Terpaut 20 Tahun

Terpaut 20 Tahun
Bab 50. Minta Debay


__ADS_3

Affan membawa beberapa pekerjaan ke rumah mengingat waktu syukuran yang semakin dekat. Dia ingin satu hari sebelum dan setelah hari H benar-benar bebas dari pekerjaannya.


Malam ini dirinya belum tidur hingga larut malam. Sudah pukul sepuluh malam tetapi Affan belum juga tidur.


Aira berjalan memasuki kamar dengan langkah yang pelan. Dia baru saja selesai melihat drama di laptop Faya.


Di kamar mereka sudah ada sebuah teko dan gelas. Aira menuangnya lalu membawanya ke hadapan Affan.


"Minumlah, Mas." Aira memberikan air minum itu pada Affan.


Affan menatap Aira sambil tersenyum. Perhatian kecil darinya membuatnya merasa dihargai sebagai seorang pria.


"Terimakasih, Sayang."


Affan menerimanya lalu meneguknya.


"Apakah Faya sudah tidur?" tanya Affan berbasa-basi karena tidak ingin Aira pergi.


"Aku rasa sudah, Mas. Sejak tadi dia terus menguap, sayangnya film yang kami tonton terlalu seru untuk dilewatkan."


"Sekarang kamu istirahatlah. Aku kan menyusulmu sebentar lagi." Affan memberikan tatapan berbeda pada Aira.


'Mas Affan tidak akan beristirahat jika aku tidak menggodanya. Sudah lama kami tidak melakukannya lagi. Sekarang tidak ada lagi hal yang perlu aku takutkan.' Aira memeluk Affan dari belakang lalu mencium pipinya.

__ADS_1


Affan tidak banyak bergerak dan menikmati pelukan Aira. Jiwa kelelakiannya bangkit dan menuntutnya untuk meminta hal yang lebih. Sejak malam itu mereka sudah melakukannya hingga beberapa kali.


Tangan Affan memegang tangan Aira dan menciuminya hingga beberapa kali. Affan menuntun tangan itu untuk mengikutinya.


Aira mematuhinya tanpa berkata apapun. Kini dia berdiri di samping Affan dan membalas tatapannya.


Affan menarik tubuhnya dan membuatnya duduk di pangkuannya dengan posisi memunggunginya.


Kursi yang mereka duduki menjadi saksi bahwa malam itu mereka tengah merajut kasih hingga membuat Affan melupakan pekerjaannya.


Malam itu keduanya mengulang momen manis itu hingga mereka sama-sama lelah.


***


Pagi hari,


"Baik, Mas. Aku akan bersiap sebelum Mas Affan pulang."


"Hati-hati di rumah. Aku berangkat dulu." Affan mengecup kening Aira sekilas setelah istrinya itu menyalaminya.


Aira mengangguk sambil tersenyum.


Hari ini Faya sedang pergi berolahraga ke taman Kompleks bersama salah satu ART-nya. Semenjak kejadian buruk menimpa Aira tempo hari, dia tidak berani mengajaknya berjalan-jalan keluar rumah tanpa sang ayah.

__ADS_1


Affan berpapasan dengan Faya di depan pintu gerbang dan berpamitan dengan putrinya. Mereka tidak banyak mengobrol dan langsung kembali ke tujuan masing-masing.


Melihat kedatangan Faya, Aira pun menunggunya. Dia sengaja tidak masuk ke dalam rumah setelah kepergian Affan.


"Pagi, Ma. Aku lihat wajah mama kog pucet. Mama sakit, ya?" tanya Faya terus mengamati wajah Aira tanpa berkedip.


"Ti-tidak, Faya. Aku baik-baik saja. Mungkin perasaan kamu saja," sanggah Aira.


Aira berpikir jika wajahnya pucat karena semalam kurang tidur dan entah jam berapa dia selesai dengan tugasnya sebagai seorang istri.


Tidak ingin ambil pusing, Faya pun tidak bertanya lagi dan memakluminya. Dia hanya ingin menunjukkan perhatiannya pada ibu sambungnya itu.


"Ya, sudah, Ma. Banyak-banyak istirahat. Bilang sama ayah jangan sering-sering mengajak bergadang biar mama fit and aku cepet dapat adik baru. Ah, so sweet ... aku tidak sabar menunggu waktu itu tiba." Faya menunjukkan sikap gemasnya di depan Aira.


"Kamu membuatku malu saja." Aira tersipu lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Faya.


Faya masih terus berceloteh menggoda Aira sambil berjalan mengikuti kemana langkahnya pergi.


Neti yang menemani Faya pergi pun ikut tersenyum melihat polah tingkah kedua majikannya.


***


Bersambung ....

__ADS_1


Mampir di novel karya temanku ya kak. Terimakasih.



__ADS_2