
Aira terlihat sangat senang saat melihat Affan datang membawa pesanan mereka. Dia terlihat tidak sabar saat melihat mie ayam dan es teh manis tersaji di hadapannya.
Baru kali ini Affan melihat Aira begitu antusias saat melihat makanannya yang disukainya. Biasanya dia terlihat tenang dan anggun saat sedang makan. Hari ini dia terlihat sangat terburu-buru dan ingin memakannya dengan cepat.
"Berdoa dulu, Sayang. Dan jangan terburu-buru begitu. Mie ayamnya juga masih panas."
Affan mengingatkannya dengan lembut.
"Aku terlalu senang, Mas." Aira begitu ekspresif dan menunjukkan wajah bahagianya.
Tangannya sibuk mengaduk-aduk mie ayam di depannya lalu memakannya perlahan. Sedikit demi sedikit mie yang diambil dengan sumpit itu masuk ke dalam mulutnya.
Affan tersenyum melihat tingkah Aira yang terlihat lucu. Ekspresi wajahnya saat kepanasan terlihat imut.
'Kamu membuatku tidak bisa berhenti menatapmu, Aira. Rasanya perutku sudah kenyang dengan memandangimu saja.'
Mie ayam di mangkuk Aira sudah habis lebih dulu. Namun punya Affan masih banyak kira-kira lebih dari separoh.
Warung mie ayam itu sangat ramai dengan antrian panjangnya. Semakin malam pembelinya malah semakin banyak.
Aira memandangi Affan yang sedang makan tanpa berkedip. Kali ini pandangannya bukan untuk mengagumi ketampanannya melainkan untuk melihat mie ayam yang sedang dimakan oleh suaminya itu.
Beberapa kali Aira terlihat menelan ludah. Satu mangkuk mie ayam yang dimakannya rasanya masih kurang.
__ADS_1
Awalnya Affan tidak peka tetapi kini dia melihat Aira yang terlihat sedang menatapnya.
"Kamu masih mau lagi, Sayang?" tanya Affan lembut.
"Em, iya. Eh, tidak ... tidak." Aira terlihat gelagapan saat ditanya dan terlihat tidak fokus dengan pertanyaan Affan.
Affan tersenyum saat melihat Aira tersipu. Kepala menoleh ke arah antrian pengunjung yang begitu panjang.
'Antriannya begitu panjang. Aku tidak mungkin berdiri untuk mengantri laki mengingat malam yang semakin larut.'
Akhirnya Affan mengambil inisiatif untuk menyuapi Aira dengan mie ayam miliknya. Aira tampak ragu-ragu saat menerima sesendok mie ayam di tangan Affan.
"Harusnya tadi kamu bilang kalau masih mau makan mie ayam."
"Sudah kog, Mas. Mas makan saja. Masih ada lain kali untuk datang lagi ke sini."
Mereka segera kembali setelah itu. Toh mereka tidak mengenal para pengunjung yang ada di sana.
Di dalam perjalanan Aira tertidur dengan sangat pulas hingga keduanya sampai di rumah.
***
Sehari menjelang acara syukuran,
__ADS_1
Malam ini Affan, Aira dan juga Faya akan berangkat ke hotel dan menginap di sana. Banyak hal yang harus mereka selesaikan sebelum acara di mulai.
"Apa kita tidak tidur dirumah saja dan berangkat pagi-pagi sekali, Mas?" tanya Aira.
Wajahnya menunjukkan sebuah kekhawatiran. Hatinya tiba-tiba dirundung kegelisahan yang datang begitu saja.
"Kita masih harus menyelesaikan beberapa hal dan memeriksa kalau-kalau ada yang terlupakan," jelas Affan.
Aira mengangguk.
"Mama tidak perlu khawatir, aku akan mememanimu saat ayah tidak ditempat." Faya mengerlingkan sebelah matanya untuk menggoda Aira.
"Bukan karena aku takut ditinggal sendiri, Faya. Perasaanku merasa tidak enak saja. Aku harap kita semua dihindarkan dari bahaya." Aira mengatakan apa yang dirasakannya.
Affan yang duduk di paling tepi memegang tangan Aira dengan lembut. Aira duduk di tengah antara Affan dan Faya.
Suasana di hotel tempat acara akan di helat telah siap. Para karyawan hotel dan semua pihak yang terlibat di dalam acara terlihat sangat sibuk untuk membenahi sesuatu yang kurang.
Dena mengintip dari balik tempat yang tersembunyi dan bersiap untuk melakukan tugasnya.
****
Bersambung ....
__ADS_1
Numpang promo novel karya temanku ya kak. Semoga berkenan mampir, terimakasih.