidak diragukan lagi. Selain penuh perhitungan, dia juga orang yang sangat teliti. Agensi bodyguard yang direkrutnya telah memiliki kerjasama dengan pihak kepolisian dan pemerintah.
Sore ini, Bimo akan mengadakan pertemuan dengan mereka untuk membahas masalah ini. Beberapa bukti telah dikirimkan pada mereka meskipun belum semuanya. Bukti yang masih tersisa hanya akan diberikan secara langsung oleh Bimo karena membutuhkan sedikit penjelasan.
"Mau ke mana, Bim?" tanya Affan saat melihat Bimo beranjak dari duduknya.
"Mau kembali bekerja lah, Boss." Bimo telah selesai makan dan ingin segera menyelesaikan tugasnya.
"Duduklah barang lima atau sepuluh menit. Perutmu akan merasa begah jika kamu langsung bekerja setelah makan berat," jelas Affan.
Bimo tersenyum. Jarang sekali seorang Boss melarang anak buahnya untuk bekerja dan malah menyuruhnya untuk beristirahat. Di mana lagi menemukan atasan yang seperti ini.
"Baiklah, Boss. Aku hanya takut jika pemeriksaan laporan tidak bisa selesai hari ini padahal besok kita sudah harus menghitung gaji karyawan." Bimo tidak bisa tenang sebelum pekerjaan selesai.
"Aku yakin pasti selesai. Kita akan mengerjakannya bersama-sama setelah ini." Affan merebahkan tubuhnya di sandaran sofa.
Hingga kurang lebih lima belas menit mereka beristirahat lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya.
Klien yang ditunggu oleh Affan membatalkan janji hari ini dan menundanya besok. Hal ini bukan masalah bagi Affan karena mereka bisa mengerjakan laporan dan menyelesaikannya tepat waktu. Pembatalan janji yang dilakukan oleh klien membawa kemudahan untuknya.
"Klien batal hari ini. Kita bisa menyelesaikan laporan lebih cepat. Rencananya aku akan membawa pulang berkas-berkas yang belum selesai aku periksa." Affan mengatakan jika dia batal untuk menemui klien.
"Alhamdulillah, kepalaku rasanya cenat-cenut. Beberapa hari ini aku pontang-panting sendirian. Tugas Hendro sudah sangat banyak aku tidak mungkin menambahnya lagi." Bimo menggelengkan kepalanya mengingat hari-hari berat yang telah dilaluinya.
"Kamu memang pantas aku andalkan. Aku tidak bisa membayangkan jika kamu cuti dalam waktu yang lama. Thanks, ya, Bim." Affan tersenyum mengingat jasa-jasa Bimo.
"Sama-sama, Boss. Ini sudah menjadi tugas saya. Saya juga merasa senang bekerja di sini sehingga pekerjaan seberat apapun bisa aku nikmati."
"Sip lah kalau begitu." Affan mengacungkan jempolnya.
Mereka kembali fokus dengan pekerjaannya. Satu persatu tumpukan berkas mulai berkurang. Hari ini adalah hari terakhir seluruh divisi mengantarkan laporannya sehingga diperkirakan tidak akan ada lagi laporan tambahan yang harus mereka selesaikan selain yang ada sekarang.
Jika Affan tidak datang hari ini mungkin hingga besok Bimo belum tentu mampu menyelesaikannya. Walaupun dia membawa sebagian pulang ke rumah untuk di lembur, masih saja ada beberapa berkas yang hanya bisa di-acc oleh Affan.
Satu jam sebelum waktu pulang kerja seluruh berkas telah selesai diperiksa dan ditandatangani oleh Affan. Keduanya merasa lega dan memilih untuk merenggangkan tubuh dan beristirahat sambil menunggu jam pulang kerja tiba.
"Alhamdulillah. Akhirnya pekerjaan ini selesai juga," ucap Bimo sembari menggeliat merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Tolong kamu pesankan kopi untukku, untukmu juga kalau kamu mau!" perintah Affan.
"Baik, Boss. Bolehkah aku beristirahat setelah ini?" tanya Bimo.
"Tentu saja, memangnya kita mau mengerjakan apa lagi. Urusan besok kita pikirkan besok yang penting pekerjaan hari ini sudah kelar." Affan beranjak dari kursinya dan pergi ke sofa panjang lalu merebahkan tubuhnya di sana.
Bimo yang juga merasa lelah memilih bersandar di kursinya dan meluruskan kedua kakinya. Tidak lupa dia juga mengantarkan dasi yang serasa membelit lehernya. Dia baru akan menyusul Affan setelah pesanan mereka datang.
Sambil menunggu, Affan memeriksa ponselnya dan mengirim beberapa pesan untuk Aira. Affan menanyakan tentang keadaannya dan apa saja yang dilakukannya setelah dia pergi. Pesan yang berbeda juga dikirimkan untuk Faya.
Penyerangan siang tadi membuatnya harus waspada. Bisa saja anggota keluarganya akan menjadi target untuk memuluskan rencana para penjahat. Oleh karena itu, Affan meminta Faya untuk tidak berpergian jika tidak benar-benar penting.
Faya mengerti walaupun ayahnya tidak menjelaskan secara detail tentang larangan itu. Sejak kecil dia sudah mengalami beberapa kali percobaan penculikan. Tidak heran jika ayahnya sangat protektif kepadanya dan kepada Aira.
Selain dari kelompok Sintya, beberapa lawan bisnis Affan juga sering mencari-cari kesempatan untuk berbuat jahat. Hal ini biasa terjadi dan tidak membuatnya terkejut. Selain berdoa meminta perlindungan, Affan juga melakukan ikhtiar dengan menyewa beberapa pengawal bayangan yang mengikuti dia dan keluarganya secara sembunyi-sembunyi.
"Apa kabar dengan istri dan anakmu, Bim? Aku tidak tahu kapan bisa berkunjung ke rumahmu. Semoga saja Aira bisa segera pulih sehingga aku bisa membawanya ke rumahmu. Dia pasti akan marah jika aku pergi seorang diri untuk menjenguk anak dan istrimu." Affan merasa tidak enak setiap kali mengingat tentang kelahiran putra pertama Bimo.
"Mereka sudah sehat. Yang terpenting adalah kesehatan Nyonya Aira. Justru istriku malah mengkhawatirkan keadaan Nyonya Aira dan bayinya. Bukannya aku tidak senang, tapi sebaiknya Boss menunggu hingga Nyonya benar-benar sembuh baru berkunjung ke rumahku. Saat itu istriku juga pasti sudah sehat dan bisa mengobrol lebih lama. Untuk saat ini dia masih merasakan sakit setelah melakukan persalinan secara normal."
Penjelasan Bimo membuat raut wajah Affan berubah. Ketakutan akan rasa kehilangan kembali muncul mengingat istri pertamanya meninggal setelah melahirkan Faya.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir. Terimakasih.
__ADS_1