Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 83. Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

Akhirnya Hana menekan rasa malunya dan mengambil amplop dari Aira. Seketika dia sadar bahwa dirinya memang keliru. Tidak seharusnya dia mengganggu orang sebaik Affan dan Aira.


Sudah beberapa kali Aira menjadi pembalik hati orang-orang yang berniat buruk padanya. Segala kebaikan yang diberikannya mendapatkan balasan yang sama meskipun pada awalnya mereka bermusuhan.


"Terimakasih dan maafkan aku. Aku merasa salut padamu." Hana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dari awal mereka bertemu Aira memang selalu baik padanya.


"Aku sudah memaafkanmu." Aira menepuk bahu Hana.


Di luar ruangan Affan terdengar suara ribut-ribut. Hendro dan Affan segera berlari keluar untuk melihatnya sementara Aira dan Hana tetap di dalam. Mereka yang baru saja berbaikan terlihat ketakutan mengingat terdengar suara tembakan dan jeritan begitu keras.


"Sepertinya sedang terdengar baku tembak di luar, Nyonya. Aku merasa sedang berada dalam adegan film bertema mafia." Hana masih sempat-sempatnya bercanda untuk menurunkan ketegangan.


"Mari berdoa untuk keselamatan kita, Hana." Aira terus merapalkan doa sambil menunggu Affan kembali


Brakk!


Suara pintu dibuka paksa dari luar membuat Aira dan Hana tersentak.


Seseorang masuk dan melemparkan sebuah guci kecil ke arah Aira. Kejadiannya begitu cepat dan tidak terduga membuat Hana tidak sempat menghindar. Namun, Hana mengorbankan dirinya untuk menjadi tameng bagi Aira.


Guci kecil yang terlempar menghantam punggung Hana dengan sangat keras dan membuatnya pecah menjadi berkeping-keping. Benturan keras itu membuat kesadaran Hana menghilang. Tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai.


Pecahan guci yang sangat runcing menancap di dadanya ketika tubuhnya roboh.

__ADS_1


"Hana!" pekik Aira ketakutan.


Tubuhnya menggigil ketakutan saat melihat darah mengucur dari tubuh Hana. Di depan pintu sudah ada polisi, Affan dan Hendro yang menyaksikan kejadian ini. Orang yang bermaksud menyerang Aira adalah Sintya.


Dia berusaha lari dari kejaran polisi dan pergi ke kantor Affan. Saat dalam keadaan panik, Sintya masih sempat-sempatnya berpikir untuk menjebak Affan. Namun, saat dia sampai di ruangannya yang ada adalah Aira dan seorang wanita.


"Jangan bergerak!" seru polisi yang melihat Sintya bersembunyi di balik meja.


Gerakannya begitu leluasa dan dengan cepat berputar di belakang Aira. Sintya mengambil pecahan guci yang sangat runcing dan menggunakannya sebagai senjata. Dia menyandra Aira yang masih syok dengan kejadian yang menimpa Hana.


"Jangan gila, Sintya! Kamu tidak bisa melukai Aira. Hukumanmu akan semakin berat jika kamu menambah kesalahanmu." Affan terlihat panik memikirkan nasib Aira. Rasanya sulit untuk menyelamatkan istrinya saat ini.


Hana yang terluka juga terus mengeluarkan darah dan menggenang di lantai. Jika tidak segera ditangani maka nyawanya juga akan berada di dalam bahaya.


Polisi bergerak mendekat untuk menyelamatkan Aira.


Tidak ada gunanya dia terus berada di dalam ruangan itu. Sebisa mungkin dia harus memanfaatkan Aira untuk membantunya kabur.


"Menurutlah, Aira. Bawa aku keluar dari tempat ini atau aku akan menancapkan ini di lehermu," ancam Sintya


Aira mengangguk pasrah dengan tubuhnya yang gemetar.


'Ya, Allah lindungilah aku dan anakku dari wanita jahat ini. Tidak ada yang bisa menyelamatkanku selain pertolongan dari-Mu.' Aira berdoa dalam hati saat Sintya membawanya bergerak meninggalkan ruangan itu

__ADS_1


Suasana terlihat sangat tegang saat Sintya terus menyeret tubuh Aira keluar dari ruangan Affan. Polisi, Affan dan Hendro terpaksa memberinya jalan mengingat Aira masih menjadi sandera.


"Jangan khawatir, Tuan. Kami memiliki pasukan cadangan yang menyamar," bisik salah seorang polisi yang mengejar Sintya.


Sintya merasa sedikit lega ketika melihat wajah Affan begitu sedih menatap kepergian Aira yang menjadi tawanannya. Dengan kejam Sintya menyeret tubuh Aira agar berjalan lebih cepat


Dorr!


Sebuah tembakan terdengar nyaring di telinga Aira karena jaraknya yang begitu dekat dengannya. Tangannya reflek menyentuh dadanya berpikir tembakan itu nyasar ke tubuhnya. Ternyata dia salah. Tembakan itu melukai salah satu kaki Sintya.


Sintya meringis kesakitan tetapi dia tetap bertahan. Dengan sisa-sisa kekuatannya dia mewujudkan ancamannya dan menancapkan pecahan guci ke leher Aira. Namun, seorang polisi datang dan segera menarik tubuh Aira.


Sayangnya dia terlambat. Pecahan guci berhasil mengenai Aira dan melukai bagu kirinya. Polisi kembali memberikan tembakan pada Sintya dan melumpuhkan kedua kakinya.


"Terimakasih, Pak," ucap Aira sambil berusaha melepaskan diri dari polisi yang menolongnya.


Dia tidak biasa berdekatan dengan seorang pria. Tangan kiri Aira menekan dengan kuat bahu kanannya yang terluka untuk mengurangi darah yang keluar dari sana. Hatinya merasa sedikit tenang saat para polisi berhasil membawa Sintya pergi dari sana.


"Aira, apakah kamu baik-baik saja?" Affan berlari mendekati Aira dan melihat wajah istrinya pucat karena menahan rasa sakit.


"Hana, Mas. Tolong selamatkan Hana." Aira tidak peduli dengan lukanya dan teringat akan keadaan Hana.


Hendro rupanya telah mengambil tindakan. Dia bersama seorang polisi membawa Hana keluar dari ruangan Affan dengan tergesa.

__ADS_1


****


Bersambung ....


__ADS_2