Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 95. Demi Uang


__ADS_3

"Tidak baik berbicara di luar. Mari silakan masuk!" Affan meminta Agung dan Reni masuk ke dalam rumahnya.


Ini pertama kalinya bagi mereka berdua datang bertamu ke rumah Affan. Pernikahan keduanya tidak diawali dengan hal yang baik sehingga membawa dampak pada hubungan kekeluargaan di antara mereka. Affan masih sulit menerima jika Aira terus ditindas dan dimanfaatkan oleh paman dan bibinya.


"Wah, rumahmu besar juga, Aira!" puji Reni.


"Ini rumah Mas Affan, Tante." Aira merasa sangat tidak nyaman dengan perkataan Reni.


"Sama saja. Dia, kan, suamimu." Reni berjalan berkeliling dan melihat-lihat seisi ruang tamu.


"Silakan duduk, Om, Tante!" seru Aira dengan suara sedikit tinggi.


Bibinya terkadang suka kelewatan dan bisa saja membuatnya malu. Di dalam pikirannya tidak lepas dari yang namanya uang, uang, dan uang. Segala kebaikan seseorang selalu dinilainya dengan uang.


Affan telah duduk lebih awal, diikuti oleh Agung lalu Reni agak tatapan Reni masih terlihat tidak senang. Setelah bosan melihat-lihat dia kembali memasang wajah judesnya.


"Tidak perlu berbasa-basi, Aira. Kedatangan kami kemari untuk menanyakan keberadaan Ali. Kalian pasti tahu di mana dia berada sekarang. Kemarin dia pamit untuk pergi mencari pekerjaan, pasti kalian sudah cerita yang tidak-tidak tentang kami dan membuat sikapnya berubah," tuduh Agung.


Aira menatap Affan dengan penuh harap. Dia tidak sanggup untuk berbohong tetapi kejujurannya juga akan membuat Ali menderita. Setelah paman dan bibinya tahu di mana keberadaannya, tentu saja mereka akan terus memerasnya.


"Kami memang bertemu dengannya kemarin, tetapi kami tidak menghasutnya. Ali mengatakan jika dia akan mencoba untuk bekerja di sini. Jika dia tidak nyaman dia akan kembali ke Kalimantan," jelas Affan.


"Ali itu hanya lulusan SMP. Palingan dia cuma jadi kuli. Yang aku khawatirkan bukan itu, saat ini Ali membawa uang yang sangat banyak, aku takut seseorang menipunya dan membawa lari uangnya. Seharusnya dia menitipkan uang itu pada kami terlebih dulu sebelum pergi," ketus Reni.


'Dasar wanita licik. Yang suka menipu itu kamu. Ali tidak akan kehilangan uangnya jika bukan kamu yang mengambilnya.' Affan menatap jengah ke arah Reni.


Merasa tidak ada yang perlu dilakukannya di sana, Faya memilih untuk pergi ke ruang tengah. Sejak sebelum Aira menikah dengan ayahnya, dia sudah tahu seperti apa sikap Agung dan Reni padanya. Mereka selalu bersikap acuh setiap kali dia datang untuk mengerjakan tugas atau belajar bersama Aira.


"Sebenarnya aku tidak percaya tapi aku tidak punya bukti untuk menyalahkan kalian. Mungkin Ali kalian sembunyikan di suatu tempat yang tidak mungkin kami ketahui." Agung masih menuduh Affan menyembunyikan Ali.


"Astaghfirullah, kami baru pulang dari rumah sakit, Om. Empat hari tiga malam Aira menginap di sana. Coba pikir saja, apakah kami sempat untuk menyembunyikan Ali?" Affan mulai gusar, meskipun dia tahu di mana keberadaan Ali, dia harus tetap menutupinya.


"Mungkin saja dia tinggal di rumah ini, Mas. Ayo kita cari!" Reni beranjak dari duduknya.


Sebenarnya ini hanya alasannya saja, dia hanya ingin melihat rumah Affan dan Aira hingga ke dalam-dalamnya. Bagaimanapun caranya setelah ini dia harus mendapatkan uang untuk dibawa pulang. Ada atau tidaknya Ali di sana, Reni harus tetap meminta uang pada Affan dan Aira.


