Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 41. Tidak Jera


__ADS_3

Setelah mengantar Pak Halim hingga ke depan pintu, Affan tidak langsung kembali bekerja. Dia pergi ke depan jendela dan menatap jauh ke luar gedung.


Apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Saat Roland datang bertamu ke rumahnya, Aira juga memperingatkan akan masalah ini.


"Aku tidak bisa memikirkan masalah ini sendirian Roland memang temanku tetapi dia telah melakukan kesalahan yang menyeret banyak pihak. Meskipun aku ingin memaafkannya tetapi tentu tidak untuk orang lain," ucap Affan berbisik pada dirinya sendiri.


Bimo memasuki ruangan.


Setelah melihat kepergian Pak Halim, dia segera kembali untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Bimo mengurungkan niatnya untuk duduk ketika melihat Affan berdiri melamun di depan jendela.


"Ehemm. Boss!" sapa Bimo.


Affan menoleh pada Bimo. Wajahnya terlihat kurang bersemangat.


"Iya, Bim."


"Kelihatannya boss sangat murung. Apakah ada masalah dengan proyek Pak Roland?" tebak Bimo.


Affan mengangguk lalu menceritakan apa yang disampaikan oleh Pak Halim kepadanya. Baginya, Bimo bukanlah orang lain sehingga dia tidak segan untuk menceritakan semuanya meskipun hal ini sedikit rahasia.


Cerita Affan membuat Bimo merasa geram dan memintanya untuk bertindak tegas pada Roland. Apa yang dilakukannya tidak hanya merugikan banyak pihak tetapi juga mencoreng citra para pengusaha konstruksi.


Semua yang dikatakan oleh Bimo memang benar, tetapi dia tidak ingin buru-buru mengambil tindakan. Dia masih ingin berbicara empat mata dengan Roland dan membahas masalah ini.


Sebelum masalah semakin rumit, Affan ingin meminta Roland untuk menghentikan hal gila yang telah dilakukannya. Dia berharap Roland akan kembali ke jalan yang benar dan memperbaiki semuanya.


'Kamu terlalu baik, Boss. Pada orang yang sudah jahat padamu pun kamu masih memikirkan bagaimana nasibnya. Semoga Allah selalu melindungi kamu dan keluargamu, Boss.' Bimo bermonolog dalam hati.


***


Di perusahaan JRR,


Seorang pria berjalan tergesa memasuki perusahaan itu. Para petugas keamanan menghadangnya karena dia bertamu menggunakan pakaian yang tidak sopan.


Pria itu datang mengenakan kaos oblong dengan jaket jeans yang tidak dikancingkan serta celana jeans sobek di beberapa bagian. Petugas keamanan berpikir jika dia adalah seorang preman yang ingin mengacau di sana.

__ADS_1


"Heh! Aku ingin bertemu tuan Roland, bodoh! Aku pastikan kalian akan menyesal telah mengusirku!" teriak pria itu.


Wajahnya terlihat gusar lalu tangannya merogoh ponsel di saku celananya. Pria itu kemudian menekan nomor telepon milik Roland. Namun, di kejauhan terlihat Roland berjalan tergesa menuju ke halaman di mana pria asing itu berada.


Melihat kedatangan Roland, pria itu kemudian mematikan ponselnya dan kembali menyimpannya.


Roland meminta pria itu mengikutinya memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mobil itu meluncur pergi meninggalkan halaman perusahaan JRR.


"Ada apa kamu mencariku, Beni?" tanya Roland.


"Nama saya Boni, Tuan, bukan Beni," ucap pria asing itu.


"Terserah kamu. Mau Boni, Beni, Bono, tidak penting buatku. Cepat katakan tujuanmu datang mencariku!" seru Roland.


Sebenarnya ini terdengar sangat lucu, tetapi keadaan genting membuat Boni tidak bisa tertawa.


"Anu Tuan, Itu ... Eh, bagaimana, ya?" Boni menggaruk-garuk kepalanya yang berambut kriwil dan agak gondrong.


Tatapan mata Roland yang tajam membuatnya menjadi ciut nyali Boni menciut. Dia segera mengatakan berita yang dibawanya dengan susunan kalimat yang berantakan.


Boni mengulang semuanya dan menceritakan urutan kejadian yang dialami salah satu temannya. Dia tertangkap ketika sedang melakukan sabotase dan dipaksa untuk mengaku tentang siapa orang yang mempekerjakannya.


