
Amanda berjalan menghampiri Aira. Dia berharap bisa memprovokasinya agar merasa iba.
Rasa iri telah menggerogoti hatinya dan membuatnya merasa tidak rela jika Aira bahagia hidup bersama Affan
"Aira, apakah kamu tega membiarkan anak ini hidup tanpa seorang ayah. Tidak masalah jika Affan tidak menceraikanmu asal dia bisa berlaku adil."
Semua mata menatap mereka berdua. Suasana menjadi semakin tegang.
Aira tidak bisa berkata-kata. Posisinya serba salah. Masalah ini tidak mudah untuknya.
Faya melepaskan tangannya yang semula menggenggam tangan Aira. Jiwa mudanya bergelora saat melihat ibu sambungnya diintimidasi oleh keadaan.
"Tante Amanda, aku yakin seratus persen jika anak itu bukanlah milik ayah. Sebuah foto tidak cukup menjadi bukti akan sebuah hubungan. Jaman sudah berubah dan teknologi sangat canggih, bisa saja foto itu palsu dan hanya editan." Faya berbicara dengan lantang.
Semua orang tercengang mendengar ucapannya. Mereka sependapat dengan Faya. Namun, ada juga yang memihak Amanda.
Wajah Amanda terlihat pias. Meskipun tuduhan Faya cukup beralasan tetapi dia tidak ingin kalah secepat ini.
"Apa yang kamu katakan, Faya? Aku dan ayahmu sudah bersahabat sejak SMA banyak hal yang sudah kami lewati bersama. Ibumu juga tahu tentang ini." Amanda menangis sejadi-jadinya.
Seorang karyawan wanita dari divisi yang sama dengan Amanda datang menghampirinya. Dia menunjukkan kepeduliannya dengan mendampingi Amanda.
Di sudut lain Affan sedang mengirim pesan pada Bimo agar memberi kesaksian tentang masalah ini. Selain tangan kanannya, dia juga orang terdekatnya yang mengetahui dengan pasti bagaimana dia menggunakan waktunya.
Bimo yang sedang menyambut tamu di pintu masuk segera berlari mendekati Affan. Pesan dari boss sekaligus sahabatnya itu membuatnya tidak tenang. Selama ini dia tahu bahwa Amanda sangat licik dan beberapa kali berusaha menjebak Affan.
"Boss!" seru Bimo dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
__ADS_1
"Amanda menuduhku telah menghamilinya."
Kalimat singkat itu sudah cukup jelas bagi Bimo. Tidak ingin bertanya lebih jauh lagi dia menunduk dan memunguti foto-foto yang disebar oleh Amanda.
Darahnya mendidih melihat gambar tidak pantas ditangannya. Tangannya mencengkeram foto itu dengan kuat lalu melepaskannya dengan bentuk yang tidak beraturan.
"Katakan sekali lagi jika itu adalah anak Pak Affan, Amanda!" pekik Bimo. Sorot matanya yang tajam terlihat begitu menakutkan.
Ruangan mendadak senyap. Mereka tahu siapa Bimo. Di luar pekerjaannya dia adalah orang yang jujur dan memiliki banyak relasi dengan orang-orang penting di negara ini.
Amanda menunduk. Bola matanya bergerak-gerak menandakan dirinya sedang gugup. Melawan Bimo sama halnya menggali liang kuburnya sendiri.
"Aku mengandung anak Affan." Mundur hanya akan membuatnya hancur. Sama-sama hancur dirinya memilih untuk maju dengan seluruh kebohongannya.
"Oh, iya. Kapan kalian bertemu dan melakukan hubungan? Dua puluh empat jam sehari Pak Affan selalu menghibungiku. Bahkan ponsel beliau juga sering aku pegang. Dan satu hal lagi, dia tidak pernah menyimpan nomor ponselmu."
Amanda tidak menjawab.
Aira berjalan mendekati Amanda. Hati kecilnya merasa iba meskipun dia tidak menyukai kejahatan yang dilakukan olehnya.
"Mbak Manda, jangan mempermalukan dirimu dengan memfitnah, Mas Affan. Aku tahu penderitaan seorang wanita yang hamil tanpa suami, jangan menambah penderitaanmu dengan penyesalan setelah menyakiti orang lain."
Affan mendekati Aira dan menyentuh bahunya. Dadanya terasa sesak melihat pesta yang hancur karena ulah Amanda.
"Tahu apa kamu dengan penderitaan. Aku telah menyelidiki kalian yang menikah karena paksaan. Setidaknya aku lebih baik darimu. Kamu hanya manfaatkan Affan untuk menjadi sumber uangmu. Mungkin kamu juga tidak akan pernah bisa hamil karena tidak menghalalkan tubuhmu untuknya." Bukannya menyesali perbuatannya, Amanda malah menyerang Aira dengan kata-katanya yang menyakitkan.
Affan merasa sangat geram. Untuk kali ini dia tidak bisa menahan dirinya lagi. Harga dirinya sebagai seorang lelaki terasa diinjak jika dia diam saja.
__ADS_1
"Sepertinya kamu sangat ingin tahu urusan orang, Amanda. Baiklah aku katakan yang sebenarnya."
Affan menatap Aira seolah meminta persetujuan untuk mengatakan awal pernikahan mereka.
Aira mengangguk pelan. Dia ikhlas cerita kelam yang dialaminya diketahui oleh dunia.
Affan menceritakan secara sekilas dengan pernikahan paksa yang dialaminya. Kesalahpahaman dan rekayasa yang dilakukan oleh mantan tunangan Aira membuat mereka terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Seiring berjalannya waktu mereka saling menerima dan menjalankan kehidupan sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya. Di akhir ceritanya, Affan memberikan kabar gembira yang menyatakan bahwa istri kecilnya itu sedang mengandung anaknya.
Keadaan berbalik. Niat hati ingin membuat Aira hancur tetapi yang terjadi hati Amandalah yang lebur. Tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan Affan karena dipastikan hatinya tidak akan berpaling dari Aira.
Merasa sangat malu, Amanda berbalik dan melangkah pergi dengan cepat. Bimo mencengkeram tangannya dengan kuat. Dia tidak bisa membiarkannya pergi setelah apa yang dilakukannya.
"Lepaskan aku," ucap Amanda dengan suaranya yang parau.
"Tidak akan!" seru Bimo.
"Biarkan dia pergi!" seru Aira.
Rasa malu yang dirasakan oleh Amanda sudah menjadi hukuman yang lebih dari cukup. Bisa jadi setelah ini dia akan mengalami gangguan psikologis akibat dari ulahnya sendiri.
****
Bersambung ....
Kak numpang promo novel karya temanku, ya. Semoga berkenan mampir, terimakasih.
__ADS_1