"Tunggu! Di rumah ini ada CCTV. Tante bisa melihatnya dari sana tanpa harus berkeliling. Rumah memiliki banyak tempat-tempat pribadi yang tidak sembarangan orang bisa memasukinya." Affan tidak ingin seseorang sembarangan memasuki wilayah pribadinya meskipun dia adalah keluarga Aira.


"Kamu takut aku menemukan Ali di dalam rumah ini, bukan? Tidak perlu berbohong lagi, pasti dia bersembunyi di sini." Reni menganggap kemarahan Affan sebagai langkah untuk menutupi kebohongannya.


"Tante! Jangan keterlaluan! Kami tidak menyembunyikan Ali di rumah ini. Sudah diberi kesempatan untuk melihat CCTV malah menuduh kami yang tidak-tidak. Sekarang gini aja, Tante setuju untuk memeriksa CCTV atau pulang sekarang juga!" usir Aira.


Reni membelalakkan matanya tidak percaya. Dia tidak percaya jika keponakannya kini telah berani mengusirnya. Dia merasa sangat marah dan ingin memukulnya. Namun, urung dilakukannya saat melihat tatapan tajam Affan padanya.


"Dasar keponakan tidak tahu diuntung! Mentang-mentang kamu sudah jadi orang kaya seenaknya saja mengusir kami. Kamu lupa siapa yang sudah membawamu kemari? Jika tidak mungkin kamu masih jadi buruh cuci di kampung!" seru Reni.


Kali ini Affan pun tidak terima dengan perlakuan Reni pada istrinya. Sudah untung dia tidak menuntutnya atas kejahatan yang dilakukannya pada Aira. Setelah seluruh uang dari penjualan harta orang tua Aira habis, dia menjual keponakannya itu dengan dalih perjodohan.


Affan berdiri di hadapan Reni dan meminta Aira untuk berdiri di belakangnya. Kali ini dia tidak akan tinggal diam melihat Reni terus memojokkan keduanya. Percuma saja bersikap baik pada mereka karena mereka tidak bisa diajak untuk berbicara baik-baik.

__ADS_1


"Apakah Tante lupa dengan kesepakatan yang kita buat malam itu? Bukankah secara tidak langsung Anda telah menjual aira kepada saya. Bagaimana jika aku meminta Anda mengembalikan seluruh uang yang saya berikan dan melaporkan Anda tentang kejahatan yang telah Anda lakukan pada Aira." Affan balik menggertak Reni.


Kedua bola mata Reni terlihat bergerak-gerak saat hatinya di landa kecemasan. Dia tidak memiliki kata-kata lagi untuk melawan Affan. Ucapan Affan bisa saja bukan sekedar ancaman mengingat dia adalah orang yang berkuasa dan bisa melakukan apa saja untuk menghancurkannya.


Merasa Reni sudah terpojok dan tidak bisa berkutik lagi, Agung berdiri untuk mengurangi ketegangan di antara mereka. Tidak ada celah bagi mereka untuk menang. Satu-satunya hal yang masih bisa dilakukan adalah mengikuti kemauan Affan untuk melihat CCTV. Setidaknya dengan begitu mereka bisa menutupi rasa penasarannya.


"Nak Affan, tolong jangan diambil hati ucapan Tantemu. Jika sedang khawatir dia sering terbawa emosi. Saat ini dia sangat mencemaskan keadaan Ali hingga membuatnya bersikap seperti ini. Benar begitu, kan, Ren?" tanya Agung kepada istrinya.


Reni mengangguk karena tidak ada pilihan lain. Keberaniannya seakan menguap entah ke mana. Kini dia merasa sangat kecil dan tidak berdaya.


"Baiklah! Lalu, apa yang kalian inginkan sekarang?" tanya Affan sambil melirik ke arah Agung. Nada suaranya sudah sedikit rendah dari sebelumnya.


Agung menatap ke arah Reni seolah memintanya untuk tidak membuat ulah lagi setelah ini. Dan mereka berbicara dengan isyarat mata untuk beberapa saat.


