Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 88. Belum Ada Perubahan


__ADS_3

Affan menggendong Safira yang sedang menangis. Dia terus berjalan sambil menenangkannya sementara itu Bella dan Sarah menunggu dokter selesai memeriksa Hana di depan kamarnya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam, belum ada dokter yang keluar dari ruangan Hana.


Safira yang lelah menangis tertidur dalam gendongan Affan. Dia lalu membawa banyak berjalan perlahan mendekati Bella dan Sarah. Agar Safira tidak terbangun, Affan duduk pelan-pelan di samping mereka.


"Bagaimana keadaan Hana? Apakah sudah ada kabar dari dokter?" tanya Affan dengan suara pelan.


"Belum ada dokter yang keluar dari ruangan Hana. Semoga Hana baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana nasib kedua anaknya. Aku dan suamiku hidup pas-pasan kami juga memiliki seorang anak," jelas Bella.


Affan terlihat diam dan berpikir. Dia tidak bisa mengambil keputusan seorang diri. Apapun yang akan dia lakukan harus dibicarakan bersama Aira dan Faya.


"Jangan kau pikirkan! Untuk sementara kita fokus pada kesembuhan Hana. Mengenai biaya hidup Sarah dan Safira mungkin kami bisa bantu. Akan tetapi, aku harus bicarakannya dengan istri dan anakku." Affan mengungkapkan rasa simpatinya.


"Terimakasih, Pak." Bella mencoba tersenyum di tengah deraian air matanya.


Obrolan mereka terhenti ketika beberapa orang perawat datang dengan berlari menuju ke ruangan Hana. Mereka mendorong sebuah troli berisi barang-barang yang terbungkus dengan rapi. Bella dan Affan hanya bisa melihatnya tanpa berani menegur atau bertanya.


Menilik dari wajahnya yang serius, tentu saja kedatangan mereka membawa sesuatu yang penting untuk Hana. Saat pintu ruangan terbuka sebentar, Bella dan Affan sedikit melihat keadaan di dalam. Para dokter masih mengelilingi tetapi suara dari mana monitor yang mendenging sudah tidak terdengar lagi.


"Nyonya Bella, bolehkah saya membawa Safira ke kamar Aira. Aku akan menidurkannya di sana agar tidak terganggu oleh suara orang yang lalu lalang di koridor ini," ucap Affan meminta izin pada Bella.


"Silakan, Pak. Oh, iya, saya membawakannya susu dan sedikit pakaian Safira. Bolehkah saya menitipkannya di kamar Nyonya Aira?" tanya Bella.


"Boleh! Biar saya bawa sekalian. Anda bisa menunggu Hana di sini dengan tenang." Affan meraih tas dari tangan Bella.


"Sekali lagi terima kasih, Pak." Bella merasa terharu.


Affan mengangguk lalu berjalan menuju ke ruang perawatan Aira. Jarak antara kamar Aira dan ruang perawatan Hana tidak terlalu jauh. Bella bisa melihatnya dari tempatnya duduk.


Tidak lama setelah Affan mengetuk pintu kamar Aira, Faya datang untuk membukakan pintu untuknya. Hampir saja Faya bersuara keras untuk menyapa ayahnya tetapi urung dilakukannya saat melihat Safira sedang tertidur. Faya meraih tas di tangan Affan dan membantunya membawa ke dalam.


Ada sebuah ekstra tempat tidur di sisi ranjang pasien. Affan menidurkan Safira di sana dengan hati-hati.


Setelah meminum obatnya, Aira merasa sangat mengantuk tetapi dia masih melihat kedatangan Affan. Dia lalu menggerakkan kepala miring ke arah di mana Affan berada. Meskipun sangat ingin tahu keadaan Hana tetapi Aira tidak bisa memaksakan diri untuk bangun.


"Mas!" panggil Aira dengan suara pelan.


Affan segera berjalan menghampiri Aira setelah memastikan Safira tidur dengan nyaman.


"Iya, Sayang. Apakah kamu sudah minum obat?" tanya Affan.


Aira mengangguk pelan lalu kembali bertanya, "Bagaimana keadaan Hana?"