Rasa takut akan ancaman dari orang yang menangkapnya membuatnya mengatakan jika Roland lah orang yang berada dibalik semua kekacauan yang terjadi.


Apa yang didengarnya ini membuat Roland merasa gusar. Tangan kanannya mengepal kuat-kuat dan menatap jalanan kosong dengan penuh dendam.


Di sebuah tempat yang sepi Roland menghentikan mobilnya dan meminta Boni untuk turun. Dia tidak peduli pada Boni yang sedang menunggu taksi sendirian di sana dan kembali melajukan mobilnya dengan kencang.


Di tengah perjalanan, ponsel Roland berbunyi. Dia menepikan mobilnya untuk mengangkat telepon. Selain itu, kondisi pikirannya juga sedang kalut, dia tidak bisa menyetir dengan baik.


Sebuah kontak yang sangat dikenalnya sedang memanggil. Roland tidak segera mengangkatnya karena itu adalah nomor ayahnya. Tidak biasanya ayahnya menelepon di jam kerja jika tidak ada sesuatu yang penting.


Kesalahan demi kesalahan yang telah dia buat membuatnya merasa takut untuk berbicara langsung pada ayahnya.


'Sial! Pasti ayah sudah tahu tentang defisit kas perusahaan dan kerugian yang terjadi dalam minggu ini. Aku tidak tahu harus bicara apa pada ayah.'

__ADS_1


Paman dari Roland pasti sudah melaporkan apa yang terjadi pada ayahnya sehingga dia tidak bisa berkutik lagi. Setelah beberapa kali panggilannya tidak diangkat, ayah Roland akhirnya mengirimkan sebuah pesan untuknya.


Roland segera membuka pesan itu karena merasa penasaran. Benar saja, ayahnya sangat marah dengan apa yang telah dilakukannya. Sebelum perusahaan itu lebih hancur lagi, dia meminta Roland untuk berhenti mengoperasikannya mulai hari ini.


"Aarrggh!" teriak Roland merasa sangat kesal.


Dia meletakkan ponselnya dengan kasar di dalam dashboard mobilnya lalu memukul setir dengan kedua tangannya yang mengepal.


Dadanya terlihat naik turun dengan nafas yang tersengal menahan emosi. Bukannya sadar akan kesalahannya, dia malah semakin membenci Affan dan melimpahkan semua padanya.


"Aku akan membuatmu menyesal Affan. Jika aku tidak bisa menghancurkan perusahaanmu maka aku akan menghancurkan kebahagiaanmu. Harus aku pikirkan bagaimana cara untuk membuatmu menyesal telah meninggalkan Amanda dan memilih bocah ingusan itu." Roland tersenyum licik.


Kini dia sudah mulai bisa menata perasaannya kembali. Sesaat dia berpikir untuk mengatur rencana yang akan dilakukannya. Untuk kali ini dia tidak ingin gagal lagi.


Satu-satunya orang yang bisa dia ajak untuk bekerja sama adalah Boni. Roland mengambil ponselnya lalu menghubungi Boni dan mengajaknya bertemu.


Di seberang telepon Boni hanya bisa berkata 'iya' meskipun dia sangat kesal pada Roland. Baru saja dia menemukan taksi untuk pulang, kini dia harus meminta sopir taksi itu untuk memutar arah menuju ke tempat yang ditentukan oleh Roland.


"Dasar Boss! Sukanya semena-mena sama anak buah. Nah, kan, akhirnya aku disuruh balik lagi, kan? Makanya jadi orang jangan belagu." Boni menunjuk-nunjuk ponselnya seolah-olah itu adalah Roland.


Sopir taksi yang melihatnya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah konyolnya yang meluapkan kekesalannya pada benda mati.


Mobil Roland sudah terparkir rapi di depan sebuah kafe. Dia mengirim pesan kepada Boni untuk memintanya segera datang dan membuat Boni terus mengoceh pada ponselnya.


"Pak sopir, tolong lebih cepat lagi, ya. Boss buleku tidak berhenti mengirim pesan. Dikira jalanan Jakarta itu selancar jalan tol, apah?" omel Boni.


"Baik, Pak. Ini saya sudah berusaha cepat," jawab sopir itu.


****


Bersambung ...


Numpang promo novel karya temanku kak ... terimakasih ....


__ADS_1


__ADS_2