"Kami ingin melihat bukti CCTV di rumah ini. Bukannya kami tidak percaya padamu, kami hanya ingin meyakinkan diri kami saja." Agung kembali menanyakan tawaran Affan yang sebelumnya ditolak mentah-mentah oleh Reni.


"Mari ikut saya!" Affan berjalan sambil menggandeng lengan Aira.


Sebelum membawa Agung dan Reni pergi ke ruang CCTV, Affan meminta Aira untuk duduk dan beristirahat di ruang keluarga. Sementara itu, dia pergi bersama Agung dan Reni ke ruang CCTV yang berada tidak jauh dari ruang keluarga.


Aira menurut saja. Terus menahan emosi tidak bagus untuk kandungannya. Lebih baik dia menurut dan duduk santai karena dia belum beristirahat sejak kepulangannya dari rumah sakit.


Sesampainya di ruang CCTV, Affan meminta Agung dan Reni untuk melihat ke layar monitor sedangkan dia memutar tayangan ulang. Affan menyeting tampilan di layar agar lebih jelas lalu memutar rekaman CCTV dengan jalan mundur. Terlihat jelas di layar monitor rekaman hari ini hingga kemarin saat Ali datang ke rumah itu.


Reni terlihat malu saat terbukti jika Ali hanya datang ke tempat itu sekali. Dia hanya menanyakan keberadaan Aira saja. Setelah itu dia pergi dan tidak kembali lagi ke sana.


'Aku harus berpura-pura menyesal sudah marah-marah dan menuduh Affan yang tidak-tidak. Dia adalah orang yang sangat murah hati. Dengan aku bersikap baik dia pasti akan memberiku uang,' gumam Reni dalam hati.


Reni berjalan cepat menghampiri Aira.


Affan mengejarnya karena takut dia berbuat yang tidak-tidak pada istrinya.


"Aira! Maafkan tante. Tidak seharusnya tante berkata kasar padamu dan menuduhmu yang bukan-bukan. Tante benar-benar kesal akhir-akhir ini. Sejak Om kamu tidak lagi bekerja, Tante harus pontang-panting cari uang sendiri. Setiap minggu Om kamu juga harus cek up ke rumah sakit. Maksudku, kami butuh ongkos untuk pergi ke rumah sakit." Reni takut salah bicara karena Affan sudah membayar asuransi dan BPJS untuk mereka.


Aira terlihat bingung. Sebenarnya dia tahu jika bibinya hanya menghiba. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan uang. Sebelum dia memberinya uang, Reni dan Agung pasti terus mencari cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Mas," panggil Aira.


Affan mengangguk seakan mengerti apa yang diinginkan oleh Reni dan Agung. Ada beberapa uang tunai di dompetnya. Dia tidak ingin mengambil lagi dari brankas.


"Ini ada sedikit ongkos untuk Om dan Tante. Saat ini Aira masih butuh istirahat setelah keluar dari rumah sakit. Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, kami ingin beristirahat sekarang." Affan memberikan uang tunai sebesar tiga juta untuk Agung.


Sebelum uang itu masuk ke kantong Agung, Reni buru-buru mengambilnya dari tangan suaminya.


"Biar aku simpan di tas saja, Mas. Kamu sangat pelupa, takutnya uang itu jatuh dan kamu tidak melihatnya." Reni mencari alasan.


"Nak Affan, Aira, kami minta ijin untuk pulang, ya. Semoga lekas sembuh. Jika ada waktu sering-seringlah datang untuk mengunjungi kami." Agung bersopan santun sebelum pergi dari sana.


"Iya, Om." Aira tidak ingin banyak bicara dan ingin Agung dan Reni pergi dari sana secepat mungkin.

__ADS_1


Agung dan Reni melirik satu sama lain dan bersiap untuk berpamitan. Affan mengantarkan mereka hingga ke pintu depan lalu kembali masuk ke rumah setelah keduanya keluar dari gerbang. Hatinya merasa lega, akhirnya tidak ada lagi keributan di rumahnya.


Aira melambaikan tangannya untuk memanggil Bi Sumi. Dia ingin tahu kabar tentang Sarah dan Safira. Sejak kepulangannya, dia belum melihat mereka.