__ADS_1


Affan tidak segera menjawab pertanyaan Aira. Keadaan Hana masih kritis saat ini, dia tidak sanggup untuk menceritakan semuanya pada Aira. Dia tidak tahu apakah harus jujur atau tidak padanya mengingat saat ini Aira juga sedang sakit.


"Kamu jangan khawatir, dokter sedang menanganinya saat ini. Mereka bekerja sebaik mungkin untuk kesembuhan Hana. Apapun yang terjadi segala sesuatunya sudah menjadi ketetapan Allah. Sebagai manusia kita hanya mampu berdoa dan berikhtiar." Affan berbicara lembut pada Aira.


Aira mengangguk. Kelopak matanya berkedip lambat karena dia sudah sangat mengantuk. Pengaruh obat yang diminumnya membuatnya tidak berdaya.


Tidak sempat dia berpamitan pada Affan, mata Aira telah terpejam. Dia tidak sanggup lagi untuk terjaga.


Melihat ibu sambungnya telah tertidur, Faya datang mendekati ayahnya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Melihat wajah tegang sang ayah, dia tahu jika ayahnya menyembunyikan sesuatu dari Aira. Faya menduga jika Hana belum mengalami perubahan.


"Ayah," panggil Faya lirih.


Affan membawa Faya menjauh dari Aira dan Safira. Mereka pergi ke sofa tamu yang ada di sudut ruangan. Dengan begitu obrolan mereka tidak akan menggangu Safira dan Aira yang sedang tertidur.


"Tidak usah khawatir, Sayang. Dokter sudah berusaha untuk menyelamatkan Hana."


Di balik ketegaran Affan, Faya merasakan beban pikiran yang berat dalam sorot mata Affan.


"Katakanlah yang sebenarnya, Ayah. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti masalah seperti ini. Apa perlu aku mencari tahu sendiri pada dokter yang menangani Tante Hana?" tanya Faya dengan nada mendesak.


Affan menarik nafas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Dia melakukannya beberapa kali hingga sesak di hatinya sedikit berkurang. Hatinya juga sudah lebih tenang.


"Hana masih koma. Aku merasa kasihan pada kedua anaknya. Nyonya Bella dan suaminya juga bukan orang yang mampu untuk membiayai hidup mereka. Menurutmu kita harus bagaimana, Sayang?" tanya Affan meminta pendapat Faya.


"Kita memiliki rumah yang besar serta berkecukupan. Kita tidak akan miskin hanya karena membantu dua orang anak kecil, Ayah. Tidak peduli dia anak dari tante Hana atau bukan, kita wajib untuk membantunya. Aku yakin jika mama mendengar ini, dia pasti akan sependapat denganku," jelas Faya.


Affan menatap putrinya dalam. Faya memang memiliki hati yang bersih. Sifatnya hampir sama dengan Aira yang suka menolong tanpa melihat siapa orang yang ditolongnya. Sebelum tragedi penyerangan terjadi, Aira sama sekali tidak menaruh dendam pada Hana meskipun dia menyakitinya.


"Ayah tidak keberatan menampung dan membiayai mereka tetapi kita harus meminta pendapat Nyonya Bella juga. Dia adalah orang terdekat Hana saat ini. Diijinkan atau tidak, kita tidak bisa menentang keputusannya." Affan terlihat masih gamang.


Di tengah percakapan serius mereka, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Affan meninggalkan Faya dan bergegas menghampiri pintu. Hatinya merasa tidak nyaman.


Bella datang bersama dengan Sarah dan berdiri di depan pintu kamar Aira.


"Maaf jika kami mengganggu." Bella terlihat canggung.


"Tidak masalah. Silakan masuk! Tapi sebelumnya mohon maaf, kita bicara pelan-pelan saja." Affan menunjuk ke arah Safira dan Aira yang sedang tidur.


"Aku mengerti, Pak." Bella mengangguk.


Mereka berjalan menyusul Faya yang duduk sendirian di sofa.

__ADS_1


Wajah Sarah terlihat sangat mengantuk. Siswi kelas tiga sekolah dasar tersebut juga lelah menangis. Hari sudah malam dan besok pagi dia harus pergi ke sekolah.