"Bi, dimana Sarah dan Safira?" tanya Aira sambil melihat ke sekeliling.


"Mereka sedang berada di kamar atas, Nyonya. Apakah perlu aku panggilkan?" tanya Bi Sumi.


Dengan cepat Aira menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah, Bi. Aku ingin istirahat dulu. Nanti setelah aku baikan, aku akan menemui mereka." Aira merasa tubuhnya belum begitu fit.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya ingin kembali bekerja," pamit Bi Sumi.


"Iya, Bi." Aira melihat kedatangan Affan yang telah selesai mengantar kepulangan Agung dan Reni.


Hari ini, dia harus tetap pergi ke kantor meskipun sudah sangat terlambat. Ada beberapa pekerjaan penting dan janji dengan klien yang harus dipenuhinya. Keadaan Aira sudah membaik, di rumah juga ada Faya dan asistennya sehingga Affan tidak merasa khawatir lagi.


Aira memeluk lengan Affan dan berjalan pelan menuju ke kamarnya. Sikap manja Aira seringkali membuatnya tidak berdaya. Hatinya menjadi lemah dan sulit untuk berpisah jauh dari istri kecilnya.


'Meskipun sebenarnya aku enggan ke kantor, aku tetap harus pergi. Rasanya hatiku begitu berat meninggalkan Aira tapi mau bagaimana lagi, rasanya tidak enak jika aku harus kembali menunda janjiku untuk bertemu klien.' Affan bermonolog dalam hati sambil terus berjalan ke kamarnya.


Untuk sekedar berpamitan saja, Affan butuh kekuatan ekstra yang dikumpulkannya secara perlahan. Dia mengulur waktu untuk berbicara dengan membantu Aira berbaring di tempat tidur. Sebuah kecupan mendarat di kening Aira.


"Sayang," panggil Affan lembut.


"Iya, Mas." Aira terlihat sangat mengantuk.


"Maafkan aku, Sayang. Aku harus pergi ke kantor hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." Affan memberanikan diri untuk berpamitan.


"Iya, Mas. Aku mengerti. Aku juga minta maaf karena tidak bisa menyiapkan baju ganti dan peralatan kantor Mas Affan." Aira menggenggam tangan Affan dengan lembut.


"Jangan bandel! Kesehatanmu lebih penting. Cukup kamu beristirahat dengan baik maka aku akan merasa senang." Affan mengecup tangan Aira.


Aira tersenyum. Affan paling bisa mengambil hatinya dan membuatnya merasa tenang.


"Tidurlah sekarang biar nanti pas jam makan siang tubuhmu sudah lebih segar," imbuh Affan.


"Iya, Mas. Aku juga sudah sangat mengantuk saat ini. Sepertinya mataku sudah tidak bisa terjaga lebih lama lagi." Aira menutup mulutnya yang terbuka karena menguap.


Affan segera berbalik dan menyiapkan segala keperluannya sendiri. Meskipun sudah lama dia terbiasa dimanjakan oleh Aira tetapi dia masih ingat bagaimana berkemas. Namun, dia sedikit mondar-mandir karena harus mengingat-ingat apa yang akan dibawanya.


'Ternyata susah juga, ya, kalau istri sedang sakit. Aku harus mengerjakan apapun sendiri. Biasanya aki tinggal berangkat saja.' Affan tersenyum mengingat tingkahnya sendiri yang tidak bisa bersiap secepat Aira.


Sebelum berangkat ke kantor, Affan pergi menemui Faya lebih dulu agar menyambangi Aira sesekali ketika dia tidak ada. Dia juga meminta Bi Sumi untuk menyiapkan makanan sehat untuk makan siang Aira. Meskipun tubuhnya berangkat ke kantor tetapi hati dan pikirannya selalu berada di rumah.


Di jalan depan rumah Affan terlihat sebuah mobil yang sedang mengawasi keadaan di rumahnya. Saat melihat Affan keluar dari dalam rumah, pengemudi mobil bersiap untuk mengikuti ke mana Affan akan pergi. Ada tiga orang yang berada di dalam mobil itu.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2