Affan mengutarakan keinginannya untuk menampung dan membiayai Safira dan Sarah pada Bella. Untuk sekolah Sarah, dia akan meminta sopir untuk mengambil seragam Sarah ke rumah Bella sekalian mengantarnya pulang.


Rupanya keinginan Affan disambut baik oleh Bella. Meskipun mereka belum mengenal terlalu dekat tetapi Bella bisa merasakan ketulusan Affan dan keluarganya. Setelah ini dia juga masih bisa untuk mengunjungi Sarah dan Safira jika dia ada waktu.


Sarah juga tidak keberatan tinggal sementara di keluarga Affan hingga ibunya sembuh. Dia juga tidak ingin merepotkan Bella terus-menerus. Sebelum ibunya bekerja, seluruh biaya hidup mereka ditanggung oleh Bella sepenuhnya.


"Sopir kami akan mengantarmu pulang dan membawakan barang-barang milik Sarah dan Safira sedangkan Sarah biar pulang ke rumah kami bersama Faya. Oh, iya, tapi sebelum itu sebaiknya kita makan dulu. Tadi sopir kami mengantarkan makanan yang cukup untuk kita semua." Affan mengajak Bella, Faya dan Sarah untuk makan.


"Sebenarnya aku tidak merasa lapar tapi aku takut Sarah tidak mau makan nanti jika aku tidak makan. Dia terbiasa disuapi saat makan," jelas Bella.


"Jangan khawatir, Nyonya. Kami memiliki tiga orang asisten rumah tangga. Mereka pasti akan menjaga Sarah dan Safira dengan baik selama kami tidak ada di rumah," jelas Affan.


"Alhamdulillah, aku merasa tenang setelah mendengarnya." Bella merasa lega meskipun ada kesedihan di hatinya ketika harus berpisah dengan kedua anak sahabatnya itu.


Mereka berempat makan malam bersama sebelum berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing. Tidak banyak obrolan di antara mereka saat makan.


Ruangan Aira tampak sepi. Hanya tinggal Affan dan Aira di sana. Sarah dan Safira pulang bersama Faya dengan didampingi dua orang perawat. Affan membayar perawat itu secara terpisah dari pembiayaan rumah sakit.


***


Hingga pagi menjelang, Hana belum juga sadarkan diri. Donor darah yang dikirim pun telah sampai sejak semalam. Mereka sudah memberikannya pada tubuh Hana tetapi belum juga merespon dan menunjukkan perubahan yang berarti.


Affan tidak pergi ke kantor hari ini. Dia menyerahkan semua pekerjaan pada Bimo dan Hendro. Baginya, Aira lebih penting dari pekerjaannya.


'Aku tidak ingin mengulang kesalahanku dua kali dengan mengabaikan orang yang kusayangi demi pekerjaan. Cukup sekali aku kehilangan seorang istri. Semoga Aira menjadi pelabuhan terakhirku yang akan menemaniku hingga akhir hayat.' Affan bermonolog dalam hati sambil terus memandangi wajah Aira yang sedang berbenah.


Setelah minum obat penghilang rasa nyeri, dia bisa menggerakkan salah satu tangannya dengan hati-hati. Untuk mengelap wajah dan bagian-bagian tertentu di tubuhnya, dia tidak ingin dibantu siapapun. Affan mengerti karena Aira memang sangat pemalu. Dia berdiri memunggunginya agar Aira tidak malu.


"Sayang, kamu ingin memakan makanan lain tidak?" tanya Affan.


Makanan rumah sakit kadang terasa hambar. Affan tidak tega jika Aira memakan itu-itu saja. Dia ingin meminta seseorang untuk membawakannya jika Aira menginginkan sesuatu.


"Tidak usah, Mas. Aku suka makanan dari rumah sakit. Kalau mas mau sarapan dulu, aku gak apa-apa ditinggal." Aira berpikir jika Affan sedang lapar saat ini.


"Aku belum lapar, Sayang. Aku takut kamu tidak berani mengatakannya padaku jika menginginkan sesuatu." Affan berbicara masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Aira menghentikan kegiatannya karena teringat akan sesuatu.


****